Dalam hidup, kita senantiasa dihadapkan pada berbagai
macam karakter manusia. Berupa-rupa sifat manusia bertebaran di muka bumi ini. Dari
yang keras kepala, hingga sabar luar biasa. Semuanya ada. Semuanya tersedia.
Kita tidak bisa menentukan bagaimana seseorang harus
bersikap. Kita tidak bisa menyuruh seseorang harus bersikap seperti yang kita
kehendaki. Hidup tidak berjalan seperti itu. Manusia dengan segala sifatnya menghiasi
bumi ini seperti pelangi. Tersusun dari warna-warna yang berbeda, namun indah.
Saya telah bertemu dengan macam-macam watak manusia
melalui sebuah hubungan bernama teman. Mereka tak hanya memberi pelajaran, lebih
dari itu, mereka memberi pemahaman, mereka mendewasakan.
Kita harus paham bahwa hidup tidak selalu tentang
memberi, tidak selalu tentang mencintai, tidak selalu tentang mendengarkan,
tidak selalu tentang melihat, tidak selalu tentang membenci. Ada saatnya kita
berada pada posisi diberi, dicintai, didengarkan, dilihat dan dibenci. Because, everything has two side.
Mungkin selama ini kita biasa di dengarkan, hingga kita
lupa, kita juga butuh mendengarkan. Kita lupa, karena terlalu sering di
dengarkan, akhirnya kita egois. Karena terlalu sering di dengarkan kita menjadi
manusia yang tak peka. Karena terlalu sering di dengarkan kita menjadi manusia
yang menganggap remeh segala hal. Ada saat dimana kita harus mendengarkan. Jangan
maunya hanya di dengarkan saja. Dengan mendengarkan, kita akan tahu hal-hal
yang sebelumnya tidak kita tahu. Bukankah itu gunanya kenapa Tuhan menciptakan
satu mulut dan dua telinga? Agar kita lebih banyak mendengarkan daripada di
dengarkan.
Mungkin selama ini kita biasa mencintai, hingga kita
lupa, kita juga berhak untuk dicintai. Kita lupa, karena terlalu dalam
mencintai, kita jadi tak mencintai diri kita sendiri. Untuk apa kita mencintai
namun kita tidak dicintai? Bukankah hanya sakit dan lelah yang akan kita
terima?
Kita habiskan waktu untuk membenci manusia-manusia lain. Tidakkah
kita sadar bahwa suatu hari nanti kita juga akan dibenci? Terlalu berharga
waktu yang kita buang hanya untuk membenci orang yang telah melukai kita. Bukankah
hal itu hanya akan membuat pekat hati? Kita tidak bisa jadi bijak dan dewasa
dengan hati yang pekat.
Hal-hal sepele yang sering kita sepelekan. Hidup itu
terus berputar. Jika hari ini kita dibawah, suatu saat pasti kita diatas. Jika kita
diatas, suatu saat nanti pasti kita akan jatuh kebawah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar