Setelah membagikan tautan blog saya mengenai acara HTI di
facebook, saya kebanjiran komentar. Beberapa orang yang saya kenal memberikan
reaksinya kepada saya, baik langsung lewat kolom komentar maupun lewat inbox.
Jujur saja tulisan tentang HTI itu adalah tulisan yang
menurut saya paling benar (maksudnya nggak ada baper-baperan, curhat nan alay,
melodrama) dibanding tulisan saya sebelum-sebelumnya. Jadi setelah melalui
proses editing yang lumayan lama, saya mantap untuk membagikannya ke facebook.
Karena ada banyak tulisan yang saya posting di blog namun tidak saya share ke
facebook. Jika saya boleh menebak, asal mula munculnya beragam komentar itu
adalah karena judul yang saya berikan. Karena waktu itu saya memberi judul yang
propaganda sekali, “Terimakasih, HTI”.
Nah, bagi orang yang gemar komentar sebelum membaca tentu
pemikiran mereka sudah kemana-mana. Jangan-jangan saya sudah menjadi aktivis
HTI, begitu kira-kira. Padahal, ucapan terimakasih disini memiliki banyak
tafsir. Bisa terimakasih secara harfiah –berdasarkan arti leksikal– ataupun
terimakasih secara kiasan.
Sebelumnya saya tidak pernah mengikuti kelas menulis,
mengikuti pelatihan menulis, atau mengikuti seminar-seminar kepenulisan.
Menulis yang saya maksud disini adalah menulis sebuah tulisan (artikel, esai,
opini) dengan gaya bahasa yang efektif,
analisis yang kuat, fakta yang tepat, data yang akurat, sesuai kaidah
kepenulisan, juga sesuai EYD. Bukan tulisan-tulisan guyonan, curhatan lebay
seperti tulisan saya selama ini. Meskipun dewasa ini banyak situs yang menyediakan
tulisan dengan gaya kepenulisan yang enjoy, ringan, bahkan ngakak-able, namun tetap berbobot. Situs apakah salah satunya?
Mojok.co jawabannya. Sebagai pembaca setia Mojok –yang sudah dua kali mengirim
artikel tapi tetap tak ada jawaban– saya sangat terinspirasi oleh tulisan para
kontributor tetapnya. Gaya menulis mereka memang jempolan. Selalu menyisipkan
kalimat pisuhan menjadi ciri utama
tulisan mereka.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar saya sudah suka
menulis. Menulis karangan, menulis cerita sehari-hari a.k.a diary. Dulu happening sekali menulis diary.
Hampir seluruh teman perempuan di kelas memiliki diary. Hingga saat saya ulang tahun –waktu itu saya kelas 3 sd–
seorang kawan memberi saya kado sebuah buku diary
berwarna hijau muda. Saya rasa sejak saat itu lah warna hijau menjadi warna
favorit saya. Buku diary itu sangat
indah, gaes. Saya tidak pernah
menggunakannya selama bertahun-tahun hingga saya masuk SMP, karena eman. Baru ketika SMP saya mulai mengisi
diary hijau muda itu.
Kegiatan menulis juga khatam saya rasakan ketika sekolah
dasar. Waktu itu ketika ujian Bahasa Indonesia selalu ada soal tambahan untuk
membuat karangan dengan pilihan tema yang telah disediakan. Jika teman-teman
saya paling mentok (bukan bebek lho,
ya ...) menulis setengah lembar folio, saya bisa satu lembar penuh bolak-balik.
Tidak hanya saat sekolah, saat ngaji
dulu pun saya selalu menjadi buruh nulis
puji-pujian. Menulis dalam arti yang sebenarnya. Menggunakan buku/kertas dan
pensil/bolpoin. Kegiatan tulis menulis itu vakum ketika saya mulai memiliki
laptop. Berpindah dari kertas dan pensil, saya mulai mengetik. Ternyata ada
begitu banyak (sekali lagi, bukan bebek lho, ya...) kerugian ketika kita mulai
meninggalkan aktivitas menulis yang sesungguhnya. Maka, saya sangat
berterimakasih ketika semester 4/5 lalu dipertemukan dengan Bapak Agus
Budihardjo. Beliau membuat kami kembali ‘menulis’. Kami dapat tugas resume –tulis tangan– setiap seminggu
sekali. Bahkan tugas akhir kami adalah membuat makalah dengan ditulis tangan.
Tugas-tugas tersebut menjadikan jemari saya kembali lincah. Karena selama
kuliah kegiatan tulis menulis yang paling banyak di lakukan hanya ketika UTS/UAS.
Bicara mengenai menulis, pada dasarnya semua orang bisa
menulis. Hanya jenis dan tingkatannya saja yang membedakan. Saya merupakan tipe
orang yang suka menulis blog dengan tidak berdasarkan judul. Jadi, isinya dulu
yang saya tulis, setelah selesai baru saya memikirkan judul apa yang akan saya
gunakan. Pun sama dengan tulisan HTI itu. Saya menulis dulu segala uneg-uneg di dalam hati, saya tuangkan
apa yang saya pikirkan, setelah selesai baru saya memikirkan judul apa yang
pantas. Akhirnya, muncul ide untuk memberikan judul ‘Terimakasih, HTI’.
Karena judul itu akhirnya banyak reaksi yang timbul.
Angka viewers untuk tulisan itu pun
lumayan tinggi. Selama saya bergumul dengan blog, tulisan saya yang paling
banyak pembacanya yakni “Mereka Hari Ini”. Sebuah tulisan yang saya dedikasikan
untuk ketiga sahabat lama saya. Ada sekitar 95 viewers.
Sebenarnya, teknik pemberian judul merupakan salah satu
elemen penting yang harus kita kuasai agar tulisan kita menarik banyak minat
pembaca. Teknik pemberian judul yang anti mainstream merupakan salah satu trik
agar situs atau blog kita mendapat jumlah kunjungan yang terus meningkat. Namun
jangan seperti kebanyakan tulisan yang memberikan judul tapi sama sekali tidak
sesuai dengan isi. Itu namanya bo .... hong.
Saya belajar hal-hal seperti ini justru bukan dari kelas
menulis, gaes. Saya belajar dari
Drama Korea. Banyak orang yang menganggap remeh perempuan yang suka nonton
drakor. Padahal, mereka tidak tahu, ada banyak tipe perempuan penyuka Drama
Korea. Ada yang sekedar penikmat, ada yang pengamat, ada yang penikmat
sekaligus pengamat, ada juga yang suka menganalisis. Saya termasuk semuanya.
Penikmat iya, pengamat nggak terlalu, menganalisis kadang-kadang, pencatat quotes selalu. Tidak semua Drama Korea
hanya menampilkan kisah-kisah roman picisan.
Salah satu Drama Korea yang saya rekomendasikan untuk
ditonton adalah ‘Pinochio’. Drama dengan 20 episode ini mengisahkan tentang
seorang gadis yang memiliki sindrom pinokio (setiap dia bohong dia akan
cegukan) yang bermimpi menjadi reporter. Tentu mimpi gadis ini sulit sekali
jadi kenyataan. Tidak ada seorang pinokio di dunia ini yang menjadi reporter.
Bagaimana dia akan membawakan berita apabila dia tidak bisa berbohong?
Drama ini mengulik kenakalan-kenakalan dalam dunia
televisi (khususnya stasiun berita). Segala upaya dilakukan oleh seorang
reporter demi mendapat berita yang eksklusif, meskipun mengabaikan fakta.
Mereka tidak tahu berita yang mereka sampaikan akan berdampak sangat besar
terhadap seseorang. Ada hidup seseorang yang hancur hanya karena berita yang
tidak benar. Nah, hal demikian lah yang menjadi magnet dalam drama ini. Mata
kita jadi terbuka. Tidak semua media bekerja dengan jujur. Tidak semua
reporter/wartawan memedulikan fakta. Ketika fakta menjadi tidak penting hanya
karena mengejar rating. Apakah semua media seperti itu? Tentu tidak. Apakah
semua reporter/wartawan seperti itu? Tentu juga tidak.
Salah satu pelajaran yang saya ambil dari drama ini ada
di episode 10. Ada adegan ketika salah satu wartawan senior (Sung Cha Ok)
memberikan seminar tentang menulis berita kepada wartawan junior. Dia
menyampaikan topik seminar “Fakta dan Dampaknya”. Seorang wartawan pernah
bertanya pada Sung Cha Ok tipe pria yang ia suka, lalu Cha Ok menjawab “Saya
menyukai pria yang tinggi.” Keesokan harinya, wartawan tersebut menulis berita
dengan judul “Wartawan Sung Cha Ok menyukai pria yang tinggi”. Ini adalah
laporan yang berdasarkan fakta. Sangat tidak menarik, bukan? Kata Cha Ok. Lalu
Sung Cha Ok memberikan opsi kedua atas judul laporan tersebut, yakni “Wartawan
Sung Cha Ok membenci pria yang pendek”. Jika kalian melihat kedua laporan ini,
mana yang lebih menarik? Serempak peserta menjawab “Yang kedua”. Kok mereka
mau sih jadi yang kedua.
Begitulah kebanyakan pola berpikir seseorang. Orang lebih
tertarik mendengar hal negatif daripada positif. Saya belajar bagaimana cara
memilih judul pada Sung Cha Ok. Namun bukan sebagai wartawan atau reporter, juga
bukan sebagai penulis berita.
Ilmu seperti ini bermanfaat sekali bagi orang yang hobi nulis macam saya. Dari sana, saya juga
terus memperbaiki kualitas tulisan. Mulai dari yang mudah saja, being formal. Ayah Prie G.S pernah
bilang bahwa menjadi formal merupakan suatu keharusan. Bukan untuk menjadi
seorang formalis, melainkan agar kita luwes di sembarang tempat, sembarang
keadaan
Jadi, para jamaah blog ismafawwaz yang baik hatinya, don’t
underestimate the power of drama, ya? Kita tidak pernah tahu bahwa sebuah
drama/film justru akan lebih mudah memberikan pemahaman kepada kita.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar