Menulis catatan ini di hari Rabu dimana aku sudah selesai menjalani operasi. Masuk rumah sakit Minggu malam dan keluar rumah sakit Selasa malam. Tulisan terakhir aku menulis Minggu malam, ketika pertama masuk ke kamar rumah sakit.
Kali ini aku akan bercerita
pengalaman dari Senin dan Selasa. Here we go~
Senin, 19 April 2021.
Aku terbangun pukul 00.44 karena
gerah melanda dan mungkin juga efek gugup karena paginya akan melangsungkan
operasi. Kurang lebih dua jam aku tidak bisa kembali tidur. Aku sendirian,
tidak ada bapak dan ibu atau siapapun yang menemaniku. Memang aku yang minta,
kasihan juga kalau bapak harus berjaga dan tidur di lantai. Toh, aku bukannya
dalam kondisi tidak berdaya.
Cuma ya emang si infus ini bikin
mobilitas jadi terbatas, bingung obah. Setelah minum air putih (mumpung belum
masuk waktu puasa) dan buang air kecil yang jadi sangat merepotkan karena harus
geret-geret tiang infus dan juga setelah ngobrol sama Donat di WA aku
melanjutkan tidur. Enggak nyenyak-nyenyak banget tapi ya enggak apa-apa.
Aku tidak tahu berapa jam sekali
perawat datang untuk cek infus, cek tekanan darah dan memberikan suntikan obat
padaku. Yang jelas mereka rutin datang untuk kontrol. Pagi tiba, setelah cuci
muka, gosok gigi dan gincuan (boleh jadi aku akan operasi tapi tetap harus shining shimmering splendid) seorang
perawat datang memberikan baju ganti untuk pasien. Sumpah, ya, warna bajunya
lucu banget kayak baju PNS terus pas dipake kayak baju kalau lagi mau spa.
Bapak datang kira-kira jam
delapan, beliau menunggu sampai aku dibawa perawat menuju ruang operasi.
Sepanjang menunggu setengah sembilan aku lupa melakukan apa saja, hahaha.
Tiba-tiba sudah datang dua perawat yang siap membawaku ke ruang operasi. Bagian
ini akan aku ingat selalu. Setelah menyerahkan ponsel ke bapak aku pindah ke
ranjang yang mereka bawa. Setelah mengenakan masker dan jilbab yang sepaket
dengan baju pasien aku berbaring.
Perawat mendorong bangsal keluar
kamar. Bagian ini aku merasakan mual pada perutku. Rasanya ingin sekali muntah
tapi aku meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya efek aku terlalu tegang.
Beberapa menit yang lalu masih santai nonton Lapor Pak! di youtube, tapi
sekarang sudah menuju ruang operasi aja :’)
Sampai di meja administrasi
(jarak kamarku ke meja administrasi ini kurang lebih lima meter, lah) mual yang
tadi kurasakan hilang. Aku lega. Berkali-kali aku mengucap selawat dan menarik
napas panjang. Masuk ke ruang operasi aku disambut dua perawat lainnya. Mereka
menanyakan keadaanku dan satu perawat perempuan membantuku berganti pakaian
operasi. Kali ini warnanya ijo botol, salah satu kelompok warna hijau
favoritku. Ijonya baguuus banget.
Baju, jilbab dan masker sudah
terpasang. Aku tidak langsung ditangani, masih menunggu beberapa hal lain yang
entah apa. Aku santai saja, sambil menunggu sambil humming selawat syifa dan
entah humming apa lagi, random. Pintu terbuka, seorang perawat mendorong
bangsalku menuju ruang operasi sesungguhnya.
Aku hanya bisa melihat
langit-lagit ruangan serba putih itu. Sumpah demi apapun selama ini aku hanya
melihat adegan-adegan ini di drama yang sering kutonton. Tidak kusangka aku
mengalaminya sendiri di dunia nyata. Aku melihat tiga orang pria dan dua
perempuan di dalam ruangan itu.
Tidak lama setelah itu dr. Danang
(dokter anastesi) datang. Beliau menyapaku ramah sekali. Aku ingat sempat
berdialog dengan salah seorang perawat soal rasa gugupku karena ini pengalaman
pertama. Aku juga ingat masih sempat bercanda soal dr. Radhi yang belum datang
padahal katanya lima menit lagi. Aku melempar jokes yang populer di kalangan
nahdliyyin soal Waktu Indonesia Barat (WIB) yang diplesetkan menjadi Waktu
Insyaallah Berubah. Aku mendengar dr. Danang dan beberapa perawat tertawa.
Setelah itu aku seperti pingsan.
Mataku berat sekali ketika aku
mendengar suara azan duhur. Samar-samar aku mendengar perawat sedang berbincang
dan aku bertanya apakah operasiku sudah selesai. Setelah dijawab oleh perawat
tersebut aku kembali tertidur. Rasanya ngantuuuuuk banget. Baru ketika aku
membuka mata dengan sempurna aku melihat tulisan recovery room. Seorang perawat menghampiriku dan mengecek
keadaanku. Aku bertanya berapa lama operasi berlangsung, kurang lebih satu jam
setengah, katanya.
Aku dibiarkan beristirahat dan
tidak lama kemudian dibawa kembali menuju kamar. Sampai di kamar aku lupa
melakukan apa, hahaha. Oh, bapak datang dan bertanya keadaanku. Kemudian bapak
bergantian dengan ibu untuk masuk ke kamar. Bapak, Ai dan Ara menunggu di bale
yang disediakan di belakang kamar untuk keluarga pasien. Karena pandemi jadi
rumah sakit Yasmin meniadakan besuk.
Ibu masuk kamar dan makan siang
untukku datang. Aku lupa apa menunya, yang jelas nasinya bubur. Efek puasa
sebelum operasi dan lelah setelah operasi aku makan dengan lahap, habis tak
bersisa. Keluargaku membesuk sampai kira-kira jam dua siang. Kemudian aku
kembali sendirian.
Selesai operasi aku merasa
tubuhku baik-baik saja. Aku bisa jalan ke teras, aku bisa ke kamar kecil,
sehingga aku mengira sore atau malam itu juga aku boleh pulang dan besok
paginya sudah bisa mulai siaran. Ternyata tidak. Aku masih dalam pengawasan.
Sore itu, ketika akan menyantap
makan sore, kakak sepupuku datang. Aku terkejut bukan main karena memang
keluarga besarku tidak ada yang tahu aku dioperasi. Radarku langsung menangkap
sesuatu, pasti Inspektur Vijay. Hikmahnya aku jadi punya teman ngobrol, meski
tidak lama. Menceritakan pengalaman operasi padanya dan tak lupa soal baju
operasi yang warnanya aku suka banget itu. Kakakku bilang “kamu nggak fokus
sama penyakitmu malah fokus sama baju, ya.” Kami tertawa, iya juga.
Menjelang maghrib mereka pulang
dan aku melnajutkan makanku. Setelahnya aku kembali beres-beres badan (baca:
seka) dan membereskan tempat tidur. Setelah maghrib bapak, ibu dan Ai datang.
Ibu di kamar menemaniku, bapak dan Ai di bale depan kamar.
Aku senang ibu datang. Karena
bisa punya teman ngobrol dan aku merasa nyaman saja ada ibu. Lumayan lama
mereka menjengukku, sekira jam setengah sembilan mereka baru pulang karena
besoknya Ai harus sekolah.
Malam setelah operasi itu aku
tidur dengan nyenyak, nyenyak sekali.
![]() |
| foto senin malam, setelah senin paginya operasi. kayak nggak habis operasi sih ini. |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar