Sejauh apapun kita berada, dia akan tetap dekat. Selama apapun kita tak
bertemu, dia akan tetap menjadi dia, sahabat kita. Hari ini saya pergi ke
perpustakaan daerah. Selain karena buku yang hendak saya cari, saya juga rindu
tempat ini. Sampai di sana, saya bertemu Mbak Inung, Mbak Putri dan Mas Rama.
Mereka wajah-wajah lama yang telah akrab dengan saya. Mbak Inung sempat
mengucapkan selamat atas sempro yang telah saya lalui. Saya dan dia sama. Dulu,
Mbak Inung adalah peserta sempro pertama.
Setelah basa-basi yang lumayan lama dengan para penghuni perpustakaan itu,
saya masuk ke ruang baca. Dari dalam, ada seseorang yang melambai-lambai ke
arah saya. Saya sempat tidak mengenali, karena lumayan jauh. Tapi, beberapa
detik kemudian saya segera sa’i
(lari-lari kecil maksudnya, wkwk) menghampiri perempuan itu.
Saya tidak menyangka jika dia kemari hari ini. Memang tempo hari dia
bertanya apakah masuk ke perpustakaan harus memiliki kartu anggota terlebih
dahulu? Saya jawab tidak. Lha, kok
hari ini kami bertemu. Seperti biasa, saya selalu heboh. Kami berpelukan macam pelem India, cipika-cipiki, dan ceriwis
ra wis wis.
Beginilah fenomena mahasiswa tingkat akhir, banting setir tempat nongkrong.
Kami bercerita tentang masing-masing tugas akhir kami. Dia menumpahkan segala
kekesalan akibat tiga kali ganti judul. Saya lalu ingat Melinda, yang sudah
melakukan seminar tapi lantas harus ganti judul. Duh, nyut-nyutannya
everywhere, gaes.
Pertemuan kami hanya singkat saja, namun manjur lah untuk mengobati rindu. Nampaknya,
setelah ini dia akan lebih lama berada di Banyuwangi. Karena lokasi
penelitiannya ada di Banyuwangi. Begitulah, sejauh apapun kita pergi, rumah
selalu menjadi tempat ternyaman.
Akhirnya, setelah sesi pemotretan (baca: selfie) usai, saya terlebih dulu
pulang. Oh ya, ternyata chemistry kami masih saja seperti yang dulu. Tak
sengaja saya lihat kunci loker dia, disana tertulis angka 19. Sedangkan kunci
loker saya nomor 18. Hahahaha, saya langsung ngikik-ngikik nggak jelas. Kami
lupa, ini perpustakaan, bukan pasar. Kami tak bisa seenaknya saja tertawa
terbahak-bahak.
Sekali lagi saya bilang, sejauh apapun kita berada, dia akan tetap dekat.
Selama apapun kita tak bertemu, dia akan tetap menjadi dia, sahabat kita.
Sahabat akan tetap jadi sahabat, sejarang apapun kita bertemu. Oke, Cut,
selamat menempuh tugas akhir. Nikmati setiap sakit, lelah, pusing dengan hati
yang gembira. Meskipun saya tahu hal tersebut tidak mudah dilakukan. Siapa yang
akan tetap gembira saat dihadapkan pada tugas akhir yang sungguh menguras tenaga?
![]() |
| Ciee berurutan :D |
![]() |
| Si pipi jembar :D |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar