4 September 2014.
Pertemuan pertama dengan mata kuliah Bahasa Inggris di semester tiga.
Mr. Sandi meminta kami menuliskan, three things you'd like to do after you have graduated.
Dengan ringan dan cepatnya, saya menulis :
1. Working.
2. Married
3. Travelling
Teman saya nyeletuk.
"wah mey iki pikirane wes nikah ae ag" | "wah mey ini pikirannya sudah nikah aja"
I don't care. Toh akhirnya dia (temen yang nyeletuk tadi) menambahkan married di daftar rencananya (setelah mencantumkan rencana-rencananya yang superrr sekali, dan setelah di tipe-x berkali-kali) :D
This is my planning, bro.
Nomor dua dan tiga bisa berubah-ubah. Sesuai pasangan (mungkin).
Ketika saya mendapat pasangan yang berhobi sama, sama-sama suka jalan-jalan, komposisi urutan akan tetap sama. Kami akan jalan-jalan setelah menikah. Seru pasti. Kemana-mana berdua, nggak ada yang ngelarang. Kan sudah sah :D
Sebenarnya, salah satu alasan juga adalah karena saya suka jalan-jalan tapi minim sekali jalan-jalan.
Travelling. Travelling dalam arti yang sesungguhnya. Pergi ke tempat-tempat wisata yang untuk bisa sampai disana butuh waktu berjam-jam. Pergi ke tempat-tempat dengan memanfaatkan kereta. Pergi ke tempat-tempat yang jauuuuh sekali. Bertemu dengan orang-orang baru. Bertemu dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Bertemu dengan budaya-budaya baru.
Kamu dan aku. Pasti menyenangkan.
Selama ini apa?
Saya belum pernah merasakan bebas. Bebas dalam arti bisa kemana saja yang saya mau.
Ya. Orangtua. Terutama Abah.
They are sooooo protective.
Mungkin saya masih dianggap belum dewasa. Sehingga apapun dan bagaimanapun saya, Abah akan tetap menganggap saya sebagai putri kecilnya yang belum dewasa.
Tuhan, kadang saya berpikir bahwa kenapa sulit sekali meyakinkan beliau. Meyakinkan bahwa, saya, gadis 19 tahun ini sudah mumayyiz. Saya akan tetap menjadi putri kecilmu yang baik. Tetap akan menjadi milikmu.
Tidak akan saya tega melukai kalian dengan apapun.
Cita-cita indah yang saya harapkan.
Semoga Dia senantiasa meridhoi.
Bahagia sekali kan jika kita pergi dengan laki-laki berdua saja, pergi dengan laki-laki dalam waktu yang lama, entah pagi siang sore malam, pergi dengan laki-laki yang tidak membuat hati orang tua cemas, karena laki-laki itu adalah suami kita.
Karena laki-laki itu adalah pelindungmu, menggantikan Ayah, Papa, Bapak, Abi, atau Abahmu.
Saya sering iri melihat teman-teman yang bisa jalan-jalan dengan lelakinya kemana saja. Tempat wisata, mendaki gunung, hunting foto, atau sekedar jalan-jalan ngabuburit bersama. Dan itu all day long. Huufftt ...
Iri memang.
Tapi, alangkah indahnya jika laki-laki itu adalah dia yang sudah halal bagimu.
So, saya tidak lagi iri dengan mereka :)
Yaa, terlalu banyak angan-angan saya untuk masa depan.
Terlalu banyak hal-hal yang ingin saya lakukan dimasa depan.
Pertanyaannya.
Sudahkah well-prepare?
Tarik nafas.
Saya sedang mempersiapkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar