“Eh, tolong fotoin dong?”
“Foto yuuk, pemandangannya bagus nih.”
“Hei, cus selfie.
Mumpung disini.”
Pernah mendengar percakapan seperti itu? Atau pernah
berbicara seperti itu? Atau bahkan pernah dimintain tolong buat ngefotoin?
Hehe, it’s oke
kawan. Itu hanya ilustrasi.
Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang
suka sekali berfoto. Dimanapun.
Selfie? Yes, I
do it.
Aku pernah membaca sebuah artikel yang menunjukkan
bahwa seseorang yang selfie addict
(ngerti selfie addict kan?) memiliki
masalah dengan kejiwaannya. Seriously?
Entahlah. Tapi sejak membaca artikel itu aku jadi
sering melihat diriku di cermin (terus bilang “wahai cermin, katakan siapa yang
lebih cantik, aku atau dia”) #halaaah
Am I crazy? What’s wrong
with my soul?
Ah, aku baik-baik saja kok. Lalu bagaimana mereka
yang selfie addict bisa dikatakan
memiliki gangguan kejiwaan? Can explain?
Aku memang suka berfoto. Tapi untuk selfie aku hanya
melakukannya ketika mood-ku sedang
baik. Itu pun jarang. Apalagi untuk bergaya seperti foto yang beredar di
jejaring sosial saat ini. Manyun, melet, merem, melotot, datar alias nggak ada
ekspresinya.
Duuhh, kalian foto atau nakut-nakutin sih. Maunya
sih biar imut, tapi kok kaya minta ditabok gitu yaa. Sudahlah girls, foto yang biasa-biasa aja. Natural is beauty, kan?
Aku paling suka foto di tempat-tempat yang baru
pertama kali aku kunjungi (ya you know lah, buat kenang-kenangan).
Sampai-sampai temanku bilang “Iki nang ndi ae mesti
foto wes” (kamu ini dimana aja selalu foto)
Hey, adakah yang salah? Aku hanya mengeksplorasi
kesenangan-kesenanganku. Foto yang kuambil itu juga akan jadi kenangan untukku
di masa mendatang.
Bisa kalian bayangkan, jika saja dulu Latief
Hendraningrat tidak lupa untuk menghubungi Sotarto dari PFN (Pusat Film
Nasional) untuk mendokumentasikan peristiwa bersejarah Proklamasi?
Tentu saat ini akan ada banyak dokumentasi
Proklamasi yang dapat kita nikmati.
Untung waktu itu ada Frans Mendur yang pelat filmnya
tersisa tiga lembar. Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah itu
dokumentasinya hanya ada tiga saja. Gambar yang sering muncul dalam buku-buku
sejarah, yakni saat Soekarno membacakan teks proklamasi, pada saat pengibaran
bendera dan sebagian foto masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu.
Yah, aku sering menarik nafas panjang untuk hal ini.
Andai saja. Andai saja Mbah Latief nggak lupa.
Ah, tapi sudahlah. Manusia memang tempatnya salah
dan lupa.
Foto itu bisa jadi cerita. Foto itu bisa jadi
kenangan untuk anak cucu kita.
So, berfotolah selagi sempat. Dimanapun dan kapanpun.
:D
See you^^


Tidak ada komentar:
Posting Komentar