Akhir-akhir
ini ada sebuah film karya anak bangsa yang sedang jadi trending topic.
Sebuah
film religi dengan pemain yang memikat hati sedang menjadi buah gusi, eh bibir
maksutnyaa -__- *maunya sih biar ada rimanya gitu, religi, hati, gusi, tapi
sungguh tidak berkorelasi.
Sebuah
film yang membuatku klepek-klepek
demi melihat pemain utama prianya.
Sebuah
film yang, ah … susah diungkapkan dengan kata-kata *alibi, padahal mah udah
mentok nggak tahu harus ngetik apa.
Surga
Yang Tak Dirindukan.
Resapi
judul tersebut, renungkan …
Awalnya
aku nggak ngerti kenapa judulnya Surga Yang Tak Dirindukan.
Memangnya
ada manusia yang tidak ingin masuk surga? Yang tidak merindukan surga?
Manusia
macam apa itu?
Oke.
Setelah
film ini rilis 15 Juli lalu ada banyak respon yang muncul.
Berbagai
macam pujian dan kritikan.
Kritik
pedas, panas, keras, *aku curiga kalau itu bukan kritikan tapi balungan di kuah
bakso dengan sambal lima sendok makan*
Abaikan.
Sudah
tentu, karena film ini mengangkat tema yang masih tabu dalam masyarakat kita.
Poligami.
Tapi
aku nggak akan bahas masalah poligami.
Aku
janji hanya akan ada tiga kata poligami dalam tulisan ini.
Dan
ini poligami yang terakhir.
Lah, malah ada empat kata -___-
Lah, malah ada empat kata -___-
Sebelum
film ini rilis, bahkan traillernya belum muncul aku sudah membaca sinopsis novel
SYTD di internet.
Nah,
dikarenakan aku adalah salah satu makhluk Tuhan yang paling alay mellow,
aku menyukai film-film bergenre drama.
Apalagi
kisah-kisah tersakiti, terkhianati, tersayat-sayat, terpukul, dan ter-ter yang
lain yang menguras air mata.
Dan,
aku jatuh cinta pada sinopsisnya.
Bahkan
saat membaca sinposisnya pun aku menangis.
Ah,
ini bukan masalah cengeng atau apa *memang cengeng Mey, jangan berkelit*.
Ini
karena aku melihat nama dari salah satu tokoh dalam novel tersebut.
Meirose.
Ah,
kenapa harus Meirose?
Sudah
pasti nama panggilannya adalah Mei.
Dan
sudah pasti pengucapan nama itu akan menjadi Mey bukan Mei *aku harap pembaca
yang budiman mengerti*
Dalam
film ini ada salah satu adegan ketika Meirose akan bunuh diri dari atap rumah
sakit.
Lalu
ketika si Meirose alias Mbak Raline Shah Rukh Khan yang cantik menawan tak
habis-habis dan berkesempatan bikin dubsmah bersama salah satu personil Big
Bang itu akan lompat serta-merta Pras berteriak memanggil namanya,
“Meeeyyyy
….” Sambil membungkuk memegang lengan Mbak Raline.
Aaahhhh,
kenapa harus Meirose?
Ketika
Fedi Nuril berteriak memanggil nama Mey, aku yang duduk diam kedinginan dalam
bioskop menjadi sangat tertekan dan semakin menggigil dibuatnya.
Bagaimana
tidak?
Sebagai
seorang gadis yang memiliki nama Mey, tentu naluri untuk menyahut ketika
dipanggil seperti itu selalu ada.
Tapi
aku sadar, aku tidak mungkin menyahut.
Bisa-bisa
seisi bioskop saat itu melotot kearahku dan mendepakku keluar bioskop.
Intinya
begini, setiap Bang Fedi Nuril memanggil Mey dalam film itu *tentu Meirose yang sedang
diperankan Mbak Raline* aku selalu ingin menyahut.
Seolah-olah
dia sedang memanggilku *padahal sudah jelas enggak -___-
Lalu apa hubungannya dengan
tertekan dan menggigil??? Apa???
Aku
sebenarnya juga ingin membuat peritungan dengan teman kuliahku yang menyebarkan
berita hoax sehingga aku tidak bisa
berlebaran dengan nyaman, tenteram dan damai.
Hari
itu, Minggu tanggal 19 Agustus 2015.
Hari
ketiga lebaran.
Aku
bersilaturahmi ke Kepundungan.
Rumah
saudara-saudara dari Ibu.
Saat
sedang duduk santai menikmati segarnya buah Belimbing di panas yang terik
tiba-tiba dia mengirim pesan singkat, padat dan jelas.
“Ayo
mak nonton, aku sudah di NSC ini.”
Aku
membalasnya, bilang bahwa tidak bisa hari ini.
Lalu
sms balasan masuk yang isinya adalah, dia bilang hari ini filmnya terakhir,
nanti malam sudah ganti film.
Huwaaaaaa,
aku kaget.
Mana
mungkin? Mana bisa? Mana boleh?
Aku
menginterogasi temanku itu dengan berbagai pertanyaan.
Aku
kalap, aku panik, aku heboh.
Mondar
mandir, aku kepikiran film yang aku tunggu-tunggu itu.
Padahal
siang itu aku dan keluarga masih harus pergi ke Srono.
Akhirnya
aku mendekati Ibu untuk cepat-cepat pamit dan segera ke Srono.
Ibu
mendelik ke arahku. Aku ciut.
Ibu
tidak ada harapan, akhirnya aku beringsut ke Abah.
Segala
cara dan upaya aku hasut Abah untuk segera melanjutkan perjalanan mencari
kitab suci.
Dan,
berhasil.
Abah
berdiri mengajak Ibu untuk berpamitan.
Tapi
Ibuku malah lebih mendelik ke Abah.
Akhirnya
Abah duduk kembali dengan khidmat.
Aaaarrgggghh
…..
Aku
harus segera tiba di Banyuwangi paling tidak pukul lima.
Akhirnya
aku pasang tampang kusut bin lungset
sepanjang bertamu.
Manjur,
Ibu menyerah padaku.
Di
Srono pun aku tak sempat berleha-leha.
Aku
biarkan Abah beristiahat 30 menit.
Setelah
itu ku abrak-abarak untuk segera
berkunjung ke tetangga sekitar.
Secepat
kilat, acara berkunjung selesai.
Sudah
pukul tiga.
Dengan
senyum yang terus mengembang di wajahku kami akhirnya pulang ke Banyuwangi.
Inda
yang kukabari bahwa hari itu adalah hari terakhir film SYTD pun langsung
merubah jadwalnya untuk berkumpul bersama saudara-sadara.
Sungguh
aku terharu.
Singkat
kata singkat cerita kami sampai di depan Mbak ticketing yang ternyata adik kelas kami.
Aku
memesan dua tiket dan memilih tempat.
Lalu
iseng kutanyakan perihal jadwal film SYTD.
“Hari
ini terakhir ya Mbak?”
“Oh
enggak Mbak.”
Aku
menatap Inda, Inda menatap Mbaknya. Mbaknya menatap layar didepannya.
Aaaaaarrrgghhhh
Maaaaak aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu!!!!!!
Dengan
penuh kekecewaan kami masuk ke studio 1.
Gagal
sudah rencanaku untuk mengajaknya nonton.
Ini
semua gara-gara kamu Mak :’(
Dan
kenyataan terpahit yang harus aku hadapi adalah bahwa film itu masih diputar di
NSC hingga hari ini.
Ya!
Hari ini, saat aku sedang menulis tulisan ini!
Hambohlah ...
Tiada
yang lebih memalukan selain seorang gadis keluar dari studio dengan mata
bengkak tak karuan sedangkan teman disebelahnya sehat wal afiat tak sembab
suatu apapun.
Film
yang membuat hidungku meleleh terus, membuat mataku tak indah lagi bengkak
seperti habis di sengat lebah nampaknya tak berlaku bagi Indah.
Dia
hanya cerewet saat menonton filmnya. Cerewet sekali.
![]() |
| Makasih Dek Fotografer :) |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar