Sabtu, 25 Oktober 2014

Bersyukur Pada Segala (Kaki Kecil)

Sore ini saya pergi ke Taman Makam Pahlawan Sayu Wiwit. Ada janji dengan kawan-kawan kelas untuk ikut belajar bersama. Mata kuliah Statistik agaknya membuat kawan-kawan saya (yang kebanyakan pegawai) sedikit mengalami kesulitan. Sama hal-nya dengan mata kuliah Akuntansi yang kami dapat di semester lalu.

Alhamdulillah, kawan-kawan mempercayakan saya untuk dapat membantu menyelesaikan tugas mereka. Saya pun dengan sabar melayani pertanyaan mereka semampu saya. Bukan hanya saya sebenarnya, banyak dari mereka yang bisa dan mampu untuk dimintai pertolongan. Namun, rasa tidak pede masih ada dalam tubuh mereka. Lalu, bagaimana dengan saya? Apakah saya percaya diri membantu mereka?

Awalnya tidak. Karena saya masih merasa kemampuan saya belum mencukupi. Bahkan ada juga beberapa kasus yang belum saya mengerti penyelesaiannya. Saya hanya menempatkan diri sebagai saya yang masih dalam tahap belajar. Saya sama dengan kawan-kawan saya. Sama-sama belajar. Karena dengan perasaan seperti inilah yang membuat saya pada akhirnya tidak membusungkan dada, tidak merasa saya selalu dibutuhkan. Saya pun juga membutuhkan kawan-kawan saya.

Selalu ada perasaan senang dan bahagia ketika saya bisa membantu kawan-kawan saya. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu. Ya, kawan kuliah saya ada yang bapak-bapak dan ibu-ibu. Beliau sudah seperti orang tua bagi saya.

Statistik dan Akuntansi merupakan dua mata kuliah yang sama-sama membuat kami selalu menghela nafas. Ya, mata kuliah yang ada hubungannya dengan menghitung agaknya sulit diterima dikelas saya.

Kami membubarkan diri dari belajar kelompok ini sehabis maghrib. Dengan tidak lupa membersihkan semua sampah yang kami produksi selama ritual belajar tadi dilakukan.

Ketika hendak pulang saya melihat seorang anak kecil bejalan dari arah Utara menuju Selatan. Dia berjalan tepat dihadapan saya. Saya melihat wajah yang bersih, putih, dan tampan. Usianya kira-kira 8 tahun. Pemandangan lain selain fisiknya yang good looking saya melihat ke sisi dia yang lain. Dia menenteng sebuah karung dibelakangnya. Saya melihat kaki kecilnya itu tidak mengenakan alas kaki.

Gusti. Begitu iba hati saya melihat pemandangan yang Kau suguhkan. Saya langsung teringat adik-adik saya dirumah. Bagaimana jika yang ada di posisi anak laki-laki ini adalah adik saya?

Saya terlalu lemah untuk sekedar membayangkan.

Cukup lama saya diam memperhatikan anak kecil itu. Hingga akhirnya saya tersadar dari lamunan. Saya memegang sebungkus kue ditangan saya. Saya akhirnya menyusul dia sambil setengah berlari. Mungkin anak ini mendengar suara langkah saya, hingga akhirnya dia juga hampir ingin berlari setelah menengok ke belakang.

Akhirnya dia berhenti. Saya memberikan sebungkus kue itu padanya. Dia menerima dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.


Trenyuh hati saya melihat ini semua. Ketika hampir semua orang lupa dengan hal-hal sepele seperti mengucapkan terimakasih. Kembali Tuhan mendidik saya untuk terus bersyukur akan segala hal yang saya dapat melalui anak kecil tadi. Menjadi pribadi yang harus menerima dengan legowo segala yang Dia beri. Karena ketika kita selalu mensyukuri apa yang kita dapat, maka bahagialah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar