Saya masih dalam proses beradaptasi dengan iklim
semester akhir. Beberapa hari ini saya harus bolak-balik kampus untuk bimbingan
proposal skripsi. Di satu kesempatan, saat saya menikmati me-time saya, saya
tersenyum. Ternyata seperti ini rasanya, lelahnya, perjuangannya.
Hari ini saya kembali ke kampus menemui Dosen
Pembimbing, bersama dua rekan seperjuangan saya lainnya. Melinda dan Mahendra.
Selasa lalu saya sudah bimbingan. Pak Purdi memberi revisi pada beberapa bab.
Sudah tentu dan pasti, bab dua. Bab ini memang sungguh luar biasa. Butuh
kesabaran tingkat makrifat untuk menghadapinya.
Sekitar setengah jam, Pak Purdi memberikan wejangan,
nasihat, masukan, kritik, saran, semuanya. Saya bersyukur mendapat DosPem
sebaik beliau, duduk di sebelah beliau seperti duduk di sebelah alm. Kakung.
Keriput di tangannya, gurat lelah di wajahnya, semua seperti Kakung. Nah, kan,
saya jadi rindu Kakung.
Kami bertiga selesai bimbingan menjelang Maghrib.
Mau tidak mau memang harus selesai, karena Pak Purdi harus pulang ke Jember.
Selepas Pak Purdi keluar dari perpustakaan beberapa teman bergabung bersama
kami dan berbicara mengenai persiapan sempro.
Saya masih fokus ke laptop hingga tidak terasa
mereka pamitan pulang. “Muleh ambi sopo, Me?”
“Di susul, Ce.” Saya jawab.
Akhirnya mereka meninggalkan saya di perpustakaan.
Saya bergabung dengan Kakak Lia dan Farin yang berada di sebelah barat
perpustakaan. Ya daripada saya sendirian di depan laptop kaya orang jomblo? Kan
mending gabung sama mereka. Dipikir-pikir, saya kok jadi lebih banyak punya
teman di Ekonomi daripada di fakultas saya sendiri.
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit,
empat puluh menit, berpuluh-puluh menit pun berlalu. Tiba-tiba kaca pembatas
antara ruang baca dan ruang administrasi sudah di ketuk. Kak Lia nyahut, “Iyo,
sek ta.” Saya nggak sadar, saya kira Lia sedang bicara dengan temannya. Lalu,
beberapa detik kemudian baru lah saya ngeh. Ternyata yang ngetuk kaca tadi
mas-mas perpus. Sudah waktunya tutup. Saya ngakak
dalam hati. gimana bisa saya jadi lemot begini?
Akhirnya setelah beberes, saya keluar perpustakaan.
Sudah hampir sepi, hanya satu dua kendaraan yang tersisa. Saya segera sms Ibu
untuk minta di jemput. Sedari tadi saya WA Ardi centang soalnya. Beberapa menit
setelah mengirim sms, saya melangkah ke depan gerbang. Saya berpapasan dengan
Bu Wiwik, TU fakultas pertanian. Kami pun menunggu jemputan berdua. Malam itu
saya dan Bu Wiwik banyak bercerita. Terutama Bu Wiwik. Beliau cerita tentang
anak-anaknya. Beberapa menit berlalu, Bu Wiwik mendapat telepon dari fakultas
dan harus kembali masuk ke kampus.
Saya sendirian. Duduk di depan kampus malam-malam.
Di pinggir jalan raya pula. Tidak lama setelah Bu Wiwik masuk kampus, suami
beliau datang. Saya tahu itu suami Bu Wiwik, tapi suami Bu Wiwik tidak tahu
jika gadis yang duduk sendirian malam itu adalah saya. -__-
Saya terus cek ponsel. Saya terus melihat belokan di
sebelah kampus, barangkali muncul Ardi. Tapi nyatanya dia tidak muncul-muncul.
Ardi bukan tipe orang yang akan membiarkan saya menunggu selama ini,
sebenarnya. Dia sama seperti Bapak, lebih baik dia yang menunggu daripada saya
yang harus menunggu. Lantas saya ingat, saya belum mengisikan pulsa di nomor
Ibu saya.
Segera saya telepon. Jawaban Ibu saya membuat saya
harus ambekan jeru. “Ardi keluar yo,
Abah e belum dateng. Piye terus? Coba adik e telponen.” Saya kepingin nangis, tapi kok ya malu. Bu Wiwik sudah
keluar dari kampus, beliau pamitan ke saya. Bu Wiwik pergi.
Krik…krik…krik… lha terus saya ngapain disini? Saya
harus nunggu mereka pulang sampai jam berapa? Sejam? Dua jam? Tiga jam? Masa
saya pulang jalan kaki?
Saat sedang galau, gundah, dan gulana seperti itu,
seorang gadis beralmamater menghampiri tempat saya duduk. Dia pasti juga
menunggu jemputan. Saya mempersilahkan dia untuk duduk di tempat Bu Wiwik duduk
tadi. Dia tersenyum lantas duduk di sebelah saya. Saya merasa jadi orang
terjutek dan tercuek di dunia. Saya hanya fokus pada ponsel dan terus-terusan
menelpon Ardi. “Maaf nomor yang anda tuju sedang berada d luar jangkauan.” Duh, leeee, kowe nang Pluto ta kok di luar
jangkauan iki -____-
Akhirnya saya pasrah, saya biarkan saja ponsel saya.
Saya mulai mengajak perempuan sebelah saya itu ngobrol.
A = “Habis ujian susulan, Mbak?”
X = “Iya, Mbak.”
Lalu kami diam.
X = “Eh, enggak Mbak, habis ujian sertifikasi.”
Saya tertawa, dia juga.
X = “Mbak nunggu jemputan juga?”
A = “Iya.” (Nunggu
kepastian, Mbak. Kepastian siapa yang akan jemput saya.)
Tidak lama setelah kami ngobrol, seorang Bapak –yang
saya yakin adalah orangtua gadis itu– datang. Gadis itu berdiri dan membetulkan
sepatunya. Si Bapak sempat menyapa saya dan menanyakan rumah saya dimana.
Mungkin beliau tahu jika saya tidak ada yang menjemput. Akhirnya di tawari lah
saya tumpangan. Saya langsung menerima tawaran tanpa pikir panjang.
Sepanjang jalan barulah saya dan gadis yang ternyata
bernama Wasi’a itu cerita panjang lebar. Kami juga bertukar kontak. Rumah
Wasi’a di Rogojampi, saya lupa tepatnya Rogojampi mana. Turun dari motor saya
mengucapkan terimakasih kepada Wasi’a dan Ayahnya. Ayah Wasi’a bilang “Sak koncoan yo kudu gedigu, nduk.”
Dari awal Bapak menawarkan saya tumpangan, saya
sudah ngembung iluh. Dan nasihat
sederhana tadi membuat saya semakin berkaca-kaca. Kami berpisah di depan gang.
Wasi’a dan Ayahnya adalah potret bagaimana
seharusnya manusia berperilaku. Dunia ini butuh lebih banyak orang-orang
seperti Wasi’a dan Ayahnya. Orang-orang yang peduli terhadap sekitarnya,
orang-orang yang menyejukkan dengan perilakunya, orang-orang sederhana dengan
kebiasaan baiknya. Saya dan keluarga saya belajar lagi hari ini, belajar dari
guru kehidupan, guru kami malam ini adalah Wasi’a dan Ayahnya.
Terimakasih, Wasi’a. Terimakasih, Bapak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar