Panas sekali siang ini?
Aku hanya didepan laptop berjam-jam tanpa menyentuh tugas-tugas. Mungkin karena terlalu banyak hingga aku bingung mana yang harus kukerjakan terlebih dahulu. Ini juga membuat kepalaku semakin panas.
Jadilah siang ini aku hanya membuka sosial media, searching materi tugas, dan menulis.
Kenapa judulnya menghargai Mey?
Entah.
Aku hanya ingin menulis tentang ini.
Apa iya aku setidak menghargai itu?
Apa iya aku egois?
Apa iya aku tidak menghargai dia?
Dia siapa?
Manusia.
Dia bilang dia hanya ingin dihargai.
Apa yang harus kulakukan? Aku sudah menghargai perasaannya.
Siapa yang bisa menolak, jika rasa itu datang pada kita?
Tidak ada satu pun.
Aku sudah membiarkanmu. Silahkan.
Tapi maaf jika rasa itu tak berbalas.
Maaf.
Lalu mengapa kau sebut aku tidak menghargaimu?
Apa aku harus membalas rasamu? Apa dengan itu baru kau bilang aku menghargaimu?
Hanya kebohongan besar yang akan kau dapat.
Kamu pribadi yang baik.
Disana, di luar sana masih sangat banyak bunga yang bermekaran dengan semerbaknya masing-masing. Namun ternyata kau gigih sekali untuk mendapat satu bunga idamanmu.
Kamu hanya membuatku merasa bersalah.
Seolah hanya aku yang patut disalahkan dalam persoalan ini.
Teman-temanku, teman-temanmu, semuanya menyalahkanku.
Lihat sendiri kan?
Ini soal hati. Ini soal perasaan.
Bukan soal matematika yang bisa kau kalkulasi.
Hati, perasaan, tidak bisa dipaksa. Mengertilah.
Kau boleh menungguku sekuatmu. Itu hakmu.
Tapi tolong, buka juga hatimu untuk yang lain. Untuk yang lebih segala-galanya daripada aku.
Aku yakin pasti ada kawan.
Harapanku ...
Mudah-mudahan kau tidak seperti Qais yang menjadi gila karena Laila.
Mudah-mudahan kecintaanmu pada manusia tidak melebihi kecintaanmu pada-Nya
Mudah-mudahan kau bisa menerima segala keputusanku dengan hati yang lapang.
Bahkan aku sudah memutuskannya jauh sebelum ini.
Memang, tidak ada yang bisa menebak hati manusia.
Dia Yang Maha Membolak-balikkan hati.
Aku bisa melihat ketulusanmu.
Aku bisa melihat kegigihanmu.
Aku bisa merasakan besarnya rasa itu.
Tapi, sekali lagi hanya maaf yang bisa aku lontarkan.
Ketika kau sudah lelah, bangkitlah, temukan wanitamu diluar sana.
Aku berdoa untuk yang terbaik.
Yang terbaik untuk orang-orang disekeliling kita.
Aku juga tidak terlalu pandai untuk memahami setiap isi pesan yang kau kirim tengah malam.
Pesan-pesan yang kau tulis entah pukul berapa, lalu kau kirim padaku.
Pesan-pesan yang sama sekali tak kupahami isinya.
Tapi, aku menghargaimu dengan ini semua.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar