Rabu, 15 Oktober 2014

Capture Everywhere

“Eh, tolong fotoin dong?”
“Foto yuuk, pemandangannya bagus nih.”
“Hei, cus selfie. Mumpung disini.”

Pernah mendengar percakapan seperti itu? Atau pernah berbicara seperti itu? Atau bahkan pernah dimintain tolong buat ngefotoin?

Hehe, it’s oke kawan. Itu hanya ilustrasi.

Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang suka sekali berfoto. Dimanapun.

Selfie? Yes, I do it.

Aku pernah membaca sebuah artikel yang menunjukkan bahwa seseorang yang selfie addict (ngerti selfie addict kan?) memiliki masalah dengan kejiwaannya. Seriously?

Entahlah. Tapi sejak membaca artikel itu aku jadi sering melihat diriku di cermin (terus bilang “wahai cermin, katakan siapa yang lebih cantik, aku atau dia”) #halaaah

Am I crazy? What’s wrong with my soul?

Ah, aku baik-baik saja kok. Lalu bagaimana mereka yang selfie addict bisa dikatakan memiliki gangguan kejiwaan? Can explain?

Aku memang suka berfoto. Tapi untuk selfie aku hanya melakukannya ketika mood-ku sedang baik. Itu pun jarang. Apalagi untuk bergaya seperti foto yang beredar di jejaring sosial saat ini. Manyun, melet, merem, melotot, datar alias nggak ada ekspresinya.

Duuhh, kalian foto atau nakut-nakutin sih. Maunya sih biar imut, tapi kok kaya minta ditabok gitu yaa. Sudahlah girls, foto yang biasa-biasa aja. Natural is beauty, kan?
Aku paling suka foto di tempat-tempat yang baru pertama kali aku kunjungi (ya you know lah, buat kenang-kenangan).

Sampai-sampai temanku bilang “Iki nang ndi ae mesti foto wes” (kamu ini dimana aja selalu foto)

Hey, adakah yang salah? Aku hanya mengeksplorasi kesenangan-kesenanganku. Foto yang kuambil itu juga akan jadi kenangan untukku di masa mendatang.

Bisa kalian bayangkan, jika saja dulu Latief Hendraningrat tidak lupa untuk menghubungi Sotarto dari PFN (Pusat Film Nasional) untuk mendokumentasikan peristiwa bersejarah Proklamasi?
Tentu saat ini akan ada banyak dokumentasi Proklamasi yang dapat kita nikmati.

Untung waktu itu ada Frans Mendur yang pelat filmnya tersisa tiga lembar. Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu dokumentasinya hanya ada tiga saja. Gambar yang sering muncul dalam buku-buku sejarah, yakni saat Soekarno membacakan teks proklamasi, pada saat pengibaran bendera dan sebagian foto masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu.

Yah, aku sering menarik nafas panjang untuk hal ini.
Andai saja. Andai saja Mbah Latief nggak lupa.
Ah, tapi sudahlah. Manusia memang tempatnya salah dan lupa.

Foto itu bisa jadi cerita. Foto itu bisa jadi kenangan untuk anak cucu kita.
So, berfotolah selagi sempat. Dimanapun dan kapanpun. :D

See you^^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar