Senin, 02 Januari 2017

Belajar Dari Pinokio

Setelah membagikan tautan blog saya mengenai acara HTI di facebook, saya kebanjiran komentar. Beberapa orang yang saya kenal memberikan reaksinya kepada saya, baik langsung lewat kolom komentar maupun lewat inbox.
 
Jujur saja tulisan tentang HTI itu adalah tulisan yang menurut saya paling benar (maksudnya nggak ada baper-baperan, curhat nan alay, melodrama) dibanding tulisan saya sebelum-sebelumnya. Jadi setelah melalui proses editing yang lumayan lama, saya mantap untuk membagikannya ke facebook. Karena ada banyak tulisan yang saya posting di blog namun tidak saya share ke facebook. Jika saya boleh menebak, asal mula munculnya beragam komentar itu adalah karena judul yang saya berikan. Karena waktu itu saya memberi judul yang propaganda sekali, “Terimakasih, HTI”.

Nah, bagi orang yang gemar komentar sebelum membaca tentu pemikiran mereka sudah kemana-mana. Jangan-jangan saya sudah menjadi aktivis HTI, begitu kira-kira. Padahal, ucapan terimakasih disini memiliki banyak tafsir. Bisa terimakasih secara harfiah –berdasarkan arti leksikal– ataupun terimakasih secara kiasan.

Sebelumnya saya tidak pernah mengikuti kelas menulis, mengikuti pelatihan menulis, atau mengikuti seminar-seminar kepenulisan. Menulis yang saya maksud disini adalah menulis sebuah tulisan (artikel, esai, opini)  dengan gaya bahasa yang efektif, analisis yang kuat, fakta yang tepat, data yang akurat, sesuai kaidah kepenulisan, juga sesuai EYD. Bukan tulisan-tulisan guyonan, curhatan lebay seperti tulisan saya selama ini. Meskipun dewasa ini banyak situs yang menyediakan tulisan dengan gaya kepenulisan yang enjoy, ringan, bahkan ngakak-able, namun tetap berbobot. Situs apakah salah satunya? Mojok.co jawabannya. Sebagai pembaca setia Mojok –yang sudah dua kali mengirim artikel tapi tetap tak ada jawaban– saya sangat terinspirasi oleh tulisan para kontributor tetapnya. Gaya menulis mereka memang jempolan. Selalu menyisipkan kalimat pisuhan menjadi ciri utama tulisan mereka.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar saya sudah suka menulis. Menulis karangan, menulis cerita sehari-hari a.k.a diary. Dulu happening sekali menulis diary. Hampir seluruh teman perempuan di kelas memiliki diary. Hingga saat saya ulang tahun –waktu itu saya kelas 3 sd– seorang kawan memberi saya kado sebuah buku diary berwarna hijau muda. Saya rasa sejak saat itu lah warna hijau menjadi warna favorit saya. Buku diary itu sangat indah, gaes. Saya tidak pernah menggunakannya selama bertahun-tahun hingga saya masuk SMP, karena eman. Baru ketika SMP saya mulai mengisi diary hijau muda itu.

Kegiatan menulis juga khatam saya rasakan ketika sekolah dasar. Waktu itu ketika ujian Bahasa Indonesia selalu ada soal tambahan untuk membuat karangan dengan pilihan tema yang telah disediakan. Jika teman-teman saya paling mentok (bukan bebek lho, ya ...) menulis setengah lembar folio, saya bisa satu lembar penuh bolak-balik. Tidak hanya saat sekolah, saat ngaji dulu pun saya selalu menjadi buruh nulis puji-pujian. Menulis dalam arti yang sebenarnya. Menggunakan buku/kertas dan pensil/bolpoin. Kegiatan tulis menulis itu vakum ketika saya mulai memiliki laptop. Berpindah dari kertas dan pensil, saya mulai mengetik. Ternyata ada begitu banyak (sekali lagi, bukan bebek lho, ya...) kerugian ketika kita mulai meninggalkan aktivitas menulis yang sesungguhnya. Maka, saya sangat berterimakasih ketika semester 4/5 lalu dipertemukan dengan Bapak Agus Budihardjo. Beliau membuat kami kembali ‘menulis’. Kami dapat tugas resume –tulis tangan– setiap seminggu sekali. Bahkan tugas akhir kami adalah membuat makalah dengan ditulis tangan. Tugas-tugas tersebut menjadikan jemari saya kembali lincah. Karena selama kuliah kegiatan tulis menulis yang paling banyak di lakukan hanya ketika UTS/UAS.

Bicara mengenai menulis, pada dasarnya semua orang bisa menulis. Hanya jenis dan tingkatannya saja yang membedakan. Saya merupakan tipe orang yang suka menulis blog dengan tidak berdasarkan judul. Jadi, isinya dulu yang saya tulis, setelah selesai baru saya memikirkan judul apa yang akan saya gunakan. Pun sama dengan tulisan HTI itu. Saya menulis dulu segala uneg-uneg di dalam hati, saya tuangkan apa yang saya pikirkan, setelah selesai baru saya memikirkan judul apa yang pantas. Akhirnya, muncul ide untuk memberikan judul ‘Terimakasih, HTI’.

Karena judul itu akhirnya banyak reaksi yang timbul. Angka viewers untuk tulisan itu pun lumayan tinggi. Selama saya bergumul dengan blog, tulisan saya yang paling banyak pembacanya yakni “Mereka Hari Ini”. Sebuah tulisan yang saya dedikasikan untuk ketiga sahabat lama saya. Ada sekitar 95 viewers.

Sebenarnya, teknik pemberian judul merupakan salah satu elemen penting yang harus kita kuasai agar tulisan kita menarik banyak minat pembaca. Teknik pemberian judul yang anti mainstream merupakan salah satu trik agar situs atau blog kita mendapat jumlah kunjungan yang terus meningkat. Namun jangan seperti kebanyakan tulisan yang memberikan judul tapi sama sekali tidak sesuai dengan isi. Itu namanya bo .... hong.

Saya belajar hal-hal seperti ini justru bukan dari kelas menulis, gaes. Saya belajar dari Drama Korea. Banyak orang yang menganggap remeh perempuan yang suka nonton drakor. Padahal, mereka tidak tahu, ada banyak tipe perempuan penyuka Drama Korea. Ada yang sekedar penikmat, ada yang pengamat, ada yang penikmat sekaligus pengamat, ada juga yang suka menganalisis. Saya termasuk semuanya. Penikmat iya, pengamat nggak terlalu, menganalisis kadang-kadang, pencatat quotes selalu. Tidak semua Drama Korea hanya menampilkan kisah-kisah roman picisan.

Salah satu Drama Korea yang saya rekomendasikan untuk ditonton adalah ‘Pinochio’. Drama dengan 20 episode ini mengisahkan tentang seorang gadis yang memiliki sindrom pinokio (setiap dia bohong dia akan cegukan) yang bermimpi menjadi reporter. Tentu mimpi gadis ini sulit sekali jadi kenyataan. Tidak ada seorang pinokio di dunia ini yang menjadi reporter. Bagaimana dia akan membawakan berita apabila dia tidak bisa berbohong?

Drama ini mengulik kenakalan-kenakalan dalam dunia televisi (khususnya stasiun berita). Segala upaya dilakukan oleh seorang reporter demi mendapat berita yang eksklusif, meskipun mengabaikan fakta. Mereka tidak tahu berita yang mereka sampaikan akan berdampak sangat besar terhadap seseorang. Ada hidup seseorang yang hancur hanya karena berita yang tidak benar. Nah, hal demikian lah yang menjadi magnet dalam drama ini. Mata kita jadi terbuka. Tidak semua media bekerja dengan jujur. Tidak semua reporter/wartawan memedulikan fakta. Ketika fakta menjadi tidak penting hanya karena mengejar rating. Apakah semua media seperti itu? Tentu tidak. Apakah semua reporter/wartawan seperti itu? Tentu juga tidak.

Salah satu pelajaran yang saya ambil dari drama ini ada di episode 10. Ada adegan ketika salah satu wartawan senior (Sung Cha Ok) memberikan seminar tentang menulis berita kepada wartawan junior. Dia menyampaikan topik seminar “Fakta dan Dampaknya”. Seorang wartawan pernah bertanya pada Sung Cha Ok tipe pria yang ia suka, lalu Cha Ok menjawab “Saya menyukai pria yang tinggi.” Keesokan harinya, wartawan tersebut menulis berita dengan judul “Wartawan Sung Cha Ok menyukai pria yang tinggi”. Ini adalah laporan yang berdasarkan fakta. Sangat tidak menarik, bukan? Kata Cha Ok. Lalu Sung Cha Ok memberikan opsi kedua atas judul laporan tersebut, yakni “Wartawan Sung Cha Ok membenci pria yang pendek”. Jika kalian melihat kedua laporan ini, mana yang lebih menarik? Serempak peserta menjawab “Yang kedua”. Kok mereka mau sih jadi yang kedua.

Begitulah kebanyakan pola berpikir seseorang. Orang lebih tertarik mendengar hal negatif daripada positif. Saya belajar bagaimana cara memilih judul pada Sung Cha Ok. Namun bukan sebagai wartawan atau reporter, juga bukan sebagai penulis berita.

Ilmu seperti ini bermanfaat sekali bagi orang yang hobi nulis macam saya. Dari sana, saya juga terus memperbaiki kualitas tulisan. Mulai dari yang mudah saja, being formal. Ayah Prie G.S pernah bilang bahwa menjadi formal merupakan suatu keharusan. Bukan untuk menjadi seorang formalis, melainkan agar kita luwes di sembarang tempat, sembarang keadaan

Jadi, para jamaah blog ismafawwaz yang baik hatinya, don’t underestimate the power of drama, ya? Kita tidak pernah tahu bahwa sebuah drama/film justru akan lebih mudah memberikan pemahaman kepada kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar