Jumat, 20 Januari 2017

Biarlah

Memang benar, tidak ada yang abadi di dunia ini. Sebagaimana yang terjadi pada saya, mungkin juga pada orang lain di sekitar saya. Keinginan dan harapan dapat sewaktu-waktu berubah seperti perasaan manusia. Segala hal yang terjadi pada saya akhir-akhir ini, membuat saya berfikir dua kali dalam menentukan langkah. Segala perasaan sedih, marah, kecewa, takut, semua itu mempengaruhi pola pikir saya.

Dulu, saya berani merajut dengan indah mimpi-mimpi yang membuat saya tidak ingin bangun dari tidur. Mimpi-mimpi yang selalu saya dambakan untuk menjadi nyata. Mimpi-mimpi yang –dengan bodohnya– saya yakin akan terwujud. Semua itu hanya mimpi-mimpi yang saya bangun di saat saya belum siap untuk kehilangan. Hari ini saya sadar, saya tidak ingin lagi membangun mimpi-mimpi indah di atas ketidakjelasan hidup. Semua serba gamang, serba tidak pasti. Hari ini A, bisa jadi lusa berubah jadi B, C, bahkan D. Saya sadar, yang seharusnya saya lakukan hanyalah menjalani hidup yang Tuhan berikan hari ini. Besok biarlah jadi urusan untuk besok. Kemarin biarlah jadi pelajaran untuk hidup hari ini dan seterusnya.

Dulu, dengan agresif sekali saya memimpikan hidup bersama orang-orang yang saya kasihi –anak dan suami– di sebuah rumah sederhana. Menikah, menjadi istri serta ibu yang baik. Membuat bekal makan siang untuk anak-anak. Memasak masakan sehat untuk keluarga kecil saya. Membuat kebun toga di belakang rumah. Menanam beragam bunga di halaman depan rumah, dan menyirami mereka setiap sore. Lalu –masih dalam mimpi saya– saya akan mendengarkan murotal untuk bayi yang ada dalam kandungan saya. Membaca buku Andrea Hirata di perpustakaan kecil di sudut rumah. Olahraga atau jalan-jalan sore bersama suami dengan perut yang semakin membesar. Travelling bersama pasangan halal saya. Keluar melihat dunia yang selama ini tidak bisa saya lakukan. Pergi ke tempat-tempat baru. Pergi ke tempat-tempat yang jauh, tanpa perlu khawatir tanpa perlu takut tidak mendapat izin. Serta hal-hal menyenangkan dan menenangkan lainnya. Mendidik putra dan putri saya dengan bekal ilmu yang saya miliki. Melayani suami dengan segenap jiwa dan raga. Menjadi menantu yang disayang oleh mertua. Menjadi perempuan yang dapat diandalkan dalam situasi apa saja. Menjadi ibu yang dapat melihat putra dan putrinya tumbuh dewasa. Menjadi istri yang mendampingi suaminya hingga menua bersama.

Semua hal-hal manis itu selalu saya impikan bersama seseorang. Hingga saya lupa, apa yang sudah saya lakukan untuk keluarga? Apa yang sudah saya berikan untuk mereka? Saya tidak bisa menjadi egois lantas abai kepada mereka, keluarga saya. Semakin jauh, semakin dewasa, seiring berjalannya waktu, saya sadar. Saya memiliki Fahri yang masih sangat membutuhkan saya. Saya memiliki Ardi yang masih harus berjuang bersama saya untuk Bapak dan Ibu kita. Saya memiliki mereka yang masih harus saya bahagiakan. Tidak adil rasanya jika saya hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri saja.

Lantas saya berfikir, tak usah menikah saja! Toh, hukum menikah tidak wajib. Toh, saya tidak akan berdosa jika tidak menikah. Toh, tidak menikah juga bukan suatu kejahatan. Saya akan dedikasikan seluruh hidup saya untuk membahagiakan keluarga. Saya akan sekolahkan Fahri hingga ia masuk ke perguruan tinggi. Saya akan membawa Fahri, Ardi, Bapak dan Ibu pergi melihat tempat-tempat baru. Ya, kami sekeluarga akan pergi seperti dulu. Saya akan mengajak mereka semua nonton film di bioskop. Makan di tempat favorit kami, warung lesehan. Saya akan mengajak mereka semua melakukan hobi yang selama ini mati suri, memancing. Kami juga akan pergi ke rumah saudara-saudara kami.

Ya. Bukankah semua itu juga sesuatu yang membahagiakan? Menyenangkan?

Saya sudah terlalu lelah dengan segala sakit hati ini. Saya tidak bisa percaya siapapun. Saya tidak bisa percaya pada setiap orang yang datang dengan membawa janji-janji. Saya tidak bisa benar-benar memberikan hati saya yang pernah terluka. Saya tidak bisa benar-benar memberi kesempatan pada mereka. Sialnya lagi, saya tidak bisa menemukan obat untuk hati saya yang terluka. Keadaan ini membuat saya marah, membuat saya tidak terima, dan akhirnya kecewa. Sejatuh apa sebenarnya? Mengapa segalanya terasa sulit bagi saya?

Saya tidak bisa memikirkan seseorang lagi selain dia. Sudah selama ini, namun dia masih saja ada. Picik rasanya ketika saya harus berfikir “Jika tidak dengan dia, tak usah menikah saja!” Apa hebatnya dia? Lagi, saya sadar. Urusan hati merupakan urusan pelik yang tak dapat kita mengerti. Urusan hati merupakan urusan rumit yang tak dapat kita selesaikan dengan rumus-rumus fisika. Perasaan tak dapat dipaksakan. Ia tak akan bisa menuju pada orang yang bukan kehendaknya.

Selanjutnya, saya tidak akan memaksa takdir untuk berubah. Apa yang telah terjadi, biarlah. Saya tidak akan memaksa hati untuk berpindah, biarlah. Saya hanya melapangkan hati atas segala hal yang telah terjadi, agar rasa sesak itu terkikis sedikit demi sedikit. Karena saya tahu, ketika saya bersikeras untuk lupa, hal itu hanya sia-sia belaka. Maka, saya tak akan pernah bisa melupakan. Semau apapun, tak akan pernah bisa.

Banyuwangi, 19 Januari 2017 (23.19 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar