Kamis, 19 Januari 2017

Sudahlah, Kak

Kemarin sebelum ke kampus, saya dan Erni mampir ke SR 21. Disana saya bertemu Kakak Lia, yang pas ketemu, saya selalu berik-berik nggak jelas. Nggak tahu, ketemu siapa saja saya selalu girap-girap begitu, turunan siapa ndane?

Sebelum bicara sepatah, dua patah kata, dia ujug-ujug menodongku dengan pertanyaan. Bahkan sebelum saya sempat duduk di kursi tunggu. “Kak, aku wingi moco blog-mu. HTI iku opo se?” Setelah dia bicara seperti itu di tambah ekspresi wajahnya yang innocent tapi ngeselin, kami berdua ngakak di dalam ruangan yang hanya berisi beberapa orang tersebut.

Namanya juga secret reader, nggak ada yang suruh baca ya dibaca. Saya jawab, “HTI itu Hizbut Tahrir Indonesia, Kak.” Dah, saya hanya jawab sebatas itu saja. Lha kok tiba-tiba dia bilang, “Aku koyok e tertarik melok HTI, Kak.” Saya tidak tahan untuk tidak mendelik dan tentunya ngakak (lagi).

Saya tahu mungkin dia hanya bercanda, atau mungkin juga dia benar-benar serius dengan ucapannya. Karena jaman sekarang susah untuk bedain mana yang serius mana yang nggak serius. *opo to iki?
Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya jika Lia benar-benar jadi kader HTI. MasyaAllah, sudah tentu tidak akan saya temui lagi Lia yang gila seperti hari ini. Nanti, pasti saya akan menemui Lia dengan keadaan lain. Lia yang bergamis, bercadar, berkaos kaki, berubah tutur katanya, anggun langkahnya, santun perilakunya, pokoknya Lia yang lain, lah.

Sudah, Kak. Janganlah kamu memikirkan hal-hal seperti itu dulu. Lebih baik kau urus dulu urusan skripsi dan urusan perasaan yang masih jungkir balik nggak keruan. Nanti, ada saatnya kita duduk bersama, cerita ini itu sambil ngopi. Ya? Huwehehehe …
Lagi pula, saya sanksi, bisa-bisa HTI nggak omes punya kader kaya kamu, Kak. -___-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar