Kamis, 15 April 2021

AKHIRNYA OPERASI JUGA #3

“Operasinya Senin pagi, ya. Jumat cek darah sama poto terus Minggu malam ngamar.”

Itulah kalimat pertama dr. Radhi ketika aku datang untuk ketiga kalinya kemarin siang. “Siap, kan?” katanya lagi menyadarkan aku bahwa semua terjadi begitu cepat. Aku menyanggupi. Setelah itu pikiranku langsung tertuju pada jadwal siaran yang harus aku alihkan kepada kawan-kawan di Mandala.

Aku lupa kapan terakhir kali mengatakan tidak siap pada sebuah pengalaman baru. Dulu disuruh memandu talkshow gubernur aku mengiyakan saja tanpa beban, baru ketika mendekati hari H kelimpungan setengah mati karena gugup. Saat diminta ngemc acara yang mendatangkan tamu penting aku juga mengiyakan saja tanpa beban, baru nanti setelahnya akan mengutuki diri sendiri kenapa mau-mau saja.

Tapi, aku menyadari, selama orang-orang memintaku untuk melakukan sesuatu itu berarti mereka menganggap aku mampu. Dan sejauh ini aku juga selalu merasa bahwa aku mampu. Tapi, itu adalah pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan duniaku. Memandu talkshow, memandu acara, menjadi moderator, itu memang keterampilan yang selalu ingin aku asah setiap hari.

Yang ini berbeda. Operasi adalah pengalaman pertama dalam hidupku. Meski bukan operasi luar biasa tetap saja aku gugup karena ini adalah pengalaman pertama. Kayaknya apa-apa yang berlabel “pengalaman pertama” akan selalu membuat kita gugup.

Sekarang ini aku sedang menyiapkan mental untuk menuju hari operasi tiba. Setelah mendapat kabar jadwal operasi aku segera memberi tahu keluarga di rumah, bibeh dan saus tiram. Benar-benar sirkel yang itu-itu saja.

Oh lupa, aku juga memberitahu kawan-kawan di Mandala karena selesai dari Yasmin siang kemarin aku segera menuju radio dan kebetulan sebagian besar karyawan sedang kumpul. Sekalian saja aku beritahu mereka soal operasi yang aku jalani karena akan berhubungan dengan jadwal siaranku yang harus mereka ambil alih.

Selama aku hidup rasanya baru kali ini aku melewati pengalaman yang begitu mendebarkan. Masuk ruang operasi. Rasa-rasanya selama ini aku hanya melihat hal itu di drama-drama Korea yang aku tonton. Aku terkesima dengan adegan-adegan operasi yang ada di drama. Hebat betul dokter-dokter ini. Apalagi Kim Sabu, tokoh fiksi di Romantic Doctor Kim.

Andai aku bisa ditangani langsung oleh Kim Sabu, apa daya dia tokoh fiksi belaka.

Wish me luck, guise. Semoga lekas selesai dan lekas prima kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar