Kamis, 06 Agustus 2015

Drama Di Toko Buku

Senin lalu aku melihat talkshow Hitam Putih di Trans7.
Membahas tentang buku.
Ada dua bintang tamu yang tidak kuketahui.
Karena aku pun tidak menontonnya dari awal.
Sehingga aku tertinggal informasi mengenai dua orang yang sudah hadir tersebut.

Mungkin bisa disebut sebagai rezeki anak sholehah *ehem ^_^
Bintang tamu yang hadir selanjutnya adalah penulis favoritku.
Ya, Andrea Hirata.
Waaah, sekonyong-konyong langsung kubesarkan volume tivi.
Aku takjub ketika melihat seorang Andrea Hirata tampil didepan tivi secara live.

Saat masuk, ditangannya terdapat sebuah buku.
Itu adalah karya terbarunya yang berjudul “Ayah”.
Entah kenapa aku jadi seperti anak kecil yang bertemu mainan, girang sekali.
Aku tamat membaca hampir seluruh karya Bang Andrea *kecuali Maryamah Karpoov*.

Laskar Pelangi.
Sang Pemimpi.
Edensor.
Cinta Dalam Gelas.
Padang Bulan.
Sebelas Patriot.
Dan kesemuanya adalah hasil dari pinjaman di perpustakaan SMK.
Ya, bisa jadi Ibu petugas perpustakaan sudah hafal denganku karena seringnya meminjam buku.
Daftar pinjamanku yang sampai meluber ke halaman berikutnya.
Aku bahkan ketagihan dengan novelnya yang berjudul Edensor.
Sudah tiga kali *atau empat, ah lupa* aku melumatnya.

Sejak hari Senin malam itu aku terus membayangkan berfantasi bersama novel Ayah.
Ah, bagaimanakah isi dari novel tersebut?

Tidak diduga-duga.
Rabu malam aku pergi ke Togamas.
Niatku hanya untuk membeli sebuah buku.
Buku bacaan apa saja.
Karena sudah lama aku tidak membeli buku.
Dan yang pasti karena ada diskon dari member card yang lumayan ^_^
Kan sayang jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.

Saat hendak parkir aku sudah melongo karena begitu ramai pengunjung malam itu.
Tapi aku sudah membulatkan tekad dan niat serta mengencangkan sabuk pengaman untuk masuk kedalam bagaimanapun keadaannya.
Sampai didalam kepalaku pening karena begitu banyak buku yang mencuri perhatianku.
Oh isi dompet, andai ada banyak lembaran berwarna merah bergambar Bung Karno dan Bung Hatta, pasti aku sudah kalap malam itu.

Tapi …
Dari sekian banyak buku yang bergentayangan di sana,
Ada satu tumpukan menggunung yang mencuri perhatianku.
Buku hitam kecoklatan tebal itu.
Yaa, itu novel Ayah.

Huwaaa, andai aku tidak membawa rasa maluku malam itu pasti aku sudah jingkrak-jingkrak kegirangan sambil memeluk bulan buku.
Tapi ya, sebagai masyarakat Kalirejo yang beradab aku cukup mampu mengendalikan diriku.
Aku tidak mau membuat warga Kalirejo yang budiman merasa terbebani dengan hadirnya aku di tengah-tengah mereka.
Tanpa babibu, aku mengambilnya *tentu dengan terlebih dahulu membalik novel itu dan melihat harga buku, kemudian mengingat-ingat alat tukar-menukar yang sah yang ada dalam dompetku* setelah merasa jumlahnya aman aku segera melangkah dengan anggun ke kasir.

Tunggu …
Seorang gadis yang datang ke book store dengan celana batik gombor-gombor dan atasan kaos panjang *yang lebih pantas digunakan untuk tidur* serta jilbab langsung berwarna hijau yang sudah pudar warnanya *karena terlalu sering cuci kering pakai*, apa itu bisa disebut anggun???
Oh tidaaak! Jauh sekali dari kata anggun.
Tapi setidaknya aku tidak memakai sandal jepit. Oke, lumayan lah.

Panjaaaang sekali antrean malam itu.
Tapi aku dengan semangatnya berada di barisan panjang itu sambil terus memeluk erat novel Ayah.

Selesai.
Akhirnya aku berhadapan dengan mbak-mbak kasir yang sempat mengeluh lelah.
Aku hanya menyajikan senyum termanisku demi membuat mbak-mbak tersebut semangat kembali *karena customernya yang menyenangkan*
Tapi ternyata senyumanku tidak berpengaruh.
Wajah mbaknya tetap kusut, malah lebih kusut -__-

Ah sudahlah.
Aku mengeluarkan member card-ku.
Lumayan, dapat diskon lagi.
Saat mbak kasir sedang mengetik sesuatu di komputernya aku melihat banner panjang di atas pintu masuk toko.
Banner bergambar Bang Andrea Hirata disalah satu sisinya.
Banner tentang novel Ayah yang tersedia di toko buku tersebut.
Aku tersenyum memandang Bang Andrea.
Dan Bang Andrea membalas senyumku *gambar bang Andrea di banner memang lagi senyum Mey, jangan lebay* seraya berkata, “Terimakasih adik, kau sudah tidak bersikap norak saat melihat novelku sudah berkenan membeli novelku.”
Aku jawab, “Sama-sama Bang, walaupun aku harus kehilangan uang yang sudah lama kukumpulkan dalam sekejap, aku rela. Demi novelmu bang, demi novelmu. Aku berjanji suatu saat aku akan membeli kedelapan novelmu yang lain.”

Aih, imajinasiku terlalu gila.
Setelah selesai urusan bayar-membayar, aku melangkah keluar toko dengan anggunnya biasa saja.
Aku tidak sabar untuk sampai kerumah dan menikmati lembar demi lembar tulisannya.

Siang ini, saat aku menulis tulisan ini aku sudah mendarat di halaman 194.
Baiklah, ini akan menjadi teman ngabuburit yang mengasyikkan.
Oh ya, aku sudah mengalami penyakit gila nomor 40 saat membaca novel ini.
Maka berhati-hatilah.

Seperti biasa, aku akan menuliskan best quotes yang ada pada sebuah novel.
Dan novel ini, entah sudah ada berapa quotes yang aku tandai.

Nanti akan aku posting untuk kalian gaes, tenang saja.

Yess, finally I got this :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar