Selasa, 25 April 2017

Talkshow: Perempuan Untuk Peradaban

Usai sudah acara talkshow yang dilaksanakan oleh PAC IPPNU Banyuwangi siang tadi. Beberapa hari yang lalu Fitria sempat DM saya via Instagram. Dia menanyakan apakah saya kosong di tanggal 24 April. Saya ingat kalau tanggal itu adalah tanggal merah karena peringatan Isra’ Mi’raj. Saya jawab sepertinya kosong, pikir saya akan diajak kegiatan isra’ mi’raj. Tapi ternyata saya diminta untuk jadi moderator talkshow bertajuk “Perempuan Untuk Peradaban”. Seketika saya langsung mengiyakan ketika tahu bahwa narasumbernya adalah Ning Nia, Bu Fat dan Kak Iraa. Nggak tahu, saya merasa rugi aja kalau sampai tidak hadir bersama mereka.

Hari ini pun tiba. Saya berangkat pukul 08.00 dari rumah, diantar the most handsome man in the world, Bapak saya. Sampai di PCNU sudah banyak peserta yang ngerubung di parkiran. Bapak saya bilang, “Wes akeh arek ngono.” Saya segera turun dari boncengan, salim ke Bapak, cium Fahri yang tadi ikut mengantar saya, lalu menyebrang jalan. Saya langsung ke atas, ke aula. Dan alangkah kagetnya saya ketika sudah banyak peserta yang datang.

Saya menemui Fitria, wajahnya sumringah. Kemarin saya sempat ke rumahnya untuk membahas konsep acara. Dia sempat mengkhawatirkan jumlah peserta yang nanti akan hadir. Kekhawatiran yang selalu melanda dalam tiap kegiatan organisasi. Namun, segala kekhawatirannya tersingkir sudah. Jumlah peserta yang hadir diluar perkiraan. Bahkan panitia sampai harus menyiapkan konsumsi tambahan karena jumlah peserta yang membludak.

Sekarang, giliran saya yang khawatir. Nggak tahu, saya selalu seperti ini. Kalau sudah hari H baru saya nderedeg nggak jelas. Sampai semalam, saya masih oke-oke saja. Melihat antusias peserta tadi pagi lumayan membuat lutut saya lemas. Sampai akhirnya datang Kak Iraa, yang lumayan membuat nderedeg saya berkurang. Kami ngobrol sambil Kak Iraa memamerkan koleksi bukunya yang pagi tadi beliau bawa. Ah, Kak Iraa selalu membuat saya merasa tidak terintimidasi dengan pengetahuannya yang jempolan. Kemampuan rendah hatinya juara.

Tidak lama kemudian datang Ning Nia. Saya yang memang sama sekali belum kenal beliau, mencoba untuk berkomunikasi. Saya tahu sedikit tentang aktivis beliau dari Fitria. Semalam saya minta Fitria cerita sedikit tentang Ning. Yah, biar saya nggak buta-buta amat, lah.

Lalu, giliran Bu Fatma. Beliau datang agak lama dari dua narasumber yang lain. Beda dengan Ning Nia, meskipun saya belum mengenal Bu Fat secara personal, namun saya telah mengetahui bagaimana sepak terjang Bu Fat dalam dunia pendidikan. Beliau menginspirasi banyak wanita Banyuwangi.

Tema acara ini menarik, yakni “Perempuan Untuk Peradaban”. Dalam dunia patriarki, perempuan telah ditentukan masa depannya. Dari kecil hingga dewasa, ia diarahkan untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu. Tugasnya jelas, mengurus suami, anak, dan urusan domestik. Perempuan akan lebih dihargai apabila ia pandai memasak, daripada menulis jurnal-jurnal akademik. Ia akan dicintai oleh keluarga karena membahagiakan ayah dan suami dengan tidak membangkang. Ia akan dikagumi karena kepura-puraan tingkah laku yang anggun dan pribadi yang halus. Perempuan dinarasikan sebagai sosok yang bungkam, tak dapat bicara, dan tak bisa berpendapat. Ia layaknya properti yang harus disimpan dengan baik. Pikiran dan tubuhnya harus dijaga agar tidak menjadi pembangkang. Begitulah logika patriarki bekerja. Perempuan terkurung dalam pelabelan. Tak ada kesetaraan dan keadilan gender.

Dalam perempuan dan agama, Ning Nia menjelaskan banyak hal. Gender bukan sekedar perbedaan kelamin. Gender merupakan konsep yang memandang laki-laki dan perempuan dari sisi peran, fungsi, hak, kewajiban serta tanggungjawab dalam masyarakat. Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Siang malam, matahari bulan, bumi langit, laki-laki perempuan. Semua itu menjadi tanda kebesaran Allah bagi hambaNya yang pandai berfikir. Mereka diciptakan agar mampu melengkapi satu sama lain. Atas dasar itulah Allah membedakan derajat manusia tidak dari jenis kelaminnya, melainkan atas dasar taqwanya. Islam sangat memuliakan perempuan. Kedudukan mereka sungguh istimewa. Saat jadi anak, ia membukakan pintu surga bagi kedua orangtuanya. Saat jadi istri, ia menyempurnakan separuh agama suaminya. Dan saat jadi ibu, surga ada dibawah telapak kakinya.

Dalam Islam sendiri masalah gender sejak 15 abad yang lalu, Islam telah menghapuskan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin dan memberikan posisi serta kedudukan kepada kaum laki-laki dan perempuan. Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu sama, seperti dalam surat An-Nisa ayat pertama.

Ada sahabat Rasul dari kalangan perempuan yang patut kita jadikan tauladan. Saya lupa waktu itu Ning Nia mencontohkan siapa. Yang jelas, sahabat Rasul itu ikut ke medan pertempuran dan menjadi relawan kesehatan bagi sahabat-sahabat Rasul lainnya yang terluka. Semoga beliau adalah Rufaidah binti Sa’ad. Kita tahu bahwa pada zaman dahulu perang adalah sesuatu yang luar biasa, karena terjadi secara face to face. Menjadi perawat bukan tugas yang mudah pada saat itu. Beliau (sahabat perempuan Rasul) harus berlari ke tengah medan pertempuran untuk membawa korban yang terluka ke pinggir. Zaman sekarang pekerjaan seperti itu banyak dilakukan oleh laki-laki dengan bantuan ambulance.

Perempuan menurut Islam diperbolehkan untuk aktif dengan tetap memperhatikan kepantasan dan kepatutan. Laki-laki dan perempuan secara bersama memegang peranan penting dalam segala segi kehidupan, tidak ada yang paling super, karena memang demikian Islam menggariskan.

Dalam perempuan dan pendidikan sosial, Bu Fat menjelaskan apa sih sebenarnya pendidikan itu? Bagaimana efek yang diberikan akibat pendidikan? Mengutip pendapat Plato bahwa pendidikan itu adalah pembebasan. Pembebasan dari ketidaktahuan, ketidakbenaran dan pendidikan merupakan pembaharuan untuk membentuk manusia yang utuh. Bu Fat banyak bercerita tentang kisah hidupnya sebagai pendidik dari anak-anak dengan berkebutuhan khusus. Saya heran bagaimana bisa ada perempuan dengan hati yang mulia seperti Bu Fat. Pesan Bu Fat dalam acara talkshow kemarin adalah, jangan pernah meremehkan apapun yang kecil. Bu Fat juga membagikan rumus kehidupan bagi para peserta talkshow, yakni: Aku sopo? Kowe sopo? Aku kon ngopo? Itu adalah falsafah Jawa yang artinya Saya siapa? Kamu siapa? Saya harus bagaimana? Bu Fat juga mengingatkan agar kita selalu melakukan renungan/muhasabah agar kita menjadi pendidik yang lebih baik lagi.

Dalam perempuan dan media, Kak Iraa adalah pilihan yang tepat. Kak Iraa adalah salah satu orang yang sempat saya ajukan untuk jadi narasumber dalam acara “Perempuan di Era Kekinian” di Untag kemarin. Kak Iraa menjelaskan stereotipe-stereotipe yang melekat pada perempuan. Bahwa perempuan itu rapuh, mudah menangis, baperan, tidak mandiri. Perempuan juga selalu diidentifikasi pada ranah rumah tangga.

Ada satu percakapan antara Kak Iraa dan entah siapa yang sangat saya suka. Kemarin dipaparkan oleh Kak Iraa.

"Teteh....apakah Islam mengenal emansipasi?", dia tersenyum
" Islam tidak mengenal emansipasi Mbak Ira. Karena Islam telah mengatur detail hak dan kewajiban dari laki-laki dan perempuan.
 Emansipasi adalah sebuah pemikiran dari sebuah golongan yang dipaksakan secara general pada semua golongan terutama perempuan Islam. Hanya Islam yang memuliakan perempuan. Bayangkan jika berbicara kesetaraan. Tidak ada cuti hamil untuk perempuan. Mempunyai peran ganda sebagai penanggung jawab keluarga yang membuat suami juga melupakan peran mereka. Itu hanya bagian kecil Mbak........“
"Lalu kartini......?"
"Dia hanya 'korban' sebuah konspirasi. Seandainya Kartini tidak mati muda. Seandainya Kartini masih meneruskan kajiannya tentang Al-Quran. Seandainya dia menuliskan juga bagian pemikran dia tentang Islam. Dia pasti sama dengan tokoh-tokoh yang Mbak Ira sebutkan. Kartini hanya butuh persamaan untuk akses pendidikan dan informasi di jamannya. Bukan untuk melupaakn kodrat sebagai perempuan"
"Kodrat sebagai perempuan"
"Iya...Kodrat sebagai perempuan. Istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya“ Bukan hanya bicara emansipasi tapi juga inspirasi.

Dari percakapan itu, ada salah satu pintu dalam pikiran saya yang seakan terbuka. Pintu yang selama ini tertutup dan mungkin gagang pintunya sudah karatan.

Terlahir menjadi perempuan merupakan keistimewaan. Perempuan harus ‘cantik’, baik akal maupun budinya. Perempuan harus berpendidikan, karena ia adalah pendidik generasi terbaik yang paling baik, dan ia adalah sekolah pertama bagi anak-anak mereka. Perempuan sekolah tinggi bukan untuk menyaingi para lelaki, tetapi membangu generasi.

Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada PAC IPPNU Banyuwangi atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk belajar lagi. Kalian adalah perempuan-perempuan hebat yang Tuhan kirim agar saya senantiasa berkaca. Sekali lagi terimakasih Fitria dan kawan-kawan. Semoga segala sesuatu yang telah kita kerjakan menjadi manfaat dan tentunya barokah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar