Jumat, 20 Januari 2017

Pertemuan Singkat

Sejauh apapun kita berada, dia akan tetap dekat. Selama apapun kita tak bertemu, dia akan tetap menjadi dia, sahabat kita. Hari ini saya pergi ke perpustakaan daerah. Selain karena buku yang hendak saya cari, saya juga rindu tempat ini. Sampai di sana, saya bertemu Mbak Inung, Mbak Putri dan Mas Rama. Mereka wajah-wajah lama yang telah akrab dengan saya. Mbak Inung sempat mengucapkan selamat atas sempro yang telah saya lalui. Saya dan dia sama. Dulu, Mbak Inung adalah peserta sempro pertama.

Setelah basa-basi yang lumayan lama dengan para penghuni perpustakaan itu, saya masuk ke ruang baca. Dari dalam, ada seseorang yang melambai-lambai ke arah saya. Saya sempat tidak mengenali, karena lumayan jauh. Tapi, beberapa detik kemudian saya segera sa’i (lari-lari kecil maksudnya, wkwk) menghampiri perempuan itu.

Saya tidak menyangka jika dia kemari hari ini. Memang tempo hari dia bertanya apakah masuk ke perpustakaan harus memiliki kartu anggota terlebih dahulu? Saya jawab tidak. Lha, kok hari ini kami bertemu. Seperti biasa, saya selalu heboh. Kami berpelukan macam pelem India, cipika-cipiki, dan ceriwis ra wis wis.

Beginilah fenomena mahasiswa tingkat akhir, banting setir tempat nongkrong. Kami bercerita tentang masing-masing tugas akhir kami. Dia menumpahkan segala kekesalan akibat tiga kali ganti judul. Saya lalu ingat Melinda, yang sudah melakukan seminar tapi lantas harus ganti judul. Duh, nyut-nyutannya everywhere, gaes.

Pertemuan kami hanya singkat saja, namun manjur lah untuk mengobati rindu. Nampaknya, setelah ini dia akan lebih lama berada di Banyuwangi. Karena lokasi penelitiannya ada di Banyuwangi. Begitulah, sejauh apapun kita pergi, rumah selalu menjadi tempat ternyaman.

Akhirnya, setelah sesi pemotretan (baca: selfie) usai, saya terlebih dulu pulang. Oh ya, ternyata chemistry kami masih saja seperti yang dulu. Tak sengaja saya lihat kunci loker dia, disana tertulis angka 19. Sedangkan kunci loker saya nomor 18. Hahahaha, saya langsung ngikik-ngikik nggak jelas. Kami lupa, ini perpustakaan, bukan pasar. Kami tak bisa seenaknya saja tertawa terbahak-bahak.

Sekali lagi saya bilang, sejauh apapun kita berada, dia akan tetap dekat. Selama apapun kita tak bertemu, dia akan tetap menjadi dia, sahabat kita. Sahabat akan tetap jadi sahabat, sejarang apapun kita bertemu. Oke, Cut, selamat menempuh tugas akhir. Nikmati setiap sakit, lelah, pusing dengan hati yang gembira. Meskipun saya tahu hal tersebut tidak mudah dilakukan. Siapa yang akan tetap gembira saat dihadapkan pada tugas akhir yang sungguh menguras tenaga?

Ciee berurutan :D
Si pipi jembar :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar