Selasa, 28 Maret 2017

The Power of Stalking

Saat sedang membuka Direct Message di Instagram siang ini, saya mendapat satu permintaan pesan masuk. Dari penglihatan saya yang insyaAllah masih baik ini, saya tidak mengenali perempuan berjilbab dengan username *ah******a* itu
 
Pesan itu ia kirim kemarin, dan baru saya buka hari ini. Dari caranya menyapa saya, dia berhasil mendapat kesan baik dimata saya. Saya menyampaikan permintaan maaf karena baru sempat membalas pesannya. Dia tipe perempuan yang mudah akrab dengan orang lain, buktinya ya perkenalan kami hari ini.
Perempuan itu meminta ngobrol via WA agar komunikasi kami lebih lancar, saya pun memberikan nomor WA saya, meskipun saya masih bertanya-tanya siapa perempuan ini. Karena akun instagramnya di gembok saya jadi nggak bisa stalking. Saya udah keder aja, jangan-jangan dia haters yang mau labrak saya. Tapi kan saya bukan Ayu Ting-Ting. *skip
Tidak lama kemudian akhirnya dia menghubungi saya lewat WA. Dia memperkenalkan namanya –meskipun saya sudah tahu namanya, karena sudah kenalan di Instagram– dan langsung menanyakan tentang seorang laki-laki. Isi pesan WA-nya sebagai berikut:
“Assalamu’alaikum mbaa mey, ini ***ra. Hehe maaf yaaa sebelumnya sudah mengganggu. Hmmm ini aku mau tanya, tentang *** (menyebut nama seorang laki-laki) hehe kenal kan pasti, mbaa aja ya yang tau kalau aku tanya tanya ini. Jadi gini, cuman mau tanya sih mbaa, mas tiiiit sama mba tiiiit itu apa pacaran? Kalau misalnya memang iya, yah gppa sih, jadi kan aku bisa jaga jarak, hehe.” (Sudah pasti nama saya sensor, gaes. Saya nggak mau di perkarakan ke meja hijau kalau sampai mencatut nama seseorang)
Saya kenal laki-laki yang namanya dia sebut, nggak terlalu kenal tapi saya tahu dia adalah mantan pacar sahabat saya. Sepersekian detik setelah membaca pesan tersebut, saya segera paham situasinya. Perempuan ini pasti sedang dekat dengan mantan pacar sahabat saya itu. Hebat, dia berani menghubungi saya untuk memastikan apakah sahabat saya dan mantan pacarnya itu masih ada hubungan atau tidak. Dengan kata lain, dia tidak mau di cap sebagai perusak hubungan orang. Padahal saya ini sahabatnya mantan pacar laki-laki yang lagi deketin dia. Paham nggak, gaes, dengan kalimat saya barusan?
Perempuan ini apa ya nggak mikir kalau bisa saja saya malah ngomelin dia karena udah deket-deketin pacar orang, eh, maksutnya mantan pacar orang. Kalau saya tega, saya bisa aja bilang kalau sahabat saya itu hubungannya masih pacaran sama mantannya. Biar apa? Ya biar perempuan yang nge-DM saya ini nggak deket-deket lagi sama Mas Tiiit. Tapi perempuan ini beruntung, dia nge-DM orang yang tepat, yaitu saya. Ya saya jelaskan bagaimana hubungan sahabat saya dan bekas pacarnya itu. Mereka sudah putus.
Lantas saya tanya ke perempuan itu, dari mana dia tahu kalau saya kenal dengan Mas tiiit, dan jawaban dia membuat saya berdecak, “Keren nih perempuan.” Dia jawab dari stalking. Saya tidak menyangka jika dia akan menjawab seperti itu. Jujur, polos, nggapleki.
Saya masih tidak habis pikir bagaimana cara dia stalking hingga akhirnya memutuskan untuk memilih saya sebagai sumber informan. Perempuan memang makhluk Tuhan paling luar biasa dalam hal stalking. Kemampuan stalkingnya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan tidak jarang perempuan membenci perempuan lain yang ia stalking padahal kenal pun tidak. Atau, perempuan membenci mantan pacar pacarnya, kebencian seperti itu selalu tumbuh dengan alami meskipun perempuan sendiri tidak tahu apa sebabnya.
Kejadian DM hari ini memberi pelajaran. Pertama, betapa the power of stalking itu terbukti benar adanya. Kedua, menjadi perempuan harus berani menentukan sikap, jangan mau berada dalam pusaran kisah asmara yang belum tuntas. Ketiga, jangan percaya dengan laki-laki. Poin ketiga ini sangat penting. Saya tadi sempat menanyakan apakah Mas tiit itu sedang mendekati kamu? Kamu yang dimaksud dalam tulisan ini adalah perempuan yang nge-DM saya. Perempuan itu menjawab iya, sudah hampir tiga bulan. “Soalnya aku juga ngga enak kalau ternyata mas tiit masih ada hubungan sama mba tiit. Kalau masnya sih bilang udah ngga ada apa-apa, tapi kan yah mulut bisa berbohong.”
Saya setuju. Apalagi mulut laki-laki, yang udah nikah aja masih bisa bilang perjaka. Apalagi yang cuma pacaran?
Mau gimanapun, perempuan ini sudah beritikad baik. Dia hanya memastikan bahwa laki-laki yang sedang mendekatinya tidak sedang memiliki hubungan dengan wanita lain. Saya salut. Dan, setelah saya baca lagi tulisan saya ini, kok rasanya agak anu ya … karena begitu banyak kata “Mas tiiit dan Mbak tiiit”. Nggak sedap gitu dibacanya.
Sumber : Instagram

2 komentar:

  1. muehehehe.. oh perempuann..
    Untung tiitt.. tiitt.. nya gak kepleset. eh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk, perempuan dengan segala kompleksitasnya.
      Kepleset? Emang apaan tuh? :D

      Hapus