Kemarin menjadi hari yang sibuk. Seharusnya Rabu adalah hari liburku bertugas siaran, tapi kemarin aku menghabiskan setengah hari mulai dari siang dengan kesana-kemari. Pertama aku ke Yasmin untuk bertemu dr. Radhi setelah sebelumnya mendapat rujukan dari dr. Wulan yang bertugas di Puskesmas Sobo.
Aku lupa pernah cerita soal ini atau tidak tapi seingatku pernah aku singgung sedikit soal benjolan yang ada di lengan kanan dan kiriku. Siang kemarin aku bertemu dr. Radhi untuk pemeriksaan. Setelah melihat bentuk dan letak benjolan aku disarankan untuk USG. Benjolan di lengan kanan masih di taraf wajar menurutku. Tapi kalau di lengan kiri ini sudah agak aneh. Karena dia mengubah bentuk lenganku.
Suster bingung, dr. Radhi
bingung, apalagi aku. Dari ruangan dr. Radhi aku menuju loket pendaftaran dan
minta dibuatkan janji dengan dokter yang ada di poli radiologi. Aku dapat nomor
urut lima di jam 18.00 hari itu juga.
Selesai dari Yasmin aku bertemu
Jingga (bagus, ya, namanya) ketua komisariat PMII Uniba. Selasa kemarin dia
whatsapp dan meminta bantuan untuk mengisi materi public speaking untuk
internal mereka. Aku mengiyakan dan dia minta bertemu untuk menjelaskan konsep
yang ada di kepalanya.
Akhirnya aku bertemu Jingga di
sekretariat mereka. Kurang lebih tiga puluh menit ngobrol dan aku sudah tahu
apa saja nanti tujuan yang ingin dicapai. Mirip-mirip lah dengan sasaran tujuan
rekan-rekan PC IPNU tempo hari.
Pulang ke rumah sekitar jam 5
sore dan masih sempat beres-beres hingga kemudian aku sampai lagi di Yasmin.
Aku sampai jam 6 lewat sedikit. Aku sudah panik karena takut terlambat.
Ssetelah drama salah ruangan yang membuat ngos-ngosan akhirnya aku duduk di
depan ruangan poli radiologi (yang ternyata letaknya di belakang ruangan dr.
Radhi).
Aku was-was apakah pasien yang
ada di dalam ruangan itu sudah lewat dari nomor urutku. Ketika pasien tersebut
keluar aku langsung bertanya beliau nomor berapa. Legaaa, ternyata beliau nomor
urut pertama. Semakin lama tempat duduk di depan poli kandungan dan radiologi
ini semakin ramai. Rata-rata pasien yang datang adalah ibu hamil.
Sepanjang menunggu nomor urutku
dipanggil aku hanya bisa berdoa agar pemeriksaan nanti berjalan dengan lancar
dan diagnosa benjolan di lenganku ini tidak berbahaya. Tadi siang sih dr. Radhi
bilang kalau kemungkinan benjolan itu adalah tumor jinak. Meski jinak kan tetep
ya namanya tumor, lumayan nambahin pikiran, wkwkwk.
Tapi, dari kejadian ini aku jadi
bertekad untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat. Sumpah deh ya Allah aku
masih mau hidup lama dengan keluarga. Aku nggak mau mati muda dulu ini kayak
Mbak Zakia. Masih mau berbagi ilmu sama banyak orang. Masih mau siaran radio
sampai tua. Masih mau memandu banyak acara. Masih mau membahagiakan bapak dan
ibu. Masih mau lihat Fahri lulus sekolah terus jadi anak remaja yang tampan
(seperti yang sering dia ucapkan ketika melihat dirinya sendiri di cermin).
Selama ini kalau ada yang bilang
aku kurus, aku nggak pernah ambil pusing karena memang kenyataannya begitu. Ya
terus mau gimana? Sekarang aku sadar kalau ikhtiar menjadi berisi ini bukan
sekadar terganggu sama ucapan orang, tapi murni untuk kesehatan tubuhku
sendiri. Semoga dilancarkan segala ikhtiar ini ya, guise.
Buat semua yang sedang berikhtiar
untuk menjadi lebih baik, semangat. Kalian hebat sudah bertahan sejauh ini.
Minggu depan aku bertemu lagi dengan dr. Radhi. Doakan semoga lancar.
Eh, aku belum cerita bagian masuk
ke poli radiologi, ya? Ya udah, nggak jadi pamit dulu, wkwkwk.
Akhirnya suster memanggil nomor
urut lima, which is mine. Aku masuk
dan menemukan dr. Nizam yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan milik pasien
sebelumku. Suster mempersilakan aku untuk berbaring di tempat tidur. Aku
lumayan tegang, karena ini pertama kalinya USG. Pertama kali USG bukan USG
kehamilan malah benjolan, hahaha.
Setelah dr. Nizam melihat-lihat
benjolan di kedua lengan, kemudian beliau memeriksa benjolan dengan alat yang
entah apa namanya. Lamaaaa sekali sampai beliau benar-benar menyelesaikan
pekerjaannya. Sepanjang memeriksa beliau juga menanyakan beberapa hal standar
soal benjolanku itu. Aku juga bisa merasakan aku mulai berbicara hal-hal yang
entah apa saja yang sebetulnya tidak ditanyakan oleh dr. Nizam. Yah mau
bagaimana lagi, namanya juga deg-degan.
Selesai USG aku dipersilakan
untuk menunggu hasilnya di luar. Aku keluar ruangan dan duduk bersama dengan
pasien yang lain. Tidak lama kemudian hasilnya keluar dan aku akan datang lagi
minggu depan. Sampai rumah aku membaca hasil USG yang sama sekali tidak aku
mengerti artinya karena aneh banget ya bahasa kedokteran, nih.
Apapun itu, aku optimis sehat
kembali. Aku optimis benjolan di lengan kanan dan kiri akan hilang. Sampai
ketemu lagi di catatan khusus ini minggu depan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar