Sabtu, 01 Agustus 2015

Analogi Ala Bu Is

Di mata kita, orang tua kita adalah orang tua terbaik yang pernah Tuhan ciptakan.
Ayah kita, Ibu kita, mereka adalah hal terbaik yang pernah Tuhan beri.
Pernahkah kita berfikir untuk bertukar orang tua dengan orang tua yang lain?
Saya yakin tidak.

Kita tidak bisa memilih untuk terlahir dari orang tua yang seperti apa.
Saya tidak bisa request  pada Allah untuk terlahir dari rahim seorang Ani Yudhoyono, atau dari rahim Lady Diana apalagi dari rahim Jaya Bachan.
Tidak bisa.
Saya tidak bisa nyuwun pada Gusti Allah untuk terlahir dari rahim seorang artis, seorang superstar, seorang penyanyi, atau seorang pengusaha.
Tidak bisa.

Allah melahirkan saya melalui rahim seorang wanita yang hebat.
Sangat hebat.
Melebihi apapun.

Tempo hari saya dan Ibu pergi ke tempat teman Ibu saya.
Selain untuk bersilaturahmi, kami juga datang untuk potong rambut.
Diperjalanan, kami melewati perumahan yang bersebelahan dengan sawah.
Ada pemandangan yang membuat Ibu saya berkata,
“Wong nandur pari sukete melok merujuk kok Din.” | “Orang menanam padi rumputnya ikut tumbuh Din.”

Saya hanya ber-hmm ria ketika Ibu berbicara.
Lalu Ibu berkata kembali.
“Kok, sama seperti manusia. Padahal manusia ini sudah menanam kebaikan tapi pasti ada saja kejelekan yang ikut muncul. Berbuat baik saja kadang ada cacat yang muncul. Apalagi jika manusia hanya berbuat kejelekan?”

Kalimat Ibu saya terekam hingga sekarang.
Sebuah analogi yang sangat menarik dari padi dan rumput.
Beliau selalu belajar dari sekitar.
Pandai sekali beranalogi.
Belajar dari UAS katanya, Universitas Alam Semesta.

Betul kata Ibu.
Pada intinya, istiqomahlah dalam berbuat baik walaupun kadang terselip kesalahan-kesalahan tak disengaja. Daripada terus menanam keburukan, karena dari keburukan tidak ada yang bisa kita dapat. Sama sekali tidak ada.
Sawah yang tidak pernah dibersihkan akan ditumbuhi banyak tanaman hama yang dapat merusak kualitas padi. Begitu pula dengan hati.

Tidak berhenti disitu saja.
Saya selalu dibuat kagum dengan kemampuan Ibu memberikan contoh kepada saya.
Kali ini beliau belajar dari Bayam.

Saat saya dan Ibu sedang duduk didalam rumah, kebetulan pintu terbuka dan menghadap langsung dengan kolam ikan yang disalah satu sudutnya terdapat tumbuhan Bayam yang sangat lebat.
Saya nyeletuk,
“Buk, bayamnya lebat ya. Padahal kemarin sudah dipetik untuk lalapan.”

Ibu saya melihat ke arah Bayam itu berdiri.
“Justru karena sering dipanen, daun Bayam semakin tumbuh lebat dan bagus. Sama seperti manusia Din, semakin dia “dipetik” maka akan semakin indah dia dimata Allah. Manusia berilmu yang selalu membagikan ilmunya kepada sesama tidak akan pernah menjadi bodoh. Manusia berharta yang selalu menshodaqohkan sedikit hartanya kepada yang membutuhkan tidak akan pernah menjadi miskin. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”

Warbiyasaa sekali Ibu Isro’iyah ini.

Mama Dedeh berhati-hatilah, ada pesaingmu di Banyuwangi :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar