Sabtu, 08 April 2017

A Day with Melanie Subono

Akhirnya saya bisa bernafas lega dan tidur dengan nyenyak. Hari dimana saya tidak bisa konsentrasi dengan baik dan bolak balik mules itu telah terlewati. Ya, acara yang mengundang Melanie Subono dan Indah Catur serta menjadikan saya sebagai moderator itu akhirnya usai sudah.

Saya bingung harus cerita dari mana, gaes. Begitu banyak cerita yang ingin saya sampaikan, jadi baca aja dulu, meski ceritanya lompat sana-sini, saharapkaliantakbosan.

Jadi, beberapa minggu yang lalu, saya dan kawan-kawan BEM rapat persiapan seminar perempuan, yang memang sudah masuk program kerja kita. Setelah duduk bareng, makan bareng, guyon bareng, akhirnya kita sepakati tema yang diambil adalah Peranan Perempuan di Era Kekinian. Pertama-tama alot tuh, ada yang nggak setuju, apalagi para lalaki cerewetnya naudzubillah, ngalah-ngalahin perempuan. Tapi yah, toh akhirnya mufakat juga. Banyak pertimbangan serta filosofi-filosofi yang terlontar dibalik makna tema tersebut, yang sa rasa tak perlu dijabarkan disini, karena akan membuat tulisan ini bertambah tak asyique. Atau perlu? Ah, tak perlu lah, ya?

Setelah tema di tentukan, mulailah kami diskusi perihal who’s the speaker? Mulai dari Mbak Ika (yang dulu presma Untag pada masanya), Bunda Anggie (yang ini adalah rekomendasi dari saiyyah), Mbak Ira Rachmawati tukang bikin baper karena tulisannya (ini juga rekomendasi dari saiyyah), sampai Bu Anas (yang hanya tinggal wacana, karena nggak komunikasi-komunikasi ke beliau). Dan semua nama yang sa sebut itu tidak ada yang terwujud. Ndilalah, di tengah-tengah rapat yang disertai hujan pembawa kenangan itu, Mas Sunan menawarkan bagaimana jika kita undang Melanie Subono. Mak glek, ndane? batin saya waktu itu. Memang, beberapa bulan lalu Mas Sunan sempat mengirim screen capture percakapannya dan Mbak Melani di twitter. Isinya tentang tweet Mas Sunan yang berbunyi, “Kapan nih Melanie ke Banyuwangi” dan di reply oleh Mbak Mel “Kalo niat, pasti udah hubungin nomor di CP.” Kurang lebih begitulah bunyinya. Screen capture itu dikirim Mas Sunan ke grup WA. Ya waktu itu kebanyakan anggota hanya merespon dengan biasa saja. Karena memang belum bisa menempatkan momen yang tepat untuk mengundang Melanie. Dan ndilalah lagi, pada waktu itu juga (pada saat rapat) Bang Rohim mencoba menghubungi nomor manajer Mbak Melanie, Teh Dian.

Singkat kata singkat cerita aku dan dia jatuh cinta, beberapa hari setelah rapat, Bang Rohim kirim screen capture juga ke grup. Isinya tentang obrolan dia dan Teh Dian masalah jadwal Melanie. Beliau (Mbak Mel) bisanya tanggal 7 kalau nggak 8 April. Nah, waktu itu kita sudah sepakat tanggal seminarnya 31 Maret. Tapi, berhubung ada sinyal baik dari pihak Melanie, akhirnya kita reschedule. Ada untungnya juga, kita bisa mematangkan konsep. Dan, saya masih geleng-geleng nggak percaya. Beneran Melanie Subono, nih? Melanie Subono, aktivis yang biasa saya lihat di tipi-tipi kelir itu? Yang eyangnya adalah presiden ketiga RI itu? Berapa duit, tuh. Wkwkwk.

Dan setelah kemarin Sudjiwo Tejo, hari ini Melanie Subono. Daebak!!! Saya nggak ngerti lagi harus dengan kata apa saya mengekspresikan rasa bangga saya ke BEM Untag Banyuwangi. Keren, kece, hebat, ada lagi yang lebih dari itu? Mas Sunan pernah guyon, “Setelah ini siapa lagi ya yang kita undang?” saya mbatin, Fedi Nuril, bisa, Mas??? Hwehehehehe ...

Setelah komunikasi antara Bang Rohim dan Teh Dian yang berlangsung selama beberapa hari, akhirnya fix hari dan tanggal acara. Hingga kami pun merilis poster resmi seminar perempuan tersebut. Sempat ada beberapa kendala yang hampir membuat kita maju mundur. Di saat urusan dengan pihak Melanie sudah selesai, kondisi kampus yang beberapa hari belakangan ini sempat hot lagi, hampir membuat kami pikir-pikir ulang jadi atau tidak. Gundah gulana dah tuh. Karena ini ada hubungannya dengan anggaran.

Saya yang pada saat rapat ditunjuk sebagai moderator secara paksa dan tak mufakat, langsung spaneng beberapa menit. Pulang ke rumah, saya langsung korek semua informasi tentang Melanie Subono. Saya buka youtube, artikel, website Rumah Harapan. Saya tonton sebagian besar acara talkshow beliau yang ada di internet. Saya baca berita-berita seputar Melanie Subono. Saya follow segala akun sosial medianya. Saya buka lagi catatan-catatan saya tentang peempuan. Saya ulas lagi buku-buku yang membahas perempuan yang saya miliki. Lama kelamaan, saya jadi mikir, saya ini ngapain sih sebenernya? Kok kayak anak SMA mau UAN gini? Semakin saya memikirkan harus bicara apa nanti, saya semakin grogi, semakin mules, semakin nggak bisa mikir. Akhirnya yang bisa saya lakukan adalah menyusun daftar-datar pertanyaan untuk nanti saya tanyakan.

Saya dah membayangkan bagaimana sosok Melanie Subono, gimana kira-kira orangnya, enak nggak sih diajak sharing. Saya takut kejadian seperti Mbah Tejo dulu terulang lagi. Bisa-bisa saya semaput di atas stage. Dari percakapan di grup yang memantau keberadaan Melanie, saya terus komat-kamit nggak jelas. Bang Rohim yang bertugas menjemput Mbak Mel selalu update lokasi mereka. Semakin mereka mendekati kampus, saya makin nggak keruan. Satu chat yang membuat saya agak tenang adalah ketika Bang Rohim bilang, “Aku tadi juga canggung, tapi Mel asyik guyonan.” Fix, urat-urat grogi di tubuh saya yang tadi singset luar biasa jadi kendor.

Hal itu terbukti ketika pertama kali Mbak Melani, Pak Rektor, dan Mbak Indah masuk aula. Ketika yang lain lewat tengah, Mbak Mel justru melipir ke pinggir. Duh, saya nggak bisa nahan ketawa. Saya sempat bilang, “Ngapain lewat situ Mba Mel?”, belio jawab, “Malu” sambil menunjukkan sikap yang emeshin banget.

Begitu juga dengan Mbak Indah. Saya cari info tentang aktivitas beliau dari teman-teman. Saya juga kepoin facebooknya. Namun, tidak banyak yang saya dapat dari sana. Akhirnya setelah Bara mengirim profil beliau, saya sedikit memiliki gambaran. Profil kedua narasumber ini bikin saya geleng-geleng. Dalam hati nggak henti-hentinya bilang ‘Luar biasa’. Pertama kali saya bertemu Mbak Indah juga saat hari H. Saya sempat sampaikan ke Bara, kira-kira Mbak Indah datang ke kampus jam berapa, karena saya butuh sedikit chit-chat dengan beliau.

Akhirnya saya bisa bertemu dengan Mbak Indah di saat aula masih lengang. Benar-benar di luar dugaan, saya sempat tidak mengenali beliau, karena sebelumnya memang belum kenal. Hanya melihat fotonya di banner. Mbak Indah itu imut luar biasa. Kecil-kecil cabe rawit lah pokoknya. Dan kabar baiknya lagi, belio orangnya sealiran sama saya, sama-sama seneng guyon. Semesta tengah berpihak pada saya.

Acara inti pun tiba. Seminar dan talkshow yang saya pandu dengan pembicara Melanie Subono dan Indah Catur Cahyaningtyas. Setelah opening speech yang saya berikan, lalu saya mempersilakan kedua narasumber naik stage. Saya masih antara sadar dan tidak, sepanggung dengan Melanie, begitu dekat dengan Melanie. Setelah salaman, yang itu agak norak, tapi ya sudahlah ya, kesempatan nggak datang dua kali, wkwkwk, Mbak Indah pun memberikan speechnya terlebih dahulu dan disusul oleh Mbak Mel.

Lagi-lagi Mbak Mel membuat semua orang nggak habis pikir dengan tingkahnya. Setelah duduk santai di kursi kayu, kali ini beliau mengajak saya dan Mbak Indah untuk kelesotan di undakan stage. Biar lebih dekat dengan peserta katanya. Saya mah iya-iya aja. Sedari tadi, saya masih terus terpaku dengan sosok Melanie Subono. Saya lihatin Mbak Mel dari atas sampai bawah. Saat seorang peserta bertanya tentang bagaimana tanggapan tentang perempuan yang tidak bisa dipisahkan dengan air mata dan cara menumbuhkan kesadaran untuk bergerak, ketika giliran Mbak Indah memberikan jawaban, Mbak Mel malah ngomong ke saya, “Gue sih ngeliatnya nggak ada hubungan antara air mata sama perubahan”, saya disebelahnya hanya ngangguk takzim, belio lanjut lagi, “Kalo mau nangis ya nangis aja, bagus lagi buat kesehatan. Apa gunanya coba Tuhan ngasih emosi tapi nggak digunakan.” Saya lagi-lagi ngangguk. “Image aktivis memang kuat kali, Mbak. Kelihatannya nggak pernah nangis” Belio jawab, “Iya kali yak”. Ih, luar biasa nih orang, two thumbs up for you, Mbak. Humble banget.

Berdasarkan rundown acara, Mbak Melanie akan memberikan pertunjukan akustik, tapi berhubung tangan kirinya patah, jadi akustik batal. Beliau hanya membawakan lagu Tanah Air. Selesai acara, mulai ramai peserta yang ngerubung minta foto. Saya ngeri ngelihat Mbak Melanie dirubung banyak orang begitu. Naluri mak-mak saya keluar, bukannya Teh Dian yang cerewet ngasih tahu orang-orang agar hati-hati sama tangannya Melanie, justru saya yang sedari tadi berik-berik, “Hati-hati yaa tangan Kak Mel patah. Awas, hati-hati.” Biar dah saya di sewotin orang. Habis ngeri banget, Mbak Mel-nya saya lihat sibuk mengamankan tangan kirinya ke belakang.

Sesi foto kelar, kami keluar kampus kurang lebih pukul 18.00 wib. Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, selepas seminar kami akan mengantar Mbak Mel dan Teh Dian makan. Sama seperti Mbah Sujiwo dulu, kami makan di Mbok Wah. Nasi tempong yang membuat Teh Dian huh-hah-huh-hah. FYI, Mbak Melanie adalah vegan. Sudah setahun lebih, dulunya beliau vegetarian.

Di Mbok Wah itulah kami ber-enam ngobrol secara intens. Saya, Bibeh, Bara, Mbak Afi, Teh Dian, dan Mbak Melanie. Ada Mas Riko sih, tapi nggak gabung sama perempuan-perempuan ini. Belio duduk di dekat Mbak Kasir.

Awalnya rada kaku, tapi akhirnya obrolan mengalir dengan lancar. Dari obrolan itu juga saya akhirnya tahu kalau Teh Dian juga seseorang yang suka banget sama Drama Korea. Wohooo, dah kayak nemu teman hidup. Saya tanya drama apa yang lagi di tonton, belio menyebut satu judul drama yang saya nggak ngerti, dan Goblin. Saya bisa lihat ekspresi Mbak Melanie dan Bara seperti ‘hmmm mereka bahas apaan sih’. Saya, Bibeh dan Mbak Afi sih para penggemar drakor, jadi ya nyambung aja.

Ada untungnya juga saya kepoin segala aktivitas Mbak Mel. Hal itu bisa jadi bahan obrolan kami malam itu. Ada banyak cerita saat kami makan. Mulai dari kegiatan-kegiatan Mbak Mel, Mbak Mel jadi Vegan dah berapa lama, gimana ceritanya ketemu sama Teh Dian, terus saya yang nggak percaya kalau ternyata Teh Dian dah bersuami dan beranak (kucing kali, ah, beranak) aktivitas Mbak Melanie terlibat dalam film Wiji Thukul, ketakutannya sama ayam yang sekarang udah mulai nggak takut, hingga saya tanya, “Tuh tangan patah kenapa, Mbak?” diawab dengan santainya, “Panggung roboh. Ya gitu deh.”

Sebenernya sama dokter dah disuruh pakai gips kalo ke tempat umum. Bukan apa-apa, biar orang tahu tuh tangan lagi sakit. Tapi emang dasar Mbak Mel-nya begitu, nggak bebas kalo pakai gips katanya. Dan, itu lah yang menyebabkan saya berik-berik kayak orang gila di aula tadi. Peserta seminar dah pasti nggak tahu kalau tangan kiri Mbak Mel sakit. Jadinya weh saya teriak-teriak. Padahal Teh Dian aja selaw -___-

Lumayan lama kami selonjoran di Mbok Wah. Setelah Mbak Melanie menghabiskan dua batang rokok, baru kami berangkat ke Radio Mandala. Jadwal setelah makan Mbak Melanie akan live talkshow di Mandala. Baru kali ini saya masuk ke ruang siarannya Mandala. Dulu hanya sebatas duduk di ruang tamunya aja. Baru kali ini juga saya ketemu Mbak Dyna yang ternyata aduhai syekali itu. Duh, bagian Mbak Dyna akan saya bikin tulisan sendiri aja. Khusus Mbak Dyna.

Selesai sudah kegiatan seharian yang sungguh menguras tenaga. Saya dan Bibeh berpisah dengan Mbak Melanie dan Teh Dian di Mandala. Kami nggak ikut acara dialog yang akan dilakukan Mbak Melanie dengan para aktivis lingkungan. Biasa, alasan klise, jam malam.

Satu kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan dari sosok Melanie Subono. Keluar dari ruang siaran, dengan innocentnnya dan wajah lelah, beliau manggil-manggil Teh Dian, dah kayak anak nyari ibunya, “Mbak Dian, Mbak Dian mana?” duh, nggak bakal ditinggal kali Mbak, Teh Dian nunggu di ruang tamu noh. Saya hendak tertawa, namun apa daya, lelah mengalahkan segalanya.

Terimakasih, Mbak Melanie, Teh Dian, atas diskusinya. Terimaksih banyak.


Tim heboh

Thanks, puan.

2 komentar:

  1. haha.. Menyenangkan sekali.. Rasa-rasanya jadi ikut heboh bacanya. Seru amat..
    Cerita sama Mbah Tejo ada gak Mbak Mey?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, terimakasih Mas.
      Sama Mbah Tejo ada dong 😄

      Hapus