Kamis, 30 Oktober 2014

Masih Tentangnya

Inda, masih ingat saran yang kau beri padaku beberapa waktu yang lalu?
Aku mengikutinya Nda.
Ya, aku mengikuti saran darimu.
Aku memberinya semangat.
Aku mencoba menyapanya terlebih dahulu.
Kau tahu, aku sangat grogi saat melakukannya.

Aku memang menerima balasan darinya.
Tapi balasan itu malah membuatku kalut. Aku tidak mengerti apa yang dia katakan.
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud waktu itu.
Dia pun tak menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Baru setelah kejadian itu, kejadian yang belum kau tahu Nda ...
Aku menyadari semuanya. Semua yang dia maksud. Semua yang dia katakan.
Aku tak pernah menyesal melakukan saran darimu.
Karena dengan itu aku mendapat jawaban.
Aku juga tak pernah menyesal mengirim gift yang kutulis lama sebelum dia berulang tahun.
Karena dengan itu semua, aku bisa mengetahui yang sebenarnya terjadi.

Inda, kau tahu sendiri kan bagaimana sikapku saat kita pertama kali bertemu dengannya dulu?
Aku selalu tersenyum mengingatnya.
Melihat dia untuk yang pertama kali.
Menjabat tangannya untuk yang pertama kali, dan sudah tidak lagi dilakukan walaupun telah bertemu enam kali.
Duduk disebelahnya.
Berbicara langsung.

Aku tahu kau sedang mengutuki sikapku waktu itu Nda. Sikap yang aku sendiri bingung harus bagaimana.
Saat kita pulang, mati-matian kau menasihatiku.
Mengkritik segala gerak-gerikku. Aku hanya tersenyum mendengarmu. Aku hanya tersenyum melihat kau yang sangat cerewet pada sikapku soal asmara.
Aku juga menikmati rasa keingintahuanmu tentang bagaimana aku bisa mengenalnya.
Aku juga menikmati rasa keterkejutanmu saat kau tahu dialah orang yang akan kita temui pagi itu.

Inda, kamulah orang yang pertama kali menyetujui aku mengenalnya.
Kamu orang yang pertama kali mendukungku mati-matian.
Bahkan kamu juga menyarankan aku untuk tidak lagi pada prinsispku. Gila kau. Teman macam apa yang tega menjatuhkan prinsip temannya sendiri?

Kau tahu Nda. Aku sangat menikmati saat kau bercerita segala tentang dia.
Aku sampai tak memotong satupun ceritamu.
Iya kan? Aku membiarkanmu berbicara sepanjang perjalanan kita pulang.

Sekarang semuanya berbeda Nda.
Kamu tidak lagi melihat mataku yang berbinar dan pipiku yang memerah saat bercerita tentang dia.
Kamu tidak lagi melihat itu.

Mey, jadi tulisan ini masih tentang dia?
Iyalah, tentang dia. Siapa lagi?
Dia yang menyebalkan.

Aku tidak akan lupa. Aku juga tidak berniat melupakan semuanya.
Karena hanya sia-sia.
Aku terus ingat hal-hal itu.
Hal-hal konyol yang pernah kita bicarakan.
Hal-hal serius yang juga pernah kita diskusikan.
Maafkan aku ya? Maafkan aku yang menyebalkan ini. Maafkan segala sifat yang pernah membuatmu sangat marah padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar