Selasa, 17 Januari 2017

Nano-Nano Sempro

Akhirnya 16 Januari telah terlewati. Hari dimana 3M melakukan seminar proposal sekaligus sebagai penampil pertama. Iya, 3M. Mey, Melinda, Mahendra, gitu maksudnya.

Kami mendapat kesempatan untuk menjadi cermin bagi kawan-kawan seperjuangan yang lain. Sedangkan kami sendiri tidak memiliki cermin untuk bercermin. Apa yang terjadi pada 3M semalam merupakan cermin untuk yang lain agar mereka dapat memberikan penampilan yang lebih baik lagi.

Seminar yang dihadiri oleh dosen pembimbing utama dan anggota semalam berjalan lancar, meskipun sedikit tegang. Tentu tegang, wong kami adalah penyaji pertama, ditambah dospem kami adalah Pak Purdi dan Bu Leni. Mukaddimah yang disampaiakn Pak Purdi dan Bu Leni menjadi palu yang menghantam-hantam saya semalam. Kalimat-kalimat yang dilontarkan membuat saya kehilangan konsentrasi. Bisa dibilang, semalam itu adalah presentasi saya yang paling buruk selama kuliah.

Dari jam 4 saya tiba di kampus, mengatur ruangan, menata kue, cek materi, saya biasa saja. Beda dengan Melinda, dia sudah sibuk menyiapkan pertanyaan, wajah muram durja, dan sesore itu sudah nggak nyambung saya ajak bicara, padahal seminar masih dua jam lagi. Kondisi fisik dan mental saya juga baik-baik saja hingga saya duduk di depan bersama 2M yang lain. Saya juga masih baik-baik saja saat mengucap salam dan menyapa kawan-kawan yang hadir. Barulah saat pemaparan, saya merasa ada yang salah. Apa yang saya sampaikan tidak seperti yang saya harapkan. Ditambah lagi, ditengah jalan saya ditegur oleh salah satu dosen. Kacau sudah materi yang ada di kepala saya. Mereka menguap pergi.

Dari sana mental saya sudah dangdutan, jungkir balik tidak keruan. Akhirnya waktu saya terbuang sia-sia. Saya kehabisan 10 menit yang berharga itu. Saya duduk kembali dengan khidmat.

Anehnya, perasaan percaya diri itu timbul lagi setelah saya duduk. Karena pemaparan saya yang tidak sampai selesai itu, tentu menjadi kesempatan berharga bagi audience untuk menghajar saya habis-habisan. Nanti saat sesi tanya jawab mereka bisa menanyakan hal-hal yang belum saya sampaikan. Seperti metode penelitian, metode pengumpulan data, teori yang saya gunakan, populasi dan sampelnya kenapa itu, definisi operasionalnya bagimana, dan hal-hal lain yang menyangkut proposal saya.

Namun, hal tersebut tidak terjadi, gaes. Tidak ada yang bertanya pada saya tentang hal-hal tersebut. Hanya Pak Haryono, itu pun setelah saya beri saran untuk bertanya melalui WA. Duh, begini amat yak nasib Hayati.

Ada dua orang yang bertanya pada saya, tapi ya gitu, pertanyaan mereka bukan seputar proposal saya. Hanya hal-hal yang berkaitan dengan fenomena di proposal saya. Sesi tanya jawab ini merupakan ajang pembuktian diri yang semaksimal mungkin saya gunakan. Intinya, merupakan pembalasan dendam atas pemaparan yang tidak sampai selesai tadi.

Dua sesi tanya jawab itu berlangsung panjang dan lama. Saya hanya mendapat tiga pertanyaan dari total 8 penanya. Lima sisanya merupakan jatah Melinda dan Mahendra. Sesi tanya jawab selesai, seminar selesai, barulah evaluasi. Sesi evaluasi ini menjadikan kami –3M– seperti duduk di kursi pesakitan. Kami di adili sedemikian rupa, di patahkan segala semangat, di peras seluruh perasaan, di jatuhkan hasil jerih payah kami, revisi sana-sini.

Evaluasi yang diberikan dosen pembimbing tidak hanya untuk kami yang duduk di depan ini, melainkan juga seluruh mahasiswa yang hari itu duduk di ruangan B13. Selama evaluasi berlangsung saya hanya merasakan perut saya melilit, jantung saya yang ritme detaknya semakin cepat, pikiran saya kemana-mana, konsentrasi terbagi, saya juga sebenarnya tidak terlalu yakin dengan apa yang saya catat semalam. Nasib saya jadi sepeti Ikal, di adili dosen dalam keadaan perut kosong. Kemudian saya ingat, saya hanya sempat berbuka dengan air putih saja. Hampir setengah sembilan akhirnya selesai seluruh rangkaian acara seminar. Saya keluar ruangan dengan perasaan lega.

Dari rumah, saya membuka bekal yang saya bawa tadi dan menghabiskannya hingga tandas. Ibu Bapak saya marah, “Buko kok jam 9!” Biarlah, biarlah mereka nesu seperti itu, perasaan saya sedang bahagia hari ini.

Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh kawan yang telah hadir dalam sempro semalam. Terimakasih untuk para sahabat yang telah membantu kami. Terimakasih Dhaniswara team atas semangat dan dukungan. Terimakasih kepada Bapak dan Ibu dospem yang begitu perhatian sehingga tiap lembar proposal saya tidak luput dari tinta merah, hiks.

Tidak henti saya ucapkan terimakasih pada Bapak Slamet dan Ibu Isro’iyah yang telah mendukung dengan cara-cara yang agak beda dari yang lain. Pokoknya terimakasih banyak. Untuk adik-adikku, terimakasih sudah menjadi adik yang baik dan pengertian dengan tidak meminjam laptop di saat-saat skripsi seperti ini. Peluk cium untuk kalian semuaaaaaaa.

Sebelum SemPro
Thanks to Dhaniswara Team

Tidak ada komentar:

Posting Komentar