Usai sudah acara talkshow yang dilaksanakan oleh PAC IPPNU
Banyuwangi siang tadi. Beberapa hari yang lalu Fitria sempat DM saya via
Instagram. Dia menanyakan apakah saya kosong di tanggal 24 April. Saya ingat
kalau tanggal itu adalah tanggal merah karena peringatan Isra’ Mi’raj. Saya
jawab sepertinya kosong, pikir saya akan diajak kegiatan isra’ mi’raj. Tapi
ternyata saya diminta untuk jadi moderator talkshow bertajuk “Perempuan Untuk
Peradaban”. Seketika saya langsung mengiyakan ketika tahu bahwa narasumbernya
adalah Ning Nia, Bu Fat dan Kak Iraa. Nggak tahu, saya merasa rugi aja kalau
sampai tidak hadir bersama mereka.
Hari ini pun tiba. Saya berangkat pukul 08.00 dari rumah,
diantar the most handsome man in the world, Bapak saya. Sampai di PCNU sudah
banyak peserta yang ngerubung di parkiran. Bapak saya bilang, “Wes akeh arek
ngono.” Saya segera turun dari boncengan, salim ke Bapak, cium Fahri yang tadi
ikut mengantar saya, lalu menyebrang jalan. Saya langsung ke atas, ke aula. Dan
alangkah kagetnya saya ketika sudah banyak peserta yang datang.
Saya menemui Fitria, wajahnya sumringah. Kemarin saya
sempat ke rumahnya untuk membahas konsep acara. Dia sempat mengkhawatirkan
jumlah peserta yang nanti akan hadir. Kekhawatiran yang selalu melanda dalam
tiap kegiatan organisasi. Namun, segala kekhawatirannya tersingkir sudah. Jumlah
peserta yang hadir diluar perkiraan. Bahkan panitia sampai harus menyiapkan
konsumsi tambahan karena jumlah peserta yang membludak.
Sekarang, giliran saya yang khawatir. Nggak tahu, saya
selalu seperti ini. Kalau sudah hari H baru saya nderedeg nggak jelas. Sampai semalam, saya masih oke-oke saja.
Melihat antusias peserta tadi pagi lumayan membuat lutut saya lemas. Sampai
akhirnya datang Kak Iraa, yang lumayan membuat nderedeg saya berkurang. Kami ngobrol sambil Kak Iraa memamerkan
koleksi bukunya yang pagi tadi beliau bawa. Ah, Kak Iraa selalu membuat saya
merasa tidak terintimidasi dengan pengetahuannya yang jempolan. Kemampuan
rendah hatinya juara.
Tidak lama kemudian datang Ning Nia. Saya yang memang
sama sekali belum kenal beliau, mencoba untuk berkomunikasi. Saya tahu sedikit
tentang aktivis beliau dari Fitria. Semalam saya minta Fitria cerita sedikit
tentang Ning. Yah, biar saya nggak buta-buta amat, lah.
Lalu, giliran Bu Fatma. Beliau datang agak lama dari dua
narasumber yang lain. Beda dengan Ning Nia, meskipun saya belum mengenal Bu Fat
secara personal, namun saya telah mengetahui bagaimana sepak terjang Bu Fat
dalam dunia pendidikan. Beliau menginspirasi banyak wanita Banyuwangi.
Tema acara ini menarik, yakni “Perempuan Untuk Peradaban”.
Dalam dunia patriarki, perempuan telah ditentukan masa depannya. Dari kecil
hingga dewasa, ia diarahkan untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu. Tugasnya
jelas, mengurus suami, anak, dan urusan domestik. Perempuan akan lebih dihargai
apabila ia pandai memasak, daripada menulis jurnal-jurnal akademik. Ia akan
dicintai oleh keluarga karena membahagiakan ayah dan suami dengan tidak
membangkang. Ia akan dikagumi karena kepura-puraan tingkah laku yang anggun dan
pribadi yang halus. Perempuan dinarasikan sebagai sosok yang bungkam, tak dapat
bicara, dan tak bisa berpendapat. Ia layaknya properti yang harus disimpan
dengan baik. Pikiran dan tubuhnya harus dijaga agar tidak menjadi pembangkang.
Begitulah logika patriarki bekerja. Perempuan terkurung dalam pelabelan. Tak ada
kesetaraan dan keadilan gender.
Dalam perempuan dan agama, Ning Nia menjelaskan banyak
hal. Gender bukan sekedar perbedaan kelamin. Gender merupakan konsep yang
memandang laki-laki dan perempuan dari sisi peran, fungsi, hak, kewajiban serta
tanggungjawab dalam masyarakat. Allah menciptakan segala sesuatu
berpasang-pasangan. Siang malam, matahari bulan, bumi langit, laki-laki
perempuan. Semua itu menjadi tanda kebesaran Allah bagi hambaNya yang pandai
berfikir. Mereka diciptakan agar mampu melengkapi satu sama lain. Atas dasar
itulah Allah membedakan derajat manusia tidak dari jenis kelaminnya, melainkan
atas dasar taqwanya. Islam sangat memuliakan perempuan. Kedudukan mereka
sungguh istimewa. Saat jadi anak, ia membukakan pintu surga bagi kedua
orangtuanya. Saat jadi istri, ia menyempurnakan separuh agama suaminya. Dan saat
jadi ibu, surga ada dibawah telapak kakinya.
Dalam Islam sendiri masalah gender sejak 15 abad yang
lalu, Islam telah menghapuskan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dan
memberikan posisi serta kedudukan kepada kaum laki-laki dan perempuan. Karena pada
dasarnya laki-laki dan perempuan itu sama, seperti dalam surat An-Nisa ayat
pertama.
Ada sahabat Rasul dari kalangan perempuan yang patut kita
jadikan tauladan. Saya lupa waktu itu Ning Nia mencontohkan siapa. Yang jelas,
sahabat Rasul itu ikut ke medan pertempuran dan menjadi relawan kesehatan bagi
sahabat-sahabat Rasul lainnya yang terluka. Semoga beliau adalah Rufaidah binti
Sa’ad. Kita tahu bahwa pada zaman dahulu perang adalah sesuatu yang luar biasa,
karena terjadi secara face to face. Menjadi
perawat bukan tugas yang mudah pada saat itu. Beliau (sahabat perempuan Rasul)
harus berlari ke tengah medan pertempuran untuk membawa korban yang terluka ke
pinggir. Zaman sekarang pekerjaan seperti itu banyak dilakukan oleh laki-laki
dengan bantuan ambulance.
Perempuan menurut Islam diperbolehkan untuk aktif dengan
tetap memperhatikan kepantasan dan kepatutan. Laki-laki dan perempuan secara
bersama memegang peranan penting dalam segala segi kehidupan, tidak ada yang
paling super, karena memang demikian Islam menggariskan.
Dalam perempuan dan pendidikan sosial, Bu Fat menjelaskan
apa sih sebenarnya pendidikan itu? Bagaimana efek yang diberikan akibat
pendidikan? Mengutip pendapat Plato bahwa pendidikan itu adalah pembebasan. Pembebasan
dari ketidaktahuan, ketidakbenaran dan pendidikan merupakan pembaharuan untuk
membentuk manusia yang utuh. Bu Fat banyak bercerita tentang kisah hidupnya
sebagai pendidik dari anak-anak dengan berkebutuhan khusus. Saya heran
bagaimana bisa ada perempuan dengan hati yang mulia seperti Bu Fat. Pesan Bu
Fat dalam acara talkshow kemarin adalah, jangan pernah meremehkan apapun yang
kecil. Bu Fat juga membagikan rumus kehidupan bagi para peserta talkshow,
yakni: Aku sopo? Kowe sopo? Aku kon
ngopo? Itu adalah falsafah Jawa yang artinya Saya siapa? Kamu siapa? Saya
harus bagaimana? Bu Fat juga mengingatkan agar kita selalu melakukan
renungan/muhasabah agar kita menjadi pendidik yang lebih baik lagi.
Dalam perempuan dan media, Kak Iraa adalah pilihan yang
tepat. Kak Iraa adalah salah satu orang yang sempat saya ajukan untuk jadi
narasumber dalam acara “Perempuan di Era Kekinian” di Untag kemarin. Kak Iraa
menjelaskan stereotipe-stereotipe yang melekat pada perempuan. Bahwa perempuan
itu rapuh, mudah menangis, baperan, tidak mandiri. Perempuan juga selalu diidentifikasi
pada ranah rumah tangga.
Ada satu percakapan antara Kak Iraa dan entah siapa yang
sangat saya suka. Kemarin dipaparkan oleh Kak Iraa.
"Teteh....apakah Islam mengenal
emansipasi?", dia tersenyum
" Islam tidak mengenal emansipasi Mbak Ira.
Karena Islam telah mengatur detail hak dan kewajiban dari laki-laki dan
perempuan.
Emansipasi
adalah sebuah pemikiran dari sebuah golongan yang dipaksakan secara general
pada semua golongan terutama perempuan Islam. Hanya Islam yang memuliakan
perempuan. Bayangkan jika berbicara kesetaraan. Tidak ada cuti hamil untuk
perempuan. Mempunyai peran ganda sebagai penanggung jawab keluarga yang membuat
suami juga melupakan peran mereka. Itu hanya bagian kecil Mbak........“
"Lalu kartini......?"
"Dia hanya 'korban' sebuah konspirasi.
Seandainya Kartini tidak mati muda. Seandainya Kartini masih meneruskan
kajiannya tentang Al-Quran. Seandainya dia menuliskan juga bagian pemikran dia
tentang Islam. Dia pasti sama dengan tokoh-tokoh yang Mbak Ira sebutkan.
Kartini hanya butuh persamaan untuk akses pendidikan dan informasi di jamannya.
Bukan untuk melupaakn kodrat sebagai perempuan"
"Kodrat sebagai perempuan"
"Iya...Kodrat sebagai perempuan. Istri dari
suaminya dan ibu dari anak-anaknya“ Bukan hanya bicara emansipasi tapi juga inspirasi.
Dari percakapan itu, ada salah
satu pintu dalam pikiran saya yang seakan terbuka. Pintu yang selama ini
tertutup dan mungkin gagang pintunya sudah karatan.
Terlahir menjadi perempuan
merupakan keistimewaan. Perempuan harus ‘cantik’, baik akal maupun budinya. Perempuan
harus berpendidikan, karena ia adalah pendidik generasi terbaik yang paling
baik, dan ia adalah sekolah pertama bagi anak-anak mereka. Perempuan sekolah
tinggi bukan untuk menyaingi para lelaki, tetapi membangu generasi.
Saya mengucapkan banyak
terimakasih kepada PAC IPPNU Banyuwangi atas kesempatan yang diberikan kepada
saya untuk belajar lagi. Kalian adalah perempuan-perempuan hebat yang Tuhan
kirim agar saya senantiasa berkaca. Sekali lagi terimakasih Fitria dan
kawan-kawan. Semoga segala sesuatu yang telah kita kerjakan menjadi manfaat dan
tentunya barokah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar