Sabtu, 22 November 2014

Bertahan Sendiri

Satu per satu perasaan kesal itu muncul.
Muncul perlahan. Hingga tidak dapat lagi terbendung.
Aku kesal pada keadaan ini.
Perasaan kesal itu seakan menutup diriku pada apa yang ada di depan mata.
Pada kenyataan.
Pada sekitar.

Salahku?
Iya. Semua salahku. Aku yang salah.
Dia salah menerima maksudku, mungkin.
Dia tidak salah.
Ya. Dia selalu benar, kok.

Perasaan ini semakin hari hanya semakin mengekangku.
Aku sudah mencoba menyibukkan diri dengan segala macam kegiatan.
Aku sudah berusaha untuk baik-baik saja.
Tanpa perasaan kesal.
Tanpa perasaan jengkel.
Tanpa perasaan was-was.

Sia-sia.

Aku tetap disini. Bertahan semampuku.
Aku tetap disini. Melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku tetap disini. Untuk membuktikan kalimat-kalimatnya.

Sampai kapan?
Aku juga tidak tahu.

Sekarang biarkan dulu.
Biarkan dia sibuk dengan perhatian yang dia inginkan.
Biarkan semuanya mengalir.

Kembali ketika aku harus melihat kenyataan.
Kenyataan bahwa segalanya sudah berubah.
Tidak ada apapun di dunia ini yang abadi.

Saat ini mungkin aku gagal.
Dia yang lebih bisa membuatmu nyaman.
Pasti bukan gadis biasa.

Aku disini saja. Berjuang untuk menahan diri.
Tapi sepertinya hanya aku sendiri yang berjuang, ya?
Benar kah?

Ya sudah.
Wajahku sudah mulai panas.
Aku tidak mau ada anak sungai lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar