Kemarin jam tujuh pagi aku sudah sampai lagi di Yasmin. Kali ini aku harus melakukan antigen, foto thorax dan bertemu dokter anastesi. Setelah ke meja pendaftaran aku menuju lab untuk pemeriksaan antigen. Aku dibawa menuju poli paru untuk diperiksa.
Ini pertama kalinya hidungku
disogok dan kalimat pertama yang keluar dari mulutku ke petugasnya adalah “aduh mbak geli banget”. Rasanya seperti
sebatang lidi dimasukkan ke dalam hidungku. Geli dan lumayan menimbulkan
genangan air di mata.
Proses yang singkat itu berlalu
tanpa ada kendala. Aku kembali menunggu di depan lab hingga kemudian petugas
memintaku untuk menuju radiologi. Nah, di hari aku bertemu dr. Radhi tempo hari
ketika beliau memberitahuku Jumat harus cek lab dan foto, aku mengira foto di
sini adalah foto wajah pasien.
Ya, maklum saja belum pernah
operasi, guise. Ternyata foto yang di maksud di sini adalah foto thorax. Aku
menuju ke ruang radiologi dan menunggu beberapa saat sampai akhirnya tiba
giliran. Masuk ruang radiologi disambut dinginnya ruangan dan hangatnya petugas
pagi itu.
Petugas menanyakan nama lengkap,
usia dan alamatku untuk ditulis di map coklat yang nantinya berisi hasil foto
paru-paruku. Lumayan gugup, karena lagi-lagi ini adalah pengalaman pertama.
Setelah melepas bra dan melepas jarum pentul (fyi, kalau mau rontgen segala
macam benda yang melekat di tubuh harus dilepas).
Setelah diarahkan menuju sebuah
kotak (yang lebih mirip papan tulis kecil) aku membelakangi petugas dan
menempelkan tubuh bagian atasku ke benda dingin itu. Setelah mengikuti arahan
dari petugas untuk ambil napas dan buang napas, prosedur selesai.
Aku tidak menyangka semuanya
secepat ini. Mudah saja ternyata. Setelah dari ruang radiologi aku menuju poli
anastesi. Di bagian ini aku menunggu cukup lama. Duduk di depan poli sambil
sesekali melihat hasil foto paru-paruku yang imut sekali. Beneran, deh, itu
gambar paru-paru bagus banget. Selama ini aku hanya melihat yang demikian di
film-film atau drama. Sekarang kejadian betul.
Setengah sepuluh lewat aku baru
masuk ke poli anastesi. Bertemu dokter Danang yang luar biasa ramah. Beliau
menanyakan nama panggilanku dan bertanya dimana aku bekerja. Kemudian beliau
juga menanyakan hal-hal dasar sebagai seorang dokter anastesi. Seperti pernah
dirawat di rumah sakit atau tidak, pernah sesak napas atau tidak, pernah
operasi atau tidak.
Semua yang ditanyakan dr. Danang
tidak pernah aku alami. Karena memang inilah pengalaman pertama dan semoga
terakhir kali. Setelah memeriksa keadaanku beliau memberiku kesempatan untuk
bertanya soal operasiku Senin depan. Ada banyak sekali pertanyaan di kepala
tapi yang keluar hanya berapa lama kira-kira durasi operasi dan aku
mengutarakan kegugupanku karena pertama kali menjalani operasi.
Sesi dengan dr. Danang usai dan
aku keluar ruangan dengan perasaan lega. Entah kenapa aku jadi lebih percaya
diri setelah menjalani semua prosedur dari awal hingga akhir. Gugup jelas, tapi
tetap harus optimis.
Saat menulis catatan ini aku
sedang memikirkan apa saja yang nanti harus aku bawa ketika opname di rumah
sakit. Gugup, guise. Lebih gugup dari talkshow sama gubernur.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar