Sabtu, 17 April 2021

MENUJU OPERASI #4

Kemarin jam tujuh pagi aku sudah sampai lagi di Yasmin. Kali ini aku harus melakukan antigen, foto thorax dan bertemu dokter anastesi. Setelah ke meja pendaftaran aku menuju lab untuk pemeriksaan antigen. Aku dibawa menuju poli paru untuk diperiksa.

Ini pertama kalinya hidungku disogok dan kalimat pertama yang keluar dari mulutku ke petugasnya adalah “aduh mbak geli banget”. Rasanya seperti sebatang lidi dimasukkan ke dalam hidungku. Geli dan lumayan menimbulkan genangan air di mata.

Proses yang singkat itu berlalu tanpa ada kendala. Aku kembali menunggu di depan lab hingga kemudian petugas memintaku untuk menuju radiologi. Nah, di hari aku bertemu dr. Radhi tempo hari ketika beliau memberitahuku Jumat harus cek lab dan foto, aku mengira foto di sini adalah foto wajah pasien.

Ya, maklum saja belum pernah operasi, guise. Ternyata foto yang di maksud di sini adalah foto thorax. Aku menuju ke ruang radiologi dan menunggu beberapa saat sampai akhirnya tiba giliran. Masuk ruang radiologi disambut dinginnya ruangan dan hangatnya petugas pagi itu.

Petugas menanyakan nama lengkap, usia dan alamatku untuk ditulis di map coklat yang nantinya berisi hasil foto paru-paruku. Lumayan gugup, karena lagi-lagi ini adalah pengalaman pertama. Setelah melepas bra dan melepas jarum pentul (fyi, kalau mau rontgen segala macam benda yang melekat di tubuh harus dilepas).

Setelah diarahkan menuju sebuah kotak (yang lebih mirip papan tulis kecil) aku membelakangi petugas dan menempelkan tubuh bagian atasku ke benda dingin itu. Setelah mengikuti arahan dari petugas untuk ambil napas dan buang napas, prosedur selesai.

Aku tidak menyangka semuanya secepat ini. Mudah saja ternyata. Setelah dari ruang radiologi aku menuju poli anastesi. Di bagian ini aku menunggu cukup lama. Duduk di depan poli sambil sesekali melihat hasil foto paru-paruku yang imut sekali. Beneran, deh, itu gambar paru-paru bagus banget. Selama ini aku hanya melihat yang demikian di film-film atau drama. Sekarang kejadian betul.

Setengah sepuluh lewat aku baru masuk ke poli anastesi. Bertemu dokter Danang yang luar biasa ramah. Beliau menanyakan nama panggilanku dan bertanya dimana aku bekerja. Kemudian beliau juga menanyakan hal-hal dasar sebagai seorang dokter anastesi. Seperti pernah dirawat di rumah sakit atau tidak, pernah sesak napas atau tidak, pernah operasi atau tidak.

Semua yang ditanyakan dr. Danang tidak pernah aku alami. Karena memang inilah pengalaman pertama dan semoga terakhir kali. Setelah memeriksa keadaanku beliau memberiku kesempatan untuk bertanya soal operasiku Senin depan. Ada banyak sekali pertanyaan di kepala tapi yang keluar hanya berapa lama kira-kira durasi operasi dan aku mengutarakan kegugupanku karena pertama kali menjalani operasi.

Sesi dengan dr. Danang usai dan aku keluar ruangan dengan perasaan lega. Entah kenapa aku jadi lebih percaya diri setelah menjalani semua prosedur dari awal hingga akhir. Gugup jelas, tapi tetap harus optimis.

Saat menulis catatan ini aku sedang memikirkan apa saja yang nanti harus aku bawa ketika opname di rumah sakit. Gugup, guise. Lebih gugup dari talkshow sama gubernur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar