Sabtu, 08 Agustus 2015

Aku dan Meirose

Akhir-akhir ini ada sebuah film karya anak bangsa yang sedang jadi trending topic.
Sebuah film religi dengan pemain yang memikat hati sedang menjadi buah gusi, eh bibir maksutnyaa -__- *maunya sih biar ada rimanya gitu, religi, hati, gusi, tapi sungguh tidak berkorelasi.
Sebuah film yang membuatku klepek-klepek demi melihat pemain utama prianya.
Sebuah film yang, ah … susah diungkapkan dengan kata-kata *alibi, padahal mah udah mentok nggak tahu harus ngetik apa.

Surga Yang Tak Dirindukan.

Resapi judul tersebut, renungkan …
Awalnya aku nggak ngerti kenapa judulnya Surga Yang Tak Dirindukan.
Memangnya ada manusia yang tidak ingin masuk surga? Yang tidak merindukan surga?
Manusia macam apa itu?

Oke.
Setelah film ini rilis 15 Juli lalu ada banyak respon yang muncul.
Berbagai macam pujian dan kritikan.
Kritik pedas, panas, keras, *aku curiga kalau itu bukan kritikan tapi balungan di kuah bakso dengan sambal lima sendok makan*
Abaikan.

Sudah tentu, karena film ini mengangkat tema yang masih tabu dalam masyarakat kita.
Poligami.
Tapi aku nggak akan bahas masalah poligami.
Aku janji hanya akan ada tiga kata poligami dalam tulisan ini.
Dan ini poligami yang terakhir.

Lah, malah ada empat kata -___-

Sebelum film ini rilis, bahkan traillernya belum muncul aku sudah membaca sinopsis novel SYTD di internet.
Nah, dikarenakan aku adalah salah satu makhluk Tuhan yang paling alay mellow, aku menyukai film-film bergenre drama.
Apalagi kisah-kisah tersakiti, terkhianati, tersayat-sayat, terpukul, dan ter-ter yang lain yang menguras air mata.
Dan, aku jatuh cinta pada sinopsisnya.
Bahkan saat membaca sinposisnya pun aku menangis.
Ah, ini bukan masalah cengeng atau apa *memang cengeng Mey, jangan berkelit*.
Ini karena aku melihat nama dari salah satu tokoh dalam novel tersebut.

Meirose.
Ah, kenapa harus Meirose?
Sudah pasti nama panggilannya adalah Mei.
Dan sudah pasti pengucapan nama itu akan menjadi Mey bukan Mei *aku harap pembaca yang budiman mengerti*

Dalam film ini ada salah satu adegan ketika Meirose akan bunuh diri dari atap rumah sakit.
Lalu ketika si Meirose alias Mbak Raline Shah Rukh Khan yang cantik menawan tak habis-habis dan berkesempatan bikin dubsmah bersama salah satu personil Big Bang itu akan lompat serta-merta Pras berteriak memanggil namanya,
“Meeeyyyy ….” Sambil membungkuk memegang lengan Mbak Raline.

Aaahhhh, kenapa harus Meirose?
Ketika Fedi Nuril berteriak memanggil nama Mey, aku yang duduk diam kedinginan dalam bioskop menjadi sangat tertekan dan semakin menggigil dibuatnya.
Bagaimana tidak?
Sebagai seorang gadis yang memiliki nama Mey, tentu naluri untuk menyahut ketika dipanggil seperti itu selalu ada.

Tapi aku sadar, aku tidak mungkin menyahut.
Bisa-bisa seisi bioskop saat itu melotot kearahku dan mendepakku keluar bioskop.
Intinya begini, setiap Bang Fedi Nuril memanggil Mey dalam film itu *tentu Meirose yang sedang diperankan Mbak Raline* aku selalu ingin menyahut.
Seolah-olah dia sedang memanggilku *padahal sudah jelas enggak -___-

Lalu apa hubungannya dengan tertekan dan menggigil??? Apa???

Aku sebenarnya juga ingin membuat peritungan dengan teman kuliahku yang menyebarkan berita hoax sehingga aku tidak bisa berlebaran dengan nyaman, tenteram dan damai.

Hari itu, Minggu tanggal 19 Agustus 2015.
Hari ketiga lebaran.
Aku bersilaturahmi ke Kepundungan.
Rumah saudara-saudara dari Ibu.
Saat sedang duduk santai menikmati segarnya buah Belimbing di panas yang terik tiba-tiba dia mengirim pesan singkat, padat dan jelas.
“Ayo mak nonton, aku sudah di NSC ini.”
Aku membalasnya, bilang bahwa tidak bisa hari ini.
Lalu sms balasan masuk yang isinya adalah, dia bilang hari ini filmnya terakhir, nanti malam sudah ganti film.

Huwaaaaaa, aku kaget.
Mana mungkin? Mana bisa? Mana boleh?
Aku menginterogasi temanku itu dengan berbagai pertanyaan.
Aku kalap, aku panik, aku heboh.
Mondar mandir, aku kepikiran film yang aku tunggu-tunggu itu.
Padahal siang itu aku dan keluarga masih harus pergi ke Srono.
Akhirnya aku mendekati Ibu untuk cepat-cepat pamit dan segera ke Srono.
Ibu mendelik ke arahku. Aku ciut.

Ibu tidak ada harapan, akhirnya aku beringsut ke Abah.
Segala cara dan upaya aku hasut Abah untuk segera melanjutkan perjalanan mencari kitab suci.
Dan, berhasil.
Abah berdiri mengajak Ibu untuk berpamitan.
Tapi Ibuku malah lebih mendelik ke Abah.
Akhirnya Abah duduk kembali dengan khidmat.

Aaaarrgggghh …..
Aku harus segera tiba di Banyuwangi paling tidak pukul lima.

Akhirnya aku pasang tampang kusut bin lungset sepanjang bertamu.
Manjur, Ibu menyerah padaku.

Di Srono pun aku tak sempat berleha-leha.
Aku biarkan Abah beristiahat 30 menit.
Setelah itu ku abrak-abarak untuk segera berkunjung ke tetangga sekitar.
Secepat kilat, acara berkunjung selesai.
Sudah pukul tiga.
Dengan senyum yang terus mengembang di wajahku kami akhirnya pulang ke Banyuwangi.

Inda yang kukabari bahwa hari itu adalah hari terakhir film SYTD pun langsung merubah jadwalnya untuk berkumpul bersama saudara-sadara.
Sungguh aku terharu.

Singkat kata singkat cerita kami sampai di depan Mbak ticketing yang ternyata adik kelas kami.
Aku memesan dua tiket dan memilih tempat.
Lalu iseng kutanyakan perihal jadwal film SYTD.
“Hari ini terakhir ya Mbak?”
“Oh enggak Mbak.”
Aku menatap Inda, Inda menatap Mbaknya. Mbaknya menatap layar didepannya.

Aaaaaarrrgghhhh Maaaaak aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu!!!!!!

Dengan penuh kekecewaan kami masuk ke studio 1.
Gagal sudah rencanaku untuk mengajaknya nonton.
Ini semua gara-gara kamu Mak :’(

Dan kenyataan terpahit yang harus aku hadapi adalah bahwa film itu masih diputar di NSC hingga hari ini.
Ya! Hari ini, saat aku sedang menulis tulisan ini!
Hambohlah ...

Tiada yang lebih memalukan selain seorang gadis keluar dari studio dengan mata bengkak tak karuan sedangkan teman disebelahnya sehat wal afiat tak sembab suatu apapun.
Film yang membuat hidungku meleleh terus, membuat mataku tak indah lagi bengkak seperti habis di sengat lebah nampaknya tak berlaku bagi Indah.

Dia hanya cerewet saat menonton filmnya. Cerewet sekali.

Makasih Dek Fotografer :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar