“Operasinya Senin pagi, ya. Jumat cek darah sama poto terus Minggu malam ngamar.”
Itulah kalimat pertama dr. Radhi
ketika aku datang untuk ketiga kalinya kemarin siang. “Siap, kan?” katanya lagi menyadarkan aku bahwa semua terjadi
begitu cepat. Aku menyanggupi. Setelah itu pikiranku langsung tertuju pada
jadwal siaran yang harus aku alihkan kepada kawan-kawan di Mandala.
Aku lupa kapan terakhir kali
mengatakan tidak siap pada sebuah pengalaman baru. Dulu disuruh memandu
talkshow gubernur aku mengiyakan saja tanpa beban, baru ketika mendekati hari H
kelimpungan setengah mati karena gugup. Saat diminta ngemc acara yang
mendatangkan tamu penting aku juga mengiyakan saja tanpa beban, baru nanti
setelahnya akan mengutuki diri sendiri kenapa mau-mau saja.
Tapi, aku menyadari, selama
orang-orang memintaku untuk melakukan sesuatu itu berarti mereka menganggap aku
mampu. Dan sejauh ini aku juga selalu merasa bahwa aku mampu. Tapi, itu adalah
pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan duniaku. Memandu talkshow, memandu
acara, menjadi moderator, itu memang keterampilan yang selalu ingin aku asah
setiap hari.
Yang ini berbeda. Operasi adalah
pengalaman pertama dalam hidupku. Meski bukan operasi luar biasa tetap saja aku
gugup karena ini adalah pengalaman pertama. Kayaknya apa-apa yang berlabel
“pengalaman pertama” akan selalu membuat kita gugup.
Sekarang ini aku sedang
menyiapkan mental untuk menuju hari operasi tiba. Setelah mendapat kabar jadwal
operasi aku segera memberi tahu keluarga di rumah, bibeh dan saus tiram.
Benar-benar sirkel yang itu-itu saja.
Oh lupa, aku juga memberitahu
kawan-kawan di Mandala karena selesai dari Yasmin siang kemarin aku segera
menuju radio dan kebetulan sebagian besar karyawan sedang kumpul. Sekalian saja
aku beritahu mereka soal operasi yang aku jalani karena akan berhubungan dengan
jadwal siaranku yang harus mereka ambil alih.
Selama aku hidup rasanya baru
kali ini aku melewati pengalaman yang begitu mendebarkan. Masuk ruang operasi.
Rasa-rasanya selama ini aku hanya melihat hal itu di drama-drama Korea yang aku
tonton. Aku terkesima dengan adegan-adegan operasi yang ada di drama. Hebat
betul dokter-dokter ini. Apalagi Kim Sabu, tokoh fiksi di Romantic Doctor Kim.
Andai aku bisa ditangani langsung
oleh Kim Sabu, apa daya dia tokoh fiksi belaka.
Wish me luck, guise. Semoga lekas selesai dan lekas prima kembali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar