Aku selalu tidak bisa menahan air mata ketika membaca tulisanmu. Membaca tiap-tiap kata yang membuatku terluka. Apalagi di bagian yang itu. Sungguh, aku terluka.
Aku bahkan selalu mengutuki diri sendiri atas sikapku.
Tapi aku juga benci padamu. Dengar. Aku membencimu.
Aku membenci sikapmu. Aku membenci keras kepalamu. Aku membenci dirimu.
Mudah sekali kamu menyerah. Mudah sekali kamu memutuskan segalanya.
Mudah sekali kamu berkesimpulan seperti itu? Mudah sekali kamu meninggalkan aku.
Bahkan, mudah sekali kamu menyingkirkan posisiku.
Kau tahu? Sejak kita tak berkomunikasi apa yang kuperbuat?
Aku hanya menunggumu.
Aku hanya mempersiapkan diriku sebaik mungkin.
Aku hanya merawat dengan baik perasaanku.
Aku hanya sibuk membayangkan harapan-harapanku padamu.
Aku hanya sibuk menceritakanmu pada Ibuku.
Dan, aku hanya sibuk menjaga hatiku.
Tapi kau? Apa yang kau lakukan?
Kau bahkan mencoba melupakan aku.
Aku pikir dengan kita tak berkomunikasi aku masih tetap bisa ada.
Ternyata salah.
Kau menjauh. Semakin jauh. Aku yang tidak menyadarinya.
Aku masih menganggapmu baik-baik saja.
Tapi semua hilang. Aku kehilanganmu.
Ketika aku sibuk meminta yang terbaik untuk kita, kau sudah tidak memikirkan aku.
Bodoh. Bodoh sekali aku memintamu untuk menjaga hati waktu itu.
Padahal tanpa sepengetahuanku kau sedang berusaha untuk menjaga hati yang lain.
Ya. Kau menjaga hati yang lain.
Kenapa??? Kenapa kau tidak mencoba menghubungiku?
Kau marah padaku?
Aku juga marah padamu.
Kenapa cara kita mengatasi kemarahan kita berbeda?
Kau putus asa. Aku malah memupuk asa. Bodoh memang.
Aku pikir kau masih berusaha untuk menjaga hatimu.
Aku pikir kau tidak lagi mencari yang lain, seperti yang kau bilang padaku untuk tidak mencari yang lain karena kau melakukan hal sama.
Aku pikir kau masih tetap pada tujuanmu.
Lalu kemana hilangnya kata-kata itu?
Kemana perginya semangat untuk terus berjuang?
Bagaimana nasib nama yang tersimpan dalam hati ini?
Biar saja. Aku tetap menyimpannya. Menyimpan namamu.
Bagaimana nasib nama yang tersimpan dalam hati ini?
Biar saja. Aku tetap menyimpannya. Menyimpan namamu.
Semakin aku membencimu, semakin kuat rasa itu tumbuh.
Semakin aku membencimu, semakin aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku lemah. Aku tidak sekuat dan setegar itu, ternyata.
Lihatlah.
Kamu menjadikan aku tanah kosong yang semakin tandus. Karenamu, aku menjadi tanah yang semakin gersang. Semakin panas. Semakin tak bersahabat.
Dinding yang pernah kau coba robohkan itu kini benar-benar hancur berantakan.
Lantas kau pergi begitu saja tanpa mencoba memperbaiki dinding itu?
Biarlah. Pergi saja. Biar aku yang memperbaikinya seorang diri.
Ini dindingku. Milikku.
Akan kubuat fondasi yang lebih kuat. Akan kubangun dinding itu dengan segala sisa kekuatan yang kupunya. Dinding yang akan lebih kutinggikan. Dinding yang akan semakin lebar.
Hingga tidak ada lagi yang bisa melihat kedalamnya. Tidak ada yang menggangunya.
Sudahlah. Kita tidak bisa memutar waktu untuk kembali. Life must go on. Aku dan kamu memang tidak seperti dulu. Aku dan kamu memang sudah berbeda. Aku dan kamu berada dalam situasi yang tidak indah lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar