Sore ini saya pergi ke Taman Makam Pahlawan Sayu
Wiwit. Ada janji dengan kawan-kawan kelas untuk ikut belajar bersama. Mata kuliah
Statistik agaknya membuat kawan-kawan saya (yang kebanyakan pegawai) sedikit
mengalami kesulitan. Sama hal-nya dengan mata kuliah Akuntansi yang kami dapat
di semester lalu.
Alhamdulillah, kawan-kawan mempercayakan saya untuk
dapat membantu menyelesaikan tugas mereka. Saya pun dengan sabar melayani
pertanyaan mereka semampu saya. Bukan hanya saya sebenarnya, banyak dari mereka
yang bisa dan mampu untuk dimintai pertolongan. Namun, rasa tidak pede masih
ada dalam tubuh mereka. Lalu, bagaimana dengan saya? Apakah saya percaya diri
membantu mereka?
Awalnya tidak. Karena saya masih merasa kemampuan
saya belum mencukupi. Bahkan ada juga beberapa kasus yang belum saya mengerti
penyelesaiannya. Saya hanya menempatkan diri sebagai saya yang masih dalam
tahap belajar. Saya sama dengan kawan-kawan saya. Sama-sama belajar. Karena dengan
perasaan seperti inilah yang membuat saya pada akhirnya tidak membusungkan
dada, tidak merasa saya selalu dibutuhkan. Saya pun juga membutuhkan
kawan-kawan saya.
Selalu ada perasaan senang dan bahagia ketika saya
bisa membantu kawan-kawan saya. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu. Ya, kawan kuliah
saya ada yang bapak-bapak dan ibu-ibu. Beliau sudah seperti orang tua bagi
saya.
Statistik dan Akuntansi merupakan dua mata kuliah
yang sama-sama membuat kami selalu menghela nafas. Ya, mata kuliah yang ada
hubungannya dengan menghitung agaknya sulit diterima dikelas saya.
Kami membubarkan diri dari belajar kelompok ini
sehabis maghrib. Dengan tidak lupa membersihkan semua sampah yang kami produksi
selama ritual belajar tadi dilakukan.
Ketika hendak pulang saya melihat seorang anak kecil
bejalan dari arah Utara menuju Selatan. Dia berjalan tepat dihadapan saya. Saya
melihat wajah yang bersih, putih, dan tampan. Usianya kira-kira 8 tahun. Pemandangan
lain selain fisiknya yang good looking
saya melihat ke sisi dia yang lain. Dia menenteng sebuah karung dibelakangnya. Saya
melihat kaki kecilnya itu tidak mengenakan alas kaki.
Gusti. Begitu iba hati saya melihat pemandangan yang
Kau suguhkan. Saya langsung teringat adik-adik saya dirumah. Bagaimana jika
yang ada di posisi anak laki-laki ini adalah adik saya?
Saya terlalu lemah untuk sekedar membayangkan.
Cukup lama saya diam memperhatikan anak kecil itu. Hingga
akhirnya saya tersadar dari lamunan. Saya memegang sebungkus kue ditangan saya.
Saya akhirnya menyusul dia sambil setengah berlari. Mungkin anak ini mendengar
suara langkah saya, hingga akhirnya dia juga hampir ingin berlari setelah menengok
ke belakang.
Akhirnya dia berhenti. Saya memberikan sebungkus kue
itu padanya. Dia menerima dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.
Trenyuh hati saya melihat ini semua. Ketika hampir
semua orang lupa dengan hal-hal sepele seperti mengucapkan terimakasih. Kembali
Tuhan mendidik saya untuk terus bersyukur akan segala hal yang saya dapat
melalui anak kecil tadi. Menjadi pribadi yang harus menerima dengan legowo
segala yang Dia beri. Karena ketika kita selalu mensyukuri apa yang kita dapat,
maka bahagialah kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar