Minggu, 02 November 2014

Kesempatan Kedua

Orang bilang sebuah kesempatan itu tidak akan datang untuk yang kedua kalinya.
Jika kedua kali, itu artinya anugerah.
Tapi kemudian ada lagi orang bilang bahwa setiap orang juga berhak atas kesempatan kedua.
Setelah itu? Apa dengan adanya kesempatan kedua lantas akan memungkinkan adanya kesempatan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya?
Tentu tidak. Itu menandakan seseorang tidak benar-benar serius dalam memperbaiki kesalahannya.

Kesempatan kedua itu ada untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik lagi. 

Jumat kemarin aku tidak konsentrasi mengerjakan UTS Kepegawaian.
Pengawas ruanganku adalah Bu Yusmia, dosen Statistik kami.
Saat itu, saat sedang mengawas, Bu Yusmia membawa seluruh hasil UTS Statistik kami untuk dikoreksi. Jadi, didalam kelas itu -saat kami sedang mengerjakan kepegawaian- Bu Yusmia tengah asyik memeriksa hasil pekerjaan kami.
Kenapa aku tidak konsentrasi?
Aku adalah tipe anak yang tidak suka duduk dibelakang. Jadi saat di kelas, seminar, ataupun UTS aku selalu duduk di depan. Saat itu mejaku hampir berhadapan dengan meja pengawas. dari tempat dudukku ini aku bisa melihat jelas akivitas Bu Yusmia yang sedang mengkoreksi kertas ujian Statistik kami.
Suara spidol Bu Mia yang dengan ganasnya mencoret-coret kertas itu membuat konsentrasiku terganggu.
Sesekali aku melihat ekspresi wajah Bu Mia yang tidak jarang geleng-geleng sambil menarik nafas panjang. Aduh, pasti hasilnya buruk, pikirku.

Sepanjang waktu aku hanya berdoa semoga nilai Statistikku memuaskan.

Perlahan satu dua temanku sudah menyelesaikan soal Kepegawaian itu dan mengumpulkannya ke depan. Ke Bu Mia. Di depan sana teman-temanku disambut oleh kertas ujian Statistik mereka.
Aku memperhatikan ekspresi wajah mereka.
Ada yang tidak berani membuka kertasnya, dan ketika dibuka teman yang bersangkutan tertawa kecut melihat nilainya yang kecil.
Ada juga yang baru dibuka saat sudah keluar ruangan dan kemudian tertawa terbahak-bahak melihat nilainya sendiri. Hmm ... itu adalah Wahyu si badboy :D
Ada yang saat melihat nilainya seperti bebek (alias 2) dia hanya tersenyum bersahaja. Ini hanya permulaan, mungkin begitu pikirnya.

Aku masih duduk di tempatku sambil memperhatikan teman-temanku. Belum berniat mengumpulkan kertas ujian ke depan dan menerima kertas Statistik itu. Aku melihat Bu Mia. Beliau hanya tersenyum (sok) misterius. Ah, Bu Miaaa apa arti dibalik senyummu ituuu...

Akhirnya aku bangkit (bukan dari kubur) dari tempat duduk dan mengumpulkan kertas ujian.

NIMmu berapa Mey?

21.13.1290 buk. Kataku tegas.

Bu Mia menarik sebuah kertas folio dan memberinya padaku.
Dengan takjub aku menerimanya, bak seorang paski yang sedang menerima bendera dari Presiden saat upacara 17-an di Istana Negara.

Aku melangkah mundur dengan tetap senyam senyum pada dosenku yang satu ini. Aku berbalik dan mulai membuka lipatan folio itu. Disana tertera jelas sekali angka yang langsung membuatku berteriak dan melompat kecil.

Aku berbalik lagi melihat Bu Mia.
Bu Mia hanya mengerutkan kening sambil geleng-geleng.
Ah, sudahlah buk aku memang lebay :D
Aku senang. Nilai ini tidak pernah terbayang sebelumnya. Walaupun tidak sempurna tapi aku puas. Nilai ini lebih besar daripada tugas yang sempat beliau berikan beberapa bulan lalu.

Teman-temanku. Aku sedih ketika mereka tidak berhasil mencapai nilai minimum.
Sedih ketika harus melihat angka-angka pemicu "mengulangi" tertera di kertas mereka.
Aku jadi ingat semangat belajar mereka yang membara beberapa waktu lalu di TMP

Nilai kecil bukan semata-mata kita tidak pintar.
Nilai kecil itu aku harap membuat kalian lebih rajin belajar. Tidak meremehkan tugas. Tidak meremehkan dosen. Tidak meremehkan waktu. 
Percaya diri saja. Tidak perlu ribut saat ujian.

Nah, aku, kamu, kita, masih memiliki kesempatan kedua saat UAS nanti.
Kita masih bisa memperbaiki apa yang rusak. Kita masih bisa memperbaiki apa yang salah.
Kita gunakan kesempatan kedua kita ini sebaik mungkin gaes :-)


22 Oktober 2014
Belajar Bersama Statistik












Tidak ada komentar:

Posting Komentar