Galau
itu…?
Galau
itu apa sih?
Kalau
kamu, iya kamu, yang lagi baca tulisanku ini, iyaaa kamu itu loh, yang sedang
melototin layar hape/layar laptop/layar komputer/layar tablet/layar tancep *eh …
Menurutmu
galau itu apa?
Tik … tok … tik … tok … tik … tok …
Krik krik krik …
…
…
…
…
Diem
aja terus sampai aku nikah sama Fedi Nuril *ups, disambit novel-novelnya Andrea
Hirata*
Siniii,
aku tangkepin satu-satu J
Ah, ya sudah
lah yaa, jawab saja nanti dikolom komentar atau di dalam hati.
Kalau
kita merujuk pada Yang Mulia Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), galau itu
adalah … *jeng jeeeeng
Kasih
efek sedikit biar rada tegang *eh, nggak tegang ya? nggak lucu ya? nggak banget
ya? nggak … stoooop!!!
Oke.
Galau itu sibuk beramai-ramai, ramai sekali, kacau tidak keruan (pikiran).
Sudah
pasti galau yang aku maksud adalah yang artinya kacau tidak keruan (pikiran).
Ya,
galau itu perasaan gamang yang hadir dalam diri seseorang.
Ah,
opo maneh gamang iku -__-
Menurutku,
galau itu perasaan yang tidak menentu.
Begini
salah, begitu salah.
Diam
salah, bicara salah.
Maju
salah, mundur salah.
Berdiri
salah, duduk salah.
Maksud
hati hendak ke Utara, eh malah melangkah ke Selatan.
Seharusnya
pergi ke Barat mencari kitab suci, malah pergi ke Timur.
Makan
nggak kenyang, tidur nggak nyenyak, mandi nggak basah.
Nah
kan?
Pokoknya
galau itu, ya begitu …
Serba
salah, serba repot, serba nggak enak, serba-serbi, serba murah, serba lima
ribu dan serba-serba lain yang monggo di isi sendiri.
“Kamu
pernah galau Mey?”
“Aih,
jangan tanya.”
Karena
si Galau itu aku bisa melahirkan secara normal tulisan-tulisan itu ke
dunia.
Tulisan
berbau galau tentunyaaa …
Galau
itu ketika, aku bingung pakai jilbab yang mana ke kampus.
Padahal
jilbabnya bejibun *cewek ini mah, kebiasaan -__-
Galau
itu ketika, aku jongkok berlama-lama didepan lemari hanya untuk memilih baju
yang akan digunakan untuk ngampus.
Kok
sepertinya semua baju yang di lemari itu sudah pernah aku pakai? *ini, cewek
begini ini.
Galau
itu ketika, dulu pas pulang sekolah bingung mau beli molen atau cimol?
Bayangkan,
arep njajan ae galau -__-
Untung
waktu itu aku nggak jadi sholat
istikharah hanya untuk memilih antara
molen atau cimol *karena hidup harus memilih, halah!
Galau
itu ketika, tiba-tiba semua dosen serentak memberikan tugas saat akan memasuki
masa UTS/UAS.
Galau
itu ketika, aku harus memilih antara Reza Rahadian atau Fedi Nuril *hmm,
siap-siap setelah ini aku akan dibumihanguskan oleh warga Kalirejo yang
budiman.
Galau
itu ketika, harus memilih antara tetap bertahan atau pergi …….. *naaah siapa
yang baper?*
Backsong : Berhenti Berharap by Sheila On 7
Aku berhenti berharap …
Dan menunggu datang gelap …
Hingga nanti suatu saat …
Tak ada cinta kudapat …
Kenapa ada derita …
Bila bahagia tercipta …
Kenapa ada sang hitam …
Bila putih menyenangkan …
Sudah
sudah sudah, makin baper jadinya. Hahaha
….
Ya,
macem-macem lah jenis galauku.
Tapi
yang paling bikin galau adalah …
Galau
ketika aku harus memikirkan baik-baik antara kerja dan kuliah.
Antara
bayang-bayang kegiatan di organisasi dan bayang-bayang kegiatan di tempat
kerja.
Antara
masih pingin nyemplung di organisasi
dan pingin nyekolahin Fahri dengan
UANGKU sendiri.
Banyak
lowongan kerja yang merayu-rayu untuk aku godain.
Kalau aku kerja, sudah pasti aku harus meninggalkan
organisasi.
Sedangkan aku merasa pengalamanku berorganisasi
masih sangat, sangat, sangat, sangaaaaaat sedikit sekali.
Setiap akan melamar gebetan kerja pasti
bayang-bayang kegiatan di kampus selalu menghampiri.
Aku masih ingin mengasah kemampuanku.
Aku masih ingin kesana, ingin kesitu, ingin begini,
ingin begitu, ingin ini, ingin itu, banyaaak sekaliiiii ....
Ya ya yaaa, aku sayang
sekaliiii Doraemooon *duh maaf
Lelah? Memang.
Tapi ada perasaan lain yang membuat semua rasa lelah
itu lenyap.
Kebersamaan, kerja sama,
manfaat yang diperoleh, perubahan yang terjadi pada pribadi kita, dan hal-hal
lain yang tidak bisa aku dapatkan diluar sana.
Kan, galau.
Akhirnya, setelah menimbang dan seterusnya,
mengingat dan seterusnya, memperhatikan dan seterusnya …
*Mey ngapain? Musma? -____-
Setelah dipikir setengah matang aku
memutuskan untuk tidak bekerja dahulu.
Fokus kuliah, fokus organisasi, fokus semester lima.
Besok lah, kalau sudah pensiun
di organisasi baru cari kerja.
Terlepas dari galau itu apa, kenapa harus ada yang namanya
galau, kenapa galau itu tidak mengenakkan, atau pendapat-pendapat lain tentang
galau ....
Seniorku bilang “Harusnya kamu bersyukur masih bisa
galau, itu tandanya kamu hidup Mey.”
Yuuup,
exactly, it was right ...
Hanya saja kita yang harus pandai menyikapi perasaan
galau itu.
Mungkin jika Mas Tulus nggak pernah galau karena pas kecil dibilang gendut, nggak akan pernah ada sosok Mas Tulus
dengan lagu “Gajah”-nya yang apalah-apalah itu.
Bersyukurlah wahai para jomblo, karena dengan adanya
lagu-lagu galau fenomenal milik Bang Afgan, kehidupan berjomblomu bisa lebih
berwarna.
Yaa, pada intinya saat kita galau dekatkan diri kita pada
Tuhan.
Dia hanya ingin agar kita mengadu kepadaNya.
Curhat. Mungkin sudah lama kita tidak curhat ke Dia.
Padahal Dia selalu ada untuk kita 24 jam.
Oke deh, selamat bergalau ria.
Apa yang kamu dapat dari galaumu hari ini?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar