Dulu pas sekolah saya ini biasa-biasa saja.
Bukan golongan anak populer macam teman-teman saya dulu.
Anak orang kaya? Enggak.
Ikut Osis? Enggak.
Anaknya Guru? Enggak.
Jadi anggota dari gank kece di sekolah? Enggak.
Ikut macam-macam ekskul? Enggak juga.
Cuman pernah jadi sekretaris di kelas.
Udah itu aja. Itu pun sekretaris dua, alias yang ngebantuin sekretaris
pertama.
Nah, herannya ada aja alumni SMK yang ngenalin saya.
Seperti tempo hari, pas ngisi saldo ke Sawerigading.
Sedang seriusnya ngitung uang, tiba-tiba Mbak petugas bilang :
X : “Mbak, alumni Smea ya?”
A : (Saya ndangak) “Mmm iya Mbak,
Mbak juga?”
Karena wajahnya nggak familiar banget.
Jadi saya nggak kenal.
X : “Iya, dulu Perhotelan. Sampean Akuntansi kan?”
Saya sempat melongo.
Ih, Mbak ini paranormal ya hebat bisa tau jurusan saya dulu.
Padahal saya nggak tahu apa-apa tentang Mbak loh *macak sedih L
A : “Ooo Perhotelan. Iya Mbak aku dulu Akuntansi.”
Ooooooooo Perhotelaaan, ya ya yaaa ....
Kenapa Mey? | Nggak apa-apa, selaaw :D
X : “Pantes dilihat-lihat kok seperti lulusan Smea.”
Itulah, sepenggal percakapan saya dengan Mbak-mbak Sawerigading yang
ternyata satu almamater dengan saya, yang saya kira dia anak Perkantoran tapi
ternyata Perhotelan.
Ribet ya? Kepanjangan?
Sebenernya bukan hanya pengalaman seperti diatas.
Saya sering disapa teman-teman alumni yang mengenali wajah saya tapi saya nggak
kenal sama mereka *maaf sekali -__-
Atau yang parah adalah saya mengenal mereka tapi lupa namanya.
Ini benar-benar annoying.
Jadi pas ketemu antara pingin nyapa tapi bingung mau nyapa gimana.
Kan nggak mungkin saya manggil dengan, “Hey ... hey, gimana kabar?” atau
“Eh bro, lagi ngapain disini?” atau “Mbak, sama siapa kesini?”
Kan nggak sopan -___-
Pernah juga pas saya ikut acara Jambore Pemuda di UBI dulu.
Ada beberapa guru SMK yang turut hadir.
Pas saya samperin mereka *padahal sama sekali nggak ingat nama
beliau-beliau, yang penting gaya aja dulu* dan salim, salah satu guru bilang ke guru disebelahnya.
“Iya Bu, aku ingat kalau dia ini dulu Smea, cuman nggak tahu namanya.”
Saya hanya bisa nyengir innocent.
Sama Bu, saya juga lupa -__-
Nah, dari kejadian-kejadian itu sebenarnya bisa disimpulkan bahwa indikator
dari seringnya orang yang mengenali saya adalah faktor wajah.
Entah karena wajah saya yang keturunan atau karena ada bopeng-bopengnya
yang jelas wajah saya sangat mudah diingat.
Apalagi ketika reuni SD beberapa waktu yang lalu, Desy dengan santainya
bilang “Wajae Mey iki ketang gak berubah mulai biyen dadi gampang dikenali,
seng liyane wes berubah kabeh.”
Oke Des makasih loh, warbiyasaa kamu.
Power rangers kali berubah -__-
Jadi, akan aku gugurkan niatku untuk menjadi teroris *halaaah -___-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar