Akhirnya 16 Januari telah
terlewati. Hari dimana 3M melakukan seminar proposal sekaligus sebagai penampil
pertama. Iya, 3M. Mey, Melinda, Mahendra, gitu maksudnya.
Kami mendapat kesempatan untuk
menjadi cermin bagi kawan-kawan seperjuangan yang lain. Sedangkan kami sendiri
tidak memiliki cermin untuk bercermin. Apa yang terjadi pada 3M semalam
merupakan cermin untuk yang lain agar mereka dapat memberikan penampilan yang
lebih baik lagi.
Seminar yang dihadiri oleh
dosen pembimbing utama dan anggota semalam berjalan lancar, meskipun sedikit
tegang. Tentu tegang, wong kami
adalah penyaji pertama, ditambah dospem kami adalah Pak Purdi dan Bu Leni.
Mukaddimah yang disampaiakn Pak Purdi dan Bu Leni menjadi palu yang
menghantam-hantam saya semalam. Kalimat-kalimat yang dilontarkan membuat saya
kehilangan konsentrasi. Bisa dibilang, semalam itu adalah presentasi saya yang
paling buruk selama kuliah.
Dari jam 4 saya tiba di kampus,
mengatur ruangan, menata kue, cek materi, saya biasa saja. Beda dengan Melinda,
dia sudah sibuk menyiapkan pertanyaan, wajah muram durja, dan sesore itu sudah nggak nyambung saya ajak bicara, padahal
seminar masih dua jam lagi. Kondisi fisik dan mental saya juga baik-baik saja
hingga saya duduk di depan bersama 2M yang lain. Saya juga masih baik-baik saja
saat mengucap salam dan menyapa kawan-kawan yang hadir. Barulah saat pemaparan,
saya merasa ada yang salah. Apa yang saya sampaikan tidak seperti yang saya
harapkan. Ditambah lagi, ditengah jalan saya ditegur oleh salah satu dosen. Kacau
sudah materi yang ada di kepala saya. Mereka menguap pergi.
Dari sana mental saya sudah dangdutan, jungkir balik tidak keruan.
Akhirnya waktu saya terbuang sia-sia. Saya kehabisan 10 menit yang berharga
itu. Saya duduk kembali dengan khidmat.
Anehnya, perasaan percaya diri
itu timbul lagi setelah saya duduk. Karena pemaparan saya yang tidak sampai
selesai itu, tentu menjadi kesempatan berharga bagi audience untuk menghajar saya habis-habisan. Nanti saat sesi tanya
jawab mereka bisa menanyakan hal-hal yang belum saya sampaikan. Seperti metode
penelitian, metode pengumpulan data, teori yang saya gunakan, populasi dan
sampelnya kenapa itu, definisi operasionalnya bagimana, dan hal-hal lain yang
menyangkut proposal saya.
Namun, hal tersebut tidak
terjadi, gaes. Tidak ada yang
bertanya pada saya tentang hal-hal tersebut. Hanya Pak Haryono, itu pun setelah
saya beri saran untuk bertanya melalui WA. Duh,
begini amat yak nasib Hayati.
Ada dua orang yang bertanya
pada saya, tapi ya gitu, pertanyaan
mereka bukan seputar proposal saya. Hanya hal-hal yang berkaitan dengan
fenomena di proposal saya. Sesi tanya jawab ini merupakan ajang pembuktian diri
yang semaksimal mungkin saya gunakan. Intinya, merupakan pembalasan dendam atas
pemaparan yang tidak sampai selesai tadi.
Dua sesi tanya jawab itu
berlangsung panjang dan lama. Saya hanya mendapat tiga pertanyaan dari total 8
penanya. Lima sisanya merupakan jatah Melinda dan Mahendra. Sesi tanya jawab
selesai, seminar selesai, barulah evaluasi. Sesi evaluasi ini menjadikan kami
–3M– seperti duduk di kursi pesakitan. Kami di adili sedemikian rupa, di
patahkan segala semangat, di peras seluruh perasaan, di jatuhkan hasil jerih payah
kami, revisi sana-sini.
Evaluasi yang diberikan dosen
pembimbing tidak hanya untuk kami yang duduk di depan ini, melainkan juga
seluruh mahasiswa yang hari itu duduk di ruangan B13. Selama evaluasi
berlangsung saya hanya merasakan perut saya melilit, jantung saya yang ritme
detaknya semakin cepat, pikiran saya kemana-mana, konsentrasi terbagi, saya
juga sebenarnya tidak terlalu yakin dengan apa yang saya catat semalam. Nasib
saya jadi sepeti Ikal, di adili dosen dalam keadaan perut kosong. Kemudian saya
ingat, saya hanya sempat berbuka dengan air putih saja. Hampir setengah
sembilan akhirnya selesai seluruh rangkaian acara seminar. Saya keluar ruangan
dengan perasaan lega.
Dari rumah, saya membuka bekal
yang saya bawa tadi dan menghabiskannya hingga tandas. Ibu Bapak saya marah, “Buko kok jam 9!” Biarlah, biarlah mereka
nesu seperti itu, perasaan saya
sedang bahagia hari ini.
Saya mengucapkan terimakasih
kepada seluruh kawan yang telah hadir dalam sempro semalam. Terimakasih untuk
para sahabat yang telah membantu kami. Terimakasih Dhaniswara team atas
semangat dan dukungan. Terimakasih kepada Bapak dan Ibu dospem yang begitu
perhatian sehingga tiap lembar proposal saya tidak luput dari tinta merah,
hiks.
Tidak henti saya ucapkan
terimakasih pada Bapak Slamet dan Ibu Isro’iyah yang telah mendukung dengan
cara-cara yang agak beda dari yang lain. Pokoknya terimakasih banyak. Untuk
adik-adikku, terimakasih sudah menjadi adik yang baik dan pengertian dengan
tidak meminjam laptop di saat-saat skripsi seperti ini. Peluk cium untuk kalian
semuaaaaaaa.
![]() |
| Sebelum SemPro |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar