Rabu pertama Bulan November.
Gusti, sudah stadium berapa sebenarnya?
Stadium berapa penyakit lupaku ini?
Pagi ini aku lagi-lagi membuat kegaduhan dirumah.
Aku kehilangan proposalku.
Proposal kegiatan seminar yang sebantar lagi akan dilakukan.
Where are you?
Seingatku, semalam setelah ketua panitia menandatangani proposal itu aku memasukkannya ke dalam tasku. Ya, aku sudah memasukkannya, lalu pulang kerumah.
Aku mencoba mengingat-ingat semua kegiatan yang aku lakukan setelah sampai dirumah.
Seingatku juga aku tidak mengeluarkan apapun dari tas ranselku itu selain dompet.
Jadilah aku pagi ini panik luar biasa. Membongkar tumpukan diktat yang menurutku tidak mungkin ada disana. Mengeluarkan segala isi tas dan memeriksa map transparan secara teliti.
Duh, saat seperti ini tidak mungkin lagi aku bisa teliti dan hati-hati.
Hanya panik dan panik yang terus menyerangku.
Ditambah handphone yang selalu bergetar tanda sms masuk.
Temanku sudah menungguku di kampus.
Ayolah proposal, kamu dimana?
Ibuku yang sedari tadi aku jejal dengan pertanyaan tentang tahu tidaknya beliau perihal proposal itu, hanya melihatku dengan prihatin.
Mungkin beliau sudah lelah dengan sifat cerobohku ini.
Saat panik seperti ini aku teringat kata-kata mentorku di MKMB.
Aku mencoba mempraktikannya.
Aku duduk di bibir ranjang dan menghela nafas panjang.
Mencoba menetralkan emosi yang sedang dipuncak.
Aku diam sejenak.
Sudah payah aku mencarinya kemana-mana.
Lalu mataku tertuju pada sebuah laci dihadapanku.
Disanakah?
Perasaan aku tidak memasukkannya ke laci itu.
Aku berdiri dan membuka laci itu perlahan.
Benar saja.
Proposal bersampul biru muda itu tergolek santai di dalam.
Gustiii, kan aku sendiri semalam yang meletakkanya disana untuk menghindari kelungsetan.
Kenapa aku jadi pelupa seperti ini?
Ketika awal saja semua berantakan seperti ini. Pasti akan terus menular pada kejadian-kejadian selanjutnya.
Setelah proposal itu kumasukkan dalam tas aku segera berangkat ke kampus.
Ketika motor sudah hampir sampai gerbang rumah, aku merasakan kepalaku ringan sekali.
Astaghfirullah. My helmet.
Aku buru-buru masuk lagi kedalam rumah dan mengambil helm-ku.
Sebelum kejadian proposal hilang itu pun aku sudah mengalami kejadian annoying lainnya.
Pagi tadi, tanganku ketumpahan air panas ketika akan menyeduh susu coklat.
Huaaaa sakitnya itu dimana-mana. Dan akhirnya jemari kecilku ini memerah.
Oh God, thanks for the wonderful Wednesday.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar