Kali ini aku menunggu lumayan lama. Bukan lumayan lagi, tapi memang lama. Dapat nomor antrian dua puluh satu membuatku menunggu giliran sambil terkantuk-kantuk. Kali ini ada lumayan banyak pasien yang ingin bertemu dr. Radhi. Melihat sekelilingku aku jadi sadar bahwa bukan aku saja yang malang, ada banyak orang.
Aku datang jam setengah satu
siang dan baru masuk ke ruangan dr. Radhi hampir jam tiga sore. Aku adalah
pasien dua terakhir hari itu, dibelakangku ada satu pasien tersisa. Masuk ke
ruangan aku segera menyerahkan hasil USG minggu lalu. Setelah membaca sejenak,
beliau membenarkan ada sesuatu di kedua lenganku. Benar, itu adalah tumor
jinak.
Beliau menanyakan mana dulu yang
kira-kira harus diambil tindakan. Aku yang entah kerasukan apa hari itu menjawab
lengan kanan. Beruntung dr. Radhi meyakinkan kembali, simpelnya begini “beneran
lengan kanan dulu? ngga yang kiri dulu?”
Aku seperti sadar dari gendam.
Lah iya, selama ini kan yang menganggu yang kiri, kenapa jadi yang kanan dulu
yang harus diambil tindakan. Tidak ada sepuluh menit aku berada di ruangan.
Setelahnya aku dirujuk ke laboratorium untuk pemeriksaan.
Sampai lab aku menyerahkan nomor
antrian dan menunggu di depan ruangan. Sampai namaku dipanggil aku masuk dan
duduk menghadap petugas perempuan yang memakai APD. Aku kagum pada petugas lab
yang semuanya adalah perempuan. Keren banget.
Sebelum diambil darah aku
diperiksa bagian telinga oleh petugas. Aku nggak paham apa tujuannya, yang
jelas aku nurut aja. Sampailah pada sesi ambil darah. Mbak petugasnya, tanpa
babibu, nggak diitung dulu satu dua tiga, tiba-tiba saja langsung menyuntikku
yang sedikit terkejut. Rasanya kayak diserang pas kita nggak siap, minimal
jaga-jaga, lah.
Selesai segala prosedur aku diizinkan untuk pulang dan datang lagi minggu depannya. Gila, durasi menunggu yang lama tadi hanya berakhir dengan begini saja alias ya elah udah nih gini doang?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar