Rabu, 21 April 2021

HARI H #6

Menulis catatan ini di hari Rabu dimana aku sudah selesai menjalani operasi. Masuk rumah sakit Minggu malam dan keluar rumah sakit Selasa malam. Tulisan terakhir aku menulis Minggu malam, ketika pertama masuk ke kamar rumah sakit.

Kali ini aku akan bercerita pengalaman dari Senin dan Selasa. Here we go~

Senin, 19 April 2021.

Aku terbangun pukul 00.44 karena gerah melanda dan mungkin juga efek gugup karena paginya akan melangsungkan operasi. Kurang lebih dua jam aku tidak bisa kembali tidur. Aku sendirian, tidak ada bapak dan ibu atau siapapun yang menemaniku. Memang aku yang minta, kasihan juga kalau bapak harus berjaga dan tidur di lantai. Toh, aku bukannya dalam kondisi tidak berdaya.

Cuma ya emang si infus ini bikin mobilitas jadi terbatas, bingung obah. Setelah minum air putih (mumpung belum masuk waktu puasa) dan buang air kecil yang jadi sangat merepotkan karena harus geret-geret tiang infus dan juga setelah ngobrol sama Donat di WA aku melanjutkan tidur. Enggak nyenyak-nyenyak banget tapi ya enggak apa-apa.

Aku tidak tahu berapa jam sekali perawat datang untuk cek infus, cek tekanan darah dan memberikan suntikan obat padaku. Yang jelas mereka rutin datang untuk kontrol. Pagi tiba, setelah cuci muka, gosok gigi dan gincuan (boleh jadi aku akan operasi tapi tetap harus shining shimmering splendid) seorang perawat datang memberikan baju ganti untuk pasien. Sumpah, ya, warna bajunya lucu banget kayak baju PNS terus pas dipake kayak baju kalau lagi mau spa.

Bapak datang kira-kira jam delapan, beliau menunggu sampai aku dibawa perawat menuju ruang operasi. Sepanjang menunggu setengah sembilan aku lupa melakukan apa saja, hahaha. Tiba-tiba sudah datang dua perawat yang siap membawaku ke ruang operasi. Bagian ini akan aku ingat selalu. Setelah menyerahkan ponsel ke bapak aku pindah ke ranjang yang mereka bawa. Setelah mengenakan masker dan jilbab yang sepaket dengan baju pasien aku berbaring.

Perawat mendorong bangsal keluar kamar. Bagian ini aku merasakan mual pada perutku. Rasanya ingin sekali muntah tapi aku meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya efek aku terlalu tegang. Beberapa menit yang lalu masih santai nonton Lapor Pak! di youtube, tapi sekarang sudah menuju ruang operasi aja :’)

Sampai di meja administrasi (jarak kamarku ke meja administrasi ini kurang lebih lima meter, lah) mual yang tadi kurasakan hilang. Aku lega. Berkali-kali aku mengucap selawat dan menarik napas panjang. Masuk ke ruang operasi aku disambut dua perawat lainnya. Mereka menanyakan keadaanku dan satu perawat perempuan membantuku berganti pakaian operasi. Kali ini warnanya ijo botol, salah satu kelompok warna hijau favoritku. Ijonya baguuus banget.

Baju, jilbab dan masker sudah terpasang. Aku tidak langsung ditangani, masih menunggu beberapa hal lain yang entah apa. Aku santai saja, sambil menunggu sambil humming selawat syifa dan entah humming apa lagi, random. Pintu terbuka, seorang perawat mendorong bangsalku menuju ruang operasi sesungguhnya.

Aku hanya bisa melihat langit-lagit ruangan serba putih itu. Sumpah demi apapun selama ini aku hanya melihat adegan-adegan ini di drama yang sering kutonton. Tidak kusangka aku mengalaminya sendiri di dunia nyata. Aku melihat tiga orang pria dan dua perempuan di dalam ruangan itu.

Tidak lama setelah itu dr. Danang (dokter anastesi) datang. Beliau menyapaku ramah sekali. Aku ingat sempat berdialog dengan salah seorang perawat soal rasa gugupku karena ini pengalaman pertama. Aku juga ingat masih sempat bercanda soal dr. Radhi yang belum datang padahal katanya lima menit lagi. Aku melempar jokes yang populer di kalangan nahdliyyin soal Waktu Indonesia Barat (WIB) yang diplesetkan menjadi Waktu Insyaallah Berubah. Aku mendengar dr. Danang dan beberapa perawat tertawa. Setelah itu aku seperti pingsan.

Mataku berat sekali ketika aku mendengar suara azan duhur. Samar-samar aku mendengar perawat sedang berbincang dan aku bertanya apakah operasiku sudah selesai. Setelah dijawab oleh perawat tersebut aku kembali tertidur. Rasanya ngantuuuuuk banget. Baru ketika aku membuka mata dengan sempurna aku melihat tulisan recovery room. Seorang perawat menghampiriku dan mengecek keadaanku. Aku bertanya berapa lama operasi berlangsung, kurang lebih satu jam setengah, katanya.

Aku dibiarkan beristirahat dan tidak lama kemudian dibawa kembali menuju kamar. Sampai di kamar aku lupa melakukan apa, hahaha. Oh, bapak datang dan bertanya keadaanku. Kemudian bapak bergantian dengan ibu untuk masuk ke kamar. Bapak, Ai dan Ara menunggu di bale yang disediakan di belakang kamar untuk keluarga pasien. Karena pandemi jadi rumah sakit Yasmin meniadakan besuk.

Ibu masuk kamar dan makan siang untukku datang. Aku lupa apa menunya, yang jelas nasinya bubur. Efek puasa sebelum operasi dan lelah setelah operasi aku makan dengan lahap, habis tak bersisa. Keluargaku membesuk sampai kira-kira jam dua siang. Kemudian aku kembali sendirian.

Selesai operasi aku merasa tubuhku baik-baik saja. Aku bisa jalan ke teras, aku bisa ke kamar kecil, sehingga aku mengira sore atau malam itu juga aku boleh pulang dan besok paginya sudah bisa mulai siaran. Ternyata tidak. Aku masih dalam pengawasan.

Sore itu, ketika akan menyantap makan sore, kakak sepupuku datang. Aku terkejut bukan main karena memang keluarga besarku tidak ada yang tahu aku dioperasi. Radarku langsung menangkap sesuatu, pasti Inspektur Vijay. Hikmahnya aku jadi punya teman ngobrol, meski tidak lama. Menceritakan pengalaman operasi padanya dan tak lupa soal baju operasi yang warnanya aku suka banget itu. Kakakku bilang “kamu nggak fokus sama penyakitmu malah fokus sama baju, ya.” Kami tertawa, iya juga.

Menjelang maghrib mereka pulang dan aku melnajutkan makanku. Setelahnya aku kembali beres-beres badan (baca: seka) dan membereskan tempat tidur. Setelah maghrib bapak, ibu dan Ai datang. Ibu di kamar menemaniku, bapak dan Ai di bale depan kamar.

Aku senang ibu datang. Karena bisa punya teman ngobrol dan aku merasa nyaman saja ada ibu. Lumayan lama mereka menjengukku, sekira jam setengah sembilan mereka baru pulang karena besoknya Ai harus sekolah.

Malam setelah operasi itu aku tidur dengan nyenyak, nyenyak sekali.

foto senin malam, setelah senin paginya operasi.
kayak nggak habis operasi sih ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar