Senin
lalu aku melihat talkshow Hitam Putih
di Trans7.
Membahas
tentang buku.
Ada
dua bintang tamu yang tidak kuketahui.
Karena
aku pun tidak menontonnya dari awal.
Sehingga
aku tertinggal informasi mengenai dua orang yang sudah hadir tersebut.
Mungkin
bisa disebut sebagai rezeki anak sholehah *ehem ^_^
Bintang
tamu yang hadir selanjutnya adalah penulis favoritku.
Ya,
Andrea Hirata.
Waaah,
sekonyong-konyong langsung kubesarkan volume tivi.
Aku
takjub ketika melihat seorang Andrea Hirata tampil didepan tivi secara live.
Saat
masuk, ditangannya terdapat sebuah buku.
Itu
adalah karya terbarunya yang berjudul “Ayah”.
Entah
kenapa aku jadi seperti anak kecil yang bertemu mainan, girang sekali.
Aku
tamat membaca hampir seluruh karya Bang Andrea *kecuali Maryamah Karpoov*.
Laskar Pelangi.
Laskar Pelangi.
Sang
Pemimpi.
Edensor.
Cinta
Dalam Gelas.
Padang
Bulan.
Sebelas
Patriot.
Dan
kesemuanya adalah hasil dari pinjaman di perpustakaan SMK.
Ya,
bisa jadi Ibu petugas perpustakaan sudah hafal denganku karena seringnya
meminjam buku.
Daftar
pinjamanku yang sampai meluber ke halaman berikutnya.
Aku
bahkan ketagihan dengan novelnya yang berjudul Edensor.
Sudah
tiga kali *atau empat, ah lupa* aku melumatnya.
Sejak
hari Senin malam itu aku terus membayangkan berfantasi bersama novel Ayah.
Ah,
bagaimanakah isi dari novel tersebut?
Tidak
diduga-duga.
Rabu
malam aku pergi ke Togamas.
Niatku
hanya untuk membeli sebuah buku.
Buku
bacaan apa saja.
Karena
sudah lama aku tidak membeli buku.
Kan
sayang jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.
Saat
hendak parkir aku sudah melongo karena begitu ramai pengunjung malam itu.
Tapi
aku sudah membulatkan tekad dan niat serta mengencangkan sabuk pengaman
untuk masuk kedalam bagaimanapun keadaannya.
Sampai
didalam kepalaku pening karena begitu banyak buku yang mencuri perhatianku.
Tapi
…
Dari
sekian banyak buku yang bergentayangan di sana,
Ada
satu tumpukan menggunung yang mencuri perhatianku.
Buku
hitam kecoklatan tebal itu.
Yaa,
itu novel Ayah.
Huwaaa,
andai aku tidak membawa rasa maluku malam itu pasti aku sudah jingkrak-jingkrak
kegirangan sambil memeluk bulan buku.
Tapi
ya, sebagai masyarakat Kalirejo yang beradab aku cukup mampu mengendalikan
diriku.
Tanpa
babibu, aku mengambilnya *tentu dengan terlebih dahulu membalik novel itu dan
melihat harga buku, kemudian mengingat-ingat alat tukar-menukar yang sah yang
ada dalam dompetku* setelah merasa jumlahnya aman aku segera melangkah dengan
anggun ke kasir.
Tunggu
…
Seorang
gadis yang datang ke book store dengan
celana batik gombor-gombor dan atasan
kaos panjang *yang lebih pantas digunakan untuk tidur* serta jilbab langsung
berwarna hijau yang sudah pudar warnanya *karena terlalu sering cuci kering
pakai*, apa itu bisa disebut anggun???
Oh
tidaaak! Jauh sekali dari kata anggun.
Tapi
setidaknya aku tidak memakai sandal jepit. Oke, lumayan lah.
Panjaaaang
sekali antrean malam itu.
Tapi
aku dengan semangatnya berada di barisan panjang itu sambil terus memeluk erat
novel Ayah.
Selesai.
Akhirnya
aku berhadapan dengan mbak-mbak kasir yang sempat mengeluh lelah.
Aku
hanya menyajikan senyum termanisku demi membuat mbak-mbak tersebut semangat
kembali *karena customernya yang menyenangkan*
Tapi
ternyata senyumanku tidak berpengaruh.
Wajah
mbaknya tetap kusut, malah lebih kusut -__-
Ah
sudahlah.
Aku
mengeluarkan member card-ku.
Lumayan,
dapat diskon lagi.
Saat
mbak kasir sedang mengetik sesuatu di komputernya aku melihat banner panjang di
atas pintu masuk toko.
Banner
bergambar Bang Andrea Hirata disalah satu sisinya.
Banner
tentang novel Ayah yang tersedia di toko buku tersebut.
Aku
tersenyum memandang Bang Andrea.
Dan
Bang Andrea membalas senyumku *gambar bang Andrea di banner memang lagi senyum
Mey, jangan lebay* seraya berkata, “Terimakasih adik, kau sudah tidak
bersikap norak saat melihat novelku sudah berkenan membeli novelku.”
Aku
jawab, “Sama-sama Bang, walaupun aku harus kehilangan uang yang sudah lama
kukumpulkan dalam sekejap, aku rela. Demi novelmu bang, demi novelmu. Aku berjanji
suatu saat aku akan membeli kedelapan novelmu yang lain.”
Aih,
imajinasiku terlalu gila.
Setelah
selesai urusan bayar-membayar, aku melangkah keluar toko dengan anggunnya
biasa saja.
Aku
tidak sabar untuk sampai kerumah dan menikmati lembar demi lembar tulisannya.
Siang
ini, saat aku menulis tulisan ini aku sudah mendarat di halaman 194.
Baiklah,
ini akan menjadi teman ngabuburit yang mengasyikkan.
Oh
ya, aku sudah mengalami penyakit gila nomor 40 saat membaca novel ini.
Maka
berhati-hatilah.
Seperti
biasa, aku akan menuliskan best quotes
yang ada pada sebuah novel.
Dan
novel ini, entah sudah ada berapa quotes yang aku tandai.
Nanti
akan aku posting untuk kalian gaes,
tenang saja.
![]() |
| Yess, finally I got this :) |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar