Kamis, 20 Agustus 2015

Galau itu ...?

Galau itu…?
Galau itu apa sih?

Kalau kamu, iya kamu, yang lagi baca tulisanku ini, iyaaa kamu itu loh, yang sedang melototin layar hape/layar laptop/layar komputer/layar tablet/layar tancep *eh …
Menurutmu galau itu apa?

Tik … tok … tik … tok … tik … tok …

Krik krik krik …





Diem aja terus sampai aku nikah sama Fedi Nuril *ups, disambit novel-novelnya Andrea Hirata*
Siniii, aku tangkepin satu-satu J

Ah, ya sudah lah yaa, jawab saja nanti dikolom komentar atau di dalam hati.

Kalau kita merujuk pada Yang Mulia Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), galau itu adalah … *jeng jeeeeng
Kasih efek sedikit biar rada tegang *eh, nggak tegang ya? nggak lucu ya? nggak banget ya? nggak … stoooop!!!
Oke. Galau itu sibuk beramai-ramai, ramai sekali, kacau tidak keruan (pikiran).
Sudah pasti galau yang aku maksud adalah yang artinya kacau tidak keruan (pikiran).

Ya, galau itu perasaan gamang yang hadir dalam diri seseorang.
Ah, opo maneh gamang iku -__-
Menurutku, galau itu perasaan yang tidak menentu.
Begini salah, begitu salah.
Diam salah, bicara salah.
Maju salah, mundur salah.
Berdiri salah, duduk salah.
Maksud hati hendak ke Utara, eh malah melangkah ke Selatan.
Seharusnya pergi ke Barat mencari kitab suci, malah pergi ke Timur.
Makan nggak kenyang, tidur nggak nyenyak, mandi nggak basah.

Nah kan?
Pokoknya galau itu, ya begitu …
Serba salah, serba repot, serba nggak enak, serba-serbi, serba murah, serba lima ribu dan serba-serba lain yang monggo di isi sendiri.

“Kamu pernah galau Mey?”
“Aih, jangan tanya.”

Kalau aku nggak pernah galau nggak akan mungkin ada tulisan macam ini, ini, atau yang ini.
Karena si Galau itu aku bisa melahirkan secara normal tulisan-tulisan itu ke dunia.
Tulisan berbau galau tentunyaaa …

Galau itu ketika, aku bingung pakai jilbab yang mana ke kampus.
Padahal jilbabnya bejibun *cewek ini mah, kebiasaan -__-

Galau itu ketika, aku jongkok berlama-lama didepan lemari hanya untuk memilih baju yang akan digunakan untuk ngampus.
Kok sepertinya semua baju yang di lemari itu sudah pernah aku pakai? *ini, cewek begini ini.

Galau itu ketika, dulu pas pulang sekolah bingung mau beli molen atau cimol?
Bayangkan, arep njajan ae galau -__-
Untung waktu itu aku nggak jadi sholat istikharah hanya untuk memilih antara molen atau cimol *karena hidup harus memilih, halah!

Galau itu ketika, tiba-tiba semua dosen serentak memberikan tugas saat akan memasuki masa UTS/UAS.

Galau itu ketika, aku harus memilih antara Reza Rahadian atau Fedi Nuril *hmm, siap-siap setelah ini aku akan dibumihanguskan oleh warga Kalirejo yang budiman.

Galau itu ketika, harus memilih antara tetap bertahan atau pergi …….. *naaah siapa yang baper?*
Backsong : Berhenti Berharap by Sheila On 7

Aku berhenti berharap …
Dan menunggu datang gelap …
Hingga nanti suatu saat …
Tak ada cinta kudapat …
Kenapa ada derita …
Bila bahagia tercipta …
Kenapa ada sang hitam …
Bila putih menyenangkan …

Sudah sudah sudah, makin baper jadinya. Hahaha ….

Ya, macem-macem lah jenis galauku.
Tapi yang paling bikin galau adalah …
Galau ketika aku harus memikirkan baik-baik antara kerja dan kuliah.
Antara bayang-bayang kegiatan di organisasi dan bayang-bayang kegiatan di tempat kerja.
Antara masih pingin nyemplung di organisasi dan pingin nyekolahin Fahri dengan UANGKU sendiri.

Banyak lowongan kerja yang merayu-rayu untuk aku godain.
Kalau aku kerja, sudah pasti aku harus meninggalkan organisasi.      
Sedangkan aku merasa pengalamanku berorganisasi masih sangat, sangat, sangat, sangaaaaaat sedikit sekali.

Setiap akan melamar gebetan kerja pasti bayang-bayang kegiatan di kampus selalu menghampiri.
Aku masih ingin mengasah kemampuanku.
Aku masih ingin kesana, ingin kesitu, ingin begini, ingin begitu, ingin ini, ingin itu, banyaaak sekaliiiii ....
Ya ya yaaa, aku sayang sekaliiii Doraemooon *duh maaf

Lelah? Memang.
Tapi ada perasaan lain yang membuat semua rasa lelah itu lenyap.
Kebersamaan, kerja sama, manfaat yang diperoleh, perubahan yang terjadi pada pribadi kita, dan hal-hal lain yang tidak bisa aku dapatkan diluar sana.

Kan, galau.

Akhirnya, setelah menimbang dan seterusnya, mengingat dan seterusnya, memperhatikan dan seterusnya …
*Mey ngapain? Musma? -____-
Setelah dipikir setengah matang aku memutuskan untuk tidak bekerja dahulu.
Fokus kuliah, fokus organisasi, fokus semester lima.
Besok lah, kalau sudah pensiun di organisasi baru cari kerja.

Terlepas dari galau itu apa, kenapa harus ada yang namanya galau, kenapa galau itu tidak mengenakkan, atau pendapat-pendapat lain tentang galau ....
Seniorku bilang “Harusnya kamu bersyukur masih bisa galau, itu tandanya kamu hidup Mey.”
Yuuup, exactly, it was right ...

Hanya saja kita yang harus pandai menyikapi perasaan galau itu.

Mungkin jika Mas Tulus nggak pernah galau karena pas kecil dibilang gendut, nggak akan pernah ada sosok Mas Tulus dengan lagu “Gajah”-nya yang apalah-apalah itu.
Bersyukurlah wahai para jomblo, karena dengan adanya lagu-lagu galau fenomenal milik Bang Afgan, kehidupan berjomblomu bisa lebih berwarna.

Yaa, pada intinya saat kita galau dekatkan diri kita pada Tuhan.
Dia hanya ingin agar kita mengadu kepadaNya.
Curhat. Mungkin sudah lama kita tidak curhat ke Dia.
Padahal Dia selalu ada untuk kita 24 jam.

Oke deh, selamat bergalau ria.
Apa yang kamu dapat dari galaumu hari ini?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar